kenapa berdarah?
luka.
luka kenapa?
entah.
digigit nyamuk?
ga tau, ga keknya.
kena cutter?
ga tau juga.
trus?
ya, luka aja.
pagi ini, saya menemukan jari kelingking yang berdarah darah, tapi anehnya, tidak sedikitpun terasa sakitnya. apa karena sudah terbiasa?
pagi itu kususuri jalan yang dulu kulalui bersamamu, kenangan. kupunguti cerita, dan serpihan - serpihan kisah. mencoba mengeratkannya dengan bagianbagian yang telah lama terserakkan. mungkin tak akan kembali seperti semula, tapi aku harap akan baek - baek saja.
hanyalah barisan coretan yang membentuk kata, lalu berakhir pada cerita, tentang seseorang yang belajar untuk dewasa dalam dunia kekanak-kanakannya.
Wednesday, October 11, 2006
Monday, October 09, 2006
tentang kematian
hal yang selama ini ditakutkan, mau tak mau harus ditelan.
tidak, ini bukan tentang kesakitan yang paling sakit hingga menyebabkan mati rasa atas luka yang bernanah. bukan anyirnya darah ketika nadi terbelah. bukan tentang bau busuk tanah kuburan yang menyatu dengan onggokan mayatmayat terbujurkan. pun bukan tentang meregangnya nyawa ketika sakratul maut mendekat, dan memaksa bercermin pada dosa yang sudah terlalu pekat.
bukan tentang tergantinya malam kelam ketika pagi datang...
Gosh, I'm dying...
tidak, ini bukan tentang kesakitan yang paling sakit hingga menyebabkan mati rasa atas luka yang bernanah. bukan anyirnya darah ketika nadi terbelah. bukan tentang bau busuk tanah kuburan yang menyatu dengan onggokan mayatmayat terbujurkan. pun bukan tentang meregangnya nyawa ketika sakratul maut mendekat, dan memaksa bercermin pada dosa yang sudah terlalu pekat.
bukan tentang tergantinya malam kelam ketika pagi datang...
melainkan ketika tidak ada lagi kesenangan
atas setiap detik dan detail yang dilewatkan.
Gosh, I'm dying...
Friday, October 06, 2006
tentang rimba polutan
saya kembali, dari perjalanan ke sebuah kota berlimpah polusi.
apa kabar hari ini, tanya seorang teman di awal pagi kapan hari. kota berkabut, kata saya di balik kaca gedung berlantai tinggi. sejak kapan kota itu berkabut, kamu yakin, tanyanya lagi. iyah, berkabut. bukan teman, itu bukan kabut, tapi pencemaran udara tingkat tinggi.
sebelas juta orang. beribu ribu kendaraan. dan hampir 50 pusat perbelanjaan. belum lagi ratusan gedung - gedung perkantoran, berlomba ketinggian dengan apartemen - apartemen bertebaran. satu sekat jalan, diistimewakan. katanya, untuk mengurangi kemacetan. tapi entah, mungkin malah mebuat kota itu semakin menjadi pesakitan.
dan saya, yang tengah terjebak dengan kemacetan, hanya bisa memandangi riuhnya luar dari balik kaca. tampak seorang bapakbapak tua, menampung air dengan topinya. saya terdiam, masih menunggu, apa yang akan dilakukan. mungkin dia tak menyadari matamata yang memperhatikannya. yang dia pedulikan hanya panas. dan berharap topi penuh air itu akan mendinginkan kepala yang mungkin terbeban oleh ruwetnya pikiran. bersandar pada gubuk kardus berjajar megahnya bangunan.
ayolah, kita sedikit bersenang-senang. ajak teman suatu petang. akan kubawa kamu ke pengujung kebun teh. menepi dari kota yang telah membuatmu sesak, sejenak. maka saya pun mengikutinya. saya telah kelelahan. tak banyak pilihan, mungkin kebun teh akan sedikit menyenangkan. tapi ternyata waktu tak mengijinkan. saya hanya singgah, dan selanjutnya, harus kembali menghadapi kenyataan. ah, susahnya hiburan di kota metropolitan.
saya ini manusia bumi. kelamaan disitu bisa membuat saya mati. saya masih merindu matahari, yang disana tak lagi bisa dinikmati. saya masih mencintai langit biru, bukan mendung abu - abu. saya masih mencintai senja, bukan hari ketika tiba - tiba malam menjelma. dan saya suka memandang bintang, yang tak bisa tergantikan neonneon terang.
karena itu, lagi-lagi saya kembali.
**thanks bek, dats, untuk kesediannya dan kesabarannya dengerin omelanomelan-ga-penting-tapi-sangat-mengganggu-itu.
apa kabar hari ini, tanya seorang teman di awal pagi kapan hari. kota berkabut, kata saya di balik kaca gedung berlantai tinggi. sejak kapan kota itu berkabut, kamu yakin, tanyanya lagi. iyah, berkabut. bukan teman, itu bukan kabut, tapi pencemaran udara tingkat tinggi.
sebelas juta orang. beribu ribu kendaraan. dan hampir 50 pusat perbelanjaan. belum lagi ratusan gedung - gedung perkantoran, berlomba ketinggian dengan apartemen - apartemen bertebaran. satu sekat jalan, diistimewakan. katanya, untuk mengurangi kemacetan. tapi entah, mungkin malah mebuat kota itu semakin menjadi pesakitan.
dan saya, yang tengah terjebak dengan kemacetan, hanya bisa memandangi riuhnya luar dari balik kaca. tampak seorang bapakbapak tua, menampung air dengan topinya. saya terdiam, masih menunggu, apa yang akan dilakukan. mungkin dia tak menyadari matamata yang memperhatikannya. yang dia pedulikan hanya panas. dan berharap topi penuh air itu akan mendinginkan kepala yang mungkin terbeban oleh ruwetnya pikiran. bersandar pada gubuk kardus berjajar megahnya bangunan.
ayolah, kita sedikit bersenang-senang. ajak teman suatu petang. akan kubawa kamu ke pengujung kebun teh. menepi dari kota yang telah membuatmu sesak, sejenak. maka saya pun mengikutinya. saya telah kelelahan. tak banyak pilihan, mungkin kebun teh akan sedikit menyenangkan. tapi ternyata waktu tak mengijinkan. saya hanya singgah, dan selanjutnya, harus kembali menghadapi kenyataan. ah, susahnya hiburan di kota metropolitan.
saya ini manusia bumi. kelamaan disitu bisa membuat saya mati. saya masih merindu matahari, yang disana tak lagi bisa dinikmati. saya masih mencintai langit biru, bukan mendung abu - abu. saya masih mencintai senja, bukan hari ketika tiba - tiba malam menjelma. dan saya suka memandang bintang, yang tak bisa tergantikan neonneon terang.
karena itu, lagi-lagi saya kembali.
**thanks bek, dats, untuk kesediannya dan kesabarannya dengerin omelanomelan-ga-penting-tapi-sangat-mengganggu-itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)