ternyata ini tidak hanya tentang aku dan kamu.
tidak tentang percakapan - percakapan panjang dengan desahan kekecewaan yang kuempaskan setiap kali kudengar namanya kau sebutkan. tawatawa diantara perbincangan kalian, meski sesekali masih kudengar namaku kau sebut perlahan. pesan pendek yang terkirimkan, dan kubaca diam-diam sembari berkubang pertanyaan. meski tak juga kutemukan jawaban.
tidak pada kebencian akan kebodohan yang aku kira. kukutuki diriku, kuringkus dalam air mata. kukira, cinta tidak pernah sempurna untuk kita. apa yang salah dari semuanya.
pun tidak tentang pertengkaran pada malam-malam sesudahnya. kata tak pernah cukup mewakilkan rasa, dan gulana tak juga mau sirna. lalu kita akan mengulang lagi hal yang sama, kita siapkan babak baru, cerita usang keesokan harinya. lupa, seolah semua baik-baik saja.
acuhkanlah prasangka, karena memang sepertinya tidak ada apa - apa.
begitulah muasalnya, hingga kutemukan deretan namanya. ini realita. tak lagi prasangka. tidak tentang tanya-tanya. tidak tentang rasa curiga tanpa aku tau apa sebabnya. tidak hanya tentang aku dan kamu, melainkan juga dia. tentang permainan kalian yang membuatku gila.
dan aku disini begitu bodohnya. percaya, bahwa rasa tak pernah berbeda. mengamini setiap doa, agar kita bisa bersama. naifnya. kukira cinta cukup untuk kita. kamu bahagia, dan kalian tertawatawa?
untuk setengah hidupku yang telah kau bawa, tinggalkan saja. telah kusiapkan setengah hatiku untuk kembali membawanya. mengeratkan serpihan, dan membuang kebencian. bukankah telah kudapatkan jawaban, atas segala keraguan. relakan janji, untuk tidak selesai. lupakan rasa, yang ternyata ilusi belaka.
hanyalah barisan coretan yang membentuk kata, lalu berakhir pada cerita, tentang seseorang yang belajar untuk dewasa dalam dunia kekanak-kanakannya.
Tuesday, May 20, 2008
Monday, May 19, 2008
tentang kenyataan
cobalah teguk air laut 8 liter, jika dari tegukan pertama sampai terakhir rasanya masih asin, brarti dunia tetap berputar. (*)
dengan atau tanpa saya. memang dunia tetap berputar sebagaimana biasanya. matahari masih saja bersinar, dan hujan masih saja mengguyur perlahan. seperti pagi ini mungkin. dalam perjalanan panjang kesekian. diantara lamunan. dan sesekali kembali berpijak pada kenyataan.
tidur hanya perkara kapan, sekarang atau nanti akan dibangunkan. dan memang harus tersadar, kembali mengemasi barang bawaan, dan melanjutkan perjalanan. memang harus begitu, lagilagi perkara waktu.
* terima kasih untuk obrolan hari ini. meskipun saranmu konyol sekali.
Thursday, May 15, 2008
tentang maaf (*)
mungkin benar seperti yang kamu katakan, maaf terkadang hanya seperti es krim untuk anak kecil. (**)
manisnya terjilati perlahan, sambil menahan tangis yang belum terempaskan. karena tidak baik menikmati makanan sambil menangis bukan? seperti tak mensyukuri rejeki. itulah merananya air mata, yang selalu bergandeng erat dengan duka, padahal bisa jadi itu karena bahagia. tapi bagaimanapun juga, tangguhkan sebentar, ini mungkin tak akan lama. biarkan sejenak kau diterbangkan, oleh manis yang tak bertahan.
seperti es krim pula, harganya tak seberapa. murah, dan bisa ditemukan dimana - mana. pada pertengkaran sepasang pemuda yang lagi dimabuk cinta, pada tukang sampah yang lalai mengerjakan tugasnya, pada pejabat yang mengingkari janjinya, pada papan pengumuman yang tertempel di seantero bandara. maaf, katanya. maaf dimana-mana. ada disini, ada disana. untuk mendapatkannya, tak lebih dari seribu rupiah saja. tergantung dari kesalahan, seandainya bisa diuangkan, pastilah kita kaya.
seperti es krim. nikmatilah, sampai jilatan terakhir, sebelum air putih menggantikan. karena setelahnya, kamu harus kembali tersadarkan. manis itu tiba - tiba menghilang, dan kamu akan temukan dirimu yang kehausan. lalu kamu akan kembali merengek - rengek, entah menangisi manis yang terlewat, atau sedih yang semakin menguat. seperti itulah kembali pada kenyataan. perih memang, karena luka masih menganga.
dan maaf tak juga membuat semuanya usai.
catatan :
* masih tentang hal yang sama, pada tulisan sebelumnya
** quoted by devari
manisnya terjilati perlahan, sambil menahan tangis yang belum terempaskan. karena tidak baik menikmati makanan sambil menangis bukan? seperti tak mensyukuri rejeki. itulah merananya air mata, yang selalu bergandeng erat dengan duka, padahal bisa jadi itu karena bahagia. tapi bagaimanapun juga, tangguhkan sebentar, ini mungkin tak akan lama. biarkan sejenak kau diterbangkan, oleh manis yang tak bertahan.
seperti es krim pula, harganya tak seberapa. murah, dan bisa ditemukan dimana - mana. pada pertengkaran sepasang pemuda yang lagi dimabuk cinta, pada tukang sampah yang lalai mengerjakan tugasnya, pada pejabat yang mengingkari janjinya, pada papan pengumuman yang tertempel di seantero bandara. maaf, katanya. maaf dimana-mana. ada disini, ada disana. untuk mendapatkannya, tak lebih dari seribu rupiah saja. tergantung dari kesalahan, seandainya bisa diuangkan, pastilah kita kaya.
seperti es krim. nikmatilah, sampai jilatan terakhir, sebelum air putih menggantikan. karena setelahnya, kamu harus kembali tersadarkan. manis itu tiba - tiba menghilang, dan kamu akan temukan dirimu yang kehausan. lalu kamu akan kembali merengek - rengek, entah menangisi manis yang terlewat, atau sedih yang semakin menguat. seperti itulah kembali pada kenyataan. perih memang, karena luka masih menganga.
dan maaf tak juga membuat semuanya usai.
catatan :
* masih tentang hal yang sama, pada tulisan sebelumnya
** quoted by devari
Subscribe to:
Posts (Atom)