tentang berjalan kaki
dan pejalanan sabtu kemarin benar benar tak direncana. spontan. bisa dibilang adalah pilihan yang jatuh karena keadaan. setelah keluar dari toko buku toga mas, uang yang tersisa hanya tinggal delapan belas ribu rupiah. mau naik taksi, jelas tak cukup. ingin naek angkutan umum, ragu. apalagi selama beberapa saat saya terdiam sambil memikirkan, tak satupun angkutan yang lewat. yah, di bali, angkutan umum sangat jarang. dan disini, memiliki kendaraan pribadi sudah menjadi sebuah keharusan. tak heran jika dijumpai satu rumah lebih dari 2 kendaraan. entah hal ini yang menyebabkan angkutan umum jarang, atau justru jarangnya angkutan umum menyebabkan kendaraan pribadi adalah keharusan. hal itu seperti tanya, telur dan ayam, mana yang duluan. begitulah, akhirnya saya memilih berjalan. tanpa tujuan. sempat terpikir, saya akan ke renon saja, lalu disambung dengan angkutan umum untuk mencapai gramedia. ah, tapi di renon angkutan umumpun tak tentu ada. jadilah saya ke arah yang berlawanan, menuju taman kota, puputan.
toga mas - taman kota. dua duanya terletak di jalan yang sama, hayam wuruk. tak jauhlah, pikir saya. dan mulailah saya melangkahkan kaki dengan congkaknya. tak jauh. lagipula, masa seh saya tak mampu. tak lama berjalan saya berhenti di toko dua puluh empat jam, membeli minuman. aha, meski congkak, sepertinya dari awal saya sudah meragukan kemampuan saya sendiri. tak yakin bertahan tanpa minuman. lalu beberapa langkah lagi, saya menemukan mesin atm. saya berhenti dan mengambil beberapa lembar uang lima puluhan. aha lagi, sepertinya saya semakin menghawatirkan diri saya. kalau tak kuat, tinggal stop taksi saja.
dan susahnya mendisiplinkan diri sendiri. langkah congkak saat pertama melangkah tergantikan oleh langkah2 pendek dan rendah, sehingga seringkali saya tersandung. ternyata toga mas - taman kota tak sedekat saya bayangkan. biasanya saya tempuh selama kurang dari sepuluh menit dengan naik motor. hari itu saya menempuhnya untuk satu jam lebih. sempat terbersit untuk menghentikan taksi atau angkutan umum yang mulai terlihat, tapi saya ingin menyelesaikan apa yang telah saya mulai.
perjalanan itu membuat saya sadar akan banyak hal. betapa jarak mampu mengempaskan kesombongan. mengikis semangat, bahkan tak jarang membuat putus asa. kalimat masih jauh, diganti dnegan sedikit lagi sampai. penghiburan untuk diri sendiri.
berlangkahlangkah sudah saya lewati, parfum escada yang saya semprotkan pagi hari, sudah tergantikan peluh dan keringat yang mengucur deras. bagaimana tidak jika itu pas tengah hari. tapi tetap, saya harus menyelesaikan perjalanan ini. lagipula, dnegan berjalan kaki saya jadi punya banyak waktu untuk mencatat hal hal yang selama ini terlewat. saya masih sempat tersenyum pada nenek pencari daun untuk dibuat sembahyang, atau mendelik pada anak kecil yang memandang saya penuh keheranan. tak jarang juga saya dibuat jengkel, karena beberapa pengendara motor membunyikan klaksonnya, bahkan ada yang berani menggoda. ah ya, disini pejalan kakipun jarang, apalagi wanita sendirian. benar benar kurang kerjan. mungkin itu yang mereka pikirkan.
berjalan kaki juga membuat saya menjadi lebih sentimentil. saya cepat merasa iba, pada bapak bapak penarik gerobak dengan muatan kasur kapuk penuh, atau pada ibu ibu penjual kue dengan keranjang yang disungginya. lalu saya mulai membandingkan diri dengan mereka. jelas saya tak seperti mereka, hanya berjalan membawa diri saja. begitulah, mungkin perasaan itu bisa jadi bukan karena saya simpati, tapi karena saya sedang mengasihani diri sendiri. padahal, bukankan saya lebih beruntung, berjalan kaki karena sebuah pilihan, bukan sebuah keharusan. apakah harus sama, baru bisa peduli?
dan berjalan sendirian, tanpa seorangpun mengenali mebuat saya semakin tak bernyali. ini hanya denpasar, satu kota yang telah sembilan tahun saya tempati. ini hanya hayam wuruk, satu jalan yang sudah lumayan saya akrabi. dengan di sekitar situ, banyak orang saya kenali. tapi kemarin, tak satupun orang mengenali saya. tak satupun orang menyapa saya. ah, betap luasnya dunia. dan saya, hanya seperti debu diantara lautan pasir. bukan siapa siapa.
setelah satu jam lebih, sampailah saya di taman kota. tak terhitung berapa kali saya melewati tempat ini, tapi tak lebih dari 3 kali saya singgahi. saya terduduk lemas. ini bukan pertama kali saya berjalan kaki. dulu, sering pada akhir pekan saya sengaja menginap di kuta, yang hanya tak lebih dari sepuluh kilometer dari tempat saya tinggal, dan berjalan kaki malam hari. menghibur diri. dengan deretan kafe dan club serta artshop untuk berhenti. tapi tidak pada perjalanan kali ini. satu hal lagi saya sadari, betapa timpangnya dunia yang saya huni.






