- apakah menurutmu kita ini seringkali membohongi diri sendiri?
- saya kira begitu...
+ maksutnya ?
- iyah..membohongi diri sendiri.
- misal dengan mengatakan "ini penting..yg itu lupakan saja". pdhl sbnrnya kita sendiri tidak ingin melupakan hal tersebut.
- atau berkata, "aku baek2 saja", sedangkan sbnrnya kita sendiri tidak ingin menjadi baik2 saja.
+ hmmmm ... barangkali ...
- dan alam bawah sadar bisa jadi adalah kejujuran yang ingin memperlihatkan diri
+ iya ... barangkali ...
- hahaa..take it easy
percakapan kotak maya, dengan sebuah nama. satu sudut dnegan jendela kaca, dan gerimis yang masih saja mempesona.
hanyalah barisan coretan yang membentuk kata, lalu berakhir pada cerita, tentang seseorang yang belajar untuk dewasa dalam dunia kekanak-kanakannya.
Thursday, March 08, 2007
Monday, March 05, 2007
tentang cerita tanah dewa
perjalanan.
pernah aku ceritakan padamu tempat dimana aku menghabiskan hari?
baiklah. mungkin perlahan, lewat kata yang terbatas aku bisa melukiskan sesuatu akanku. aku hidup di satu tempat yang seringkali dikata sebagai tanah dewa.
apa coba yang kurang? ketika aku merindukan pagi dengan mentari yang cantik menyinari, tinggal kukayuh sepeda, mungkin tak perlu lebih dari 30 menit untuk sampai. ketika aku katakan aku merindukan pantai dengan pasir putih dan ombak yang mengakrabi kaki, tak lebih dari 1 jam aku sudah bisa mencengkeramai. ketika kubilang aku merindukan senja, tinggal kupilih tempat, pada jajaran gedung tinggi, pantai atau bangku panjang, dengan ditemani segelas kopi. lalu, ketika aku rindu untuk melihat bintang, aku tinggal katakan padanya, yang selanjutnya akan menggenggam tanganku menyusuri malam tanpa perlu terang neon untuk menyaingi. sawah, sungai, gunung, laut, bukan lagi barang mahal. dekat, meski tetap saja buatku rasanya mewah. belum lagi tempat makan bertaraf internasional berjejer menggoda.
apalagi yang kurang? sepanjang jalan mata mata memandang riang, seperti keramahtamahan telah terpatri erat berbaur senyum yang senantiasa mengembang. entah memang seperti itu, atau senyum terpasang karena sebuah kewajiban. tak perlu risaukan, karena disini semua aman. meski segala sesuatu terjual, dan dijadikan barang dagangan. dari pantai, gunung, sungai, lalu tarian, bahkan senyuman. apa yang tidak bisa diuangkan? apa yang tidak bisa membuat senang?
gemerlapnnya dunia ditawarkan. bersanding dengan kesakralan yang diagungkan. bahkan, nilai sakral sendiri seringkali jadi pertanyaan, ketika semuanya sudah menjadi tontonan. seperti sinetron, kadang segala sesuatu dibuat dalam proses kejar tayang.
belum, belum selesai aku bercerita. kemarin lagi - lagi aku bersepeda. menempuh perjalanan kebagian laen dari tanah dewa. negeri tak terjamah, temanku penah berkata demikian. dari awal dia sudah berpesan, jangan penuh pengharapan, karena kita tak lagi akan menjejak tanah kesayangan. tinggalkan kerinduan pada pantai, pada senja, pada secangkir kopi moccha, dan juga pada senyuman mesra. karena disini, kenyataan berkata beda.
maka mulailah aku berkelana. hanya satu jam, satu jam waktu yang kuperlukan untuk sampai disana. sama seperti satu jam yang kuhabiskan untuk menggapai pantai berpasir putih dan ombak yang mengakrabi kaki. tapi jangan bayangkan segala keindahan, karena disini kutemukan segala ketimpangan. jika di tanah dewa aku tak mengenal kelaparan, disini aku benarbenar melihat kesedihan. seperti kata teman, lupakan pantai, ombak, gunung, dan segala keindahan, karena disini hanya berjejal batu karang bekas letusan. gersang. bahkan pohonpun tumbuh dengan enggan.
tidak ada senyuman ramah, kecuali muka masam menahan amarah. tak terkata memang, tapi raut membilang semuanya. sunggingan pahit dan muka kelelahan tersebar dimana mana. tak ada sapaan hangat, yang ada hanya kata - kata penuh paksaan. tak berhasil, maka alih alih meminta minta. seribu, dua ribu, lima ribu, berapa saja ditawarkan hanya untuk mendapatkan rupiah. bujuk rayu, sampai dengan ancaman. tiba - tiba semua rasa aman menghilang. aku ketakutan. karena tak ada yang lebih menyeramkan dari manusia ketika dia sedang haus dan kelaparan.
lalu, masihkah kukata tak ada yang kurang? sedang disini satu jurang menganga lebar, jurang kesenjangan. siapa yang hendak disalahkan? sang penguasa ketika dia sibuk membangun hotel berbintang berjejer mewah dan lupa, kalau dibagian lain belum terjamah. pada jaman, yang terlalu cepat berjalan sedang di bagian lagi masih ada yang tertatih pincang. atau pada dewa, yang konon katanya mengutuk mereka untuk tetap menjadi peminta minta seumur hidupnya?
catatan singkat atas kesedihan. sisa perjalanan mendekati trunyan. dan bangli, kota di timur bali. dimana kesenjangan dan kemiskinan adalah kenyataan. tak lagi mimpi. empat maret dua ribu tujuh.
pernah aku ceritakan padamu tempat dimana aku menghabiskan hari?
baiklah. mungkin perlahan, lewat kata yang terbatas aku bisa melukiskan sesuatu akanku. aku hidup di satu tempat yang seringkali dikata sebagai tanah dewa.
apa coba yang kurang? ketika aku merindukan pagi dengan mentari yang cantik menyinari, tinggal kukayuh sepeda, mungkin tak perlu lebih dari 30 menit untuk sampai. ketika aku katakan aku merindukan pantai dengan pasir putih dan ombak yang mengakrabi kaki, tak lebih dari 1 jam aku sudah bisa mencengkeramai. ketika kubilang aku merindukan senja, tinggal kupilih tempat, pada jajaran gedung tinggi, pantai atau bangku panjang, dengan ditemani segelas kopi. lalu, ketika aku rindu untuk melihat bintang, aku tinggal katakan padanya, yang selanjutnya akan menggenggam tanganku menyusuri malam tanpa perlu terang neon untuk menyaingi. sawah, sungai, gunung, laut, bukan lagi barang mahal. dekat, meski tetap saja buatku rasanya mewah. belum lagi tempat makan bertaraf internasional berjejer menggoda.
apalagi yang kurang? sepanjang jalan mata mata memandang riang, seperti keramahtamahan telah terpatri erat berbaur senyum yang senantiasa mengembang. entah memang seperti itu, atau senyum terpasang karena sebuah kewajiban. tak perlu risaukan, karena disini semua aman. meski segala sesuatu terjual, dan dijadikan barang dagangan. dari pantai, gunung, sungai, lalu tarian, bahkan senyuman. apa yang tidak bisa diuangkan? apa yang tidak bisa membuat senang?
gemerlapnnya dunia ditawarkan. bersanding dengan kesakralan yang diagungkan. bahkan, nilai sakral sendiri seringkali jadi pertanyaan, ketika semuanya sudah menjadi tontonan. seperti sinetron, kadang segala sesuatu dibuat dalam proses kejar tayang.
belum, belum selesai aku bercerita. kemarin lagi - lagi aku bersepeda. menempuh perjalanan kebagian laen dari tanah dewa. negeri tak terjamah, temanku penah berkata demikian. dari awal dia sudah berpesan, jangan penuh pengharapan, karena kita tak lagi akan menjejak tanah kesayangan. tinggalkan kerinduan pada pantai, pada senja, pada secangkir kopi moccha, dan juga pada senyuman mesra. karena disini, kenyataan berkata beda.
maka mulailah aku berkelana. hanya satu jam, satu jam waktu yang kuperlukan untuk sampai disana. sama seperti satu jam yang kuhabiskan untuk menggapai pantai berpasir putih dan ombak yang mengakrabi kaki. tapi jangan bayangkan segala keindahan, karena disini kutemukan segala ketimpangan. jika di tanah dewa aku tak mengenal kelaparan, disini aku benarbenar melihat kesedihan. seperti kata teman, lupakan pantai, ombak, gunung, dan segala keindahan, karena disini hanya berjejal batu karang bekas letusan. gersang. bahkan pohonpun tumbuh dengan enggan.
tidak ada senyuman ramah, kecuali muka masam menahan amarah. tak terkata memang, tapi raut membilang semuanya. sunggingan pahit dan muka kelelahan tersebar dimana mana. tak ada sapaan hangat, yang ada hanya kata - kata penuh paksaan. tak berhasil, maka alih alih meminta minta. seribu, dua ribu, lima ribu, berapa saja ditawarkan hanya untuk mendapatkan rupiah. bujuk rayu, sampai dengan ancaman. tiba - tiba semua rasa aman menghilang. aku ketakutan. karena tak ada yang lebih menyeramkan dari manusia ketika dia sedang haus dan kelaparan.
lalu, masihkah kukata tak ada yang kurang? sedang disini satu jurang menganga lebar, jurang kesenjangan. siapa yang hendak disalahkan? sang penguasa ketika dia sibuk membangun hotel berbintang berjejer mewah dan lupa, kalau dibagian lain belum terjamah. pada jaman, yang terlalu cepat berjalan sedang di bagian lagi masih ada yang tertatih pincang. atau pada dewa, yang konon katanya mengutuk mereka untuk tetap menjadi peminta minta seumur hidupnya?
catatan singkat atas kesedihan. sisa perjalanan mendekati trunyan. dan bangli, kota di timur bali. dimana kesenjangan dan kemiskinan adalah kenyataan. tak lagi mimpi. empat maret dua ribu tujuh.
Friday, March 02, 2007
tentang sistem
well, saya belom pernah sih berada di posisi kamu itu. dimana saya harus jadi orang yg nentuin nasib orang laen. but life will find the way, dew.
minggu yang berat buat saya. satu bulan ke depan terpaksa diawali oleh satu peristiwa yang tidak mengenakkan. saya harus mengambil keputusan, antara kebaikan untuk perusahaan atau, kebaikan untuk perasaan saya. memang keputusan itu tidak mutlak ada di tangan saya, tapi dengan mengantarkan seseorang ke proses pemutusan hubungan kerja dari perusahaan itu sama aja saya ikut andil menentukan nasib dia.
ah, tapi bukankah hukum kapitalis tidak lagi mengenal rasa enak dan ga enak. seperti pembicaraan dengan seorang teman, kosmosnya adalah keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan. jika tidak, disitulah memungkinkan adanya chaos. untuk menjaga keseimbangan tetap pada tempatnya, harus mengorbankan banyak hal. lagi2 masalah kepentingan. tidak ada jiwa, tidak ada hati, dan mungkin tidak ada tuhan. karena tuhan adalah uang. jika sudah seperti ini, apa masih bisa dikata takdir? sedangkan semua ini terjadi karena kepentingan kepentingan. invisible hand, huh?! dan secara tidak langsung, sayalah invisible hand itu sendiri.
dan ternyata benar. menjadi sadar itu capek, menjadi sadar itu melelahkan. tapi mungkin memang tidak ada kehidupan yang lebih mengesankan dari semua ini bukan? tidak naif, hidup tidak selalu harus melawan. seperti teman saya bilang, ada saatnya harus menjadi batu, dan ada saatnya menjadi air.
hahahha..salut saya sama kamu karena masih ngejalanin idup di dalem kemonotonan seperti kehidupan di denpasar dengan tetep punya kesadaran semacam itu. berarti kamu gak cocok idup di dalem sistem kapitalis.
dan saya hanya takut mati justru ketika saya masih bisa bernafas.
percakapan2 dengan kamu. terima kasih untuk menjadikan saya kertas untuk kamu tulisi satu waktu. btw, tidakkah kamu pikir url kita mirip? ah, sudahlah. saya pernah mengatakannya sebelumnya bukan?
Subscribe to:
Posts (Atom)