Thursday, March 19, 2009

reborn

mungkin ini waktu dimana saya sebaiknya menyerah untuk menulis. tepatnya, menulis seperti yang dulu biasa saya lakukan. mencoba membangkitkan kenangan, lalu menuliskannya. mencoba membangkitkan khayalan, lalu menuliskannya. atau mencoba untuk meresapi semua hal, lalu menuangkannya.

hal - hal yang sebelumnya menjadi inspirasi saya untuk menulis. hal yang ternyata sekarang tak lagi saya rasakan. dan sia - sia saya memaksa diri untuk menuliskan hal yang sama.

karena memang segala sesuatu berubah, berevolusi. termasuk saya dan ingatan. termasuk saya dan keadaan. termasuk apa yang saya rasakan.

jika dihitung, genap 8 bulan sedari terakhir saya menulis. bukan waktu yang pendek untuk saya yang mengaku sangat gemar menulis, yang seringkali menuliskan apa saja untuk sekedar pengingat, hal remeh temeh yang mungkin tidak penting. agak ironis memang, postingan terakhir saya sebelum saya berhenti menulis justru berjudul usaha melawan lupa. dan setelah itu, saya justru berhenti menulis. membiarkan semua kejadian lewat begitu saja, tanpa sedikitpun mencatatkannya. saya hidup hanya untuk detik itu saja. selebihnya, apa yang lewat seperti mimpi, dan apa yang akan terjadi tak ubahnya khayalan yang sekali tepuk akan menghilang.

delapan bulan memang waktu yang saya perlukan untuk terpuruk dan akhirnya bangkit. jika ada orang yang setelah terjatuh dia akan buru - buru bangkit, meski dengan luka disana - sini, berharap luka akan smebuh seiring perjalanan. maka saya bukan tipikal seperti itu. saya lebih suka bermalas-malasan, tidur-tiduran dan membiarkan luka itu sembuh. atau jika perlu, saya akan memerosokkan diri saya sampe ke jatuh yang paling paling, sehingga saya tak akan merasakan kesakitan yang lebih lagi.

dalam waktu itu saya mati suri. jika menulis buat saya adalah nafas, maka sangat sedikit udara yang saya hirup dan hembuskan. dan saya menikmati kematian itu. sesekali iming-iming tentang kehidupan menggelitik saya, tapi saya sadar, saya belum siap untuk hidup lagi, untuk menghirup udara lebih banyak dan menghembuskannya. paru - paru saya masih berlubang disana - sini, lutut saya maish lecet, dan tergesa - gesa tak akan membantunya.

lalu, jika kali ini saya menulis, apakah itu berarti saya sudah bangkit dari kematian? hmmm..seperti yang pernah dikatakan seorang teman,

you know, when you got pain at the most, and you still alive instead of dead, after you get through this pain, all you can feel is reborn. you feel like have a new life, getting fresh, stronger, and all the pain afterward is..nothing.


itulah yang saya rasakan. reborn, and getting stronger. sesuatu yang membuat saya menjadi orang yang berbeda dari sebelum delapan bulan lalu. sesuatu yang hentakannya tak lagi sama dengan delapan bulan lalu. dan karena itu saya sadar, sia - sia saya mencoba menulis seperti sebelumnya, menghayalkan kenangan dan jaman dimana saya bisa menulis tentang apa saja. karena saya adalah seseornag yang baru, yang sudha terevolusi, maka sebaiknya saya menerima keadaan ini, menjalani masa kini. bukan mengais - ngais masa lalu.

dan apa yang tersisa dari delapan bulan ini. saya hanya menemukan potongan peristiwa - peristiwa pendek yang sempat tercatat di blog saya yang laen, tentunya tanpa efek dramatis seperti yang biasa saya lakukan, hahaha. selebihnya hanya menguap begitu saja. dan saya tak lagi menyesalinya, setiap peristiwa mempunya cara sendiri untuk diingat, seperti setiap orang mempunyai cara sendiri - sendiri untuk menyembuhkan lukanya...

Monday, February 23, 2009

tentang membangkitkan inspirasi

simpang enam. malam hari.

aku mencoba untuk kembali menulisi. mengais - ngais inspirasi. entah pada sepotong malam. dimana aku dan kamu duduk di tempat yang sama untuk kesekian kalinya. berbicara tentang apa saja. tidak ada sentuhan, bahkan genggaman tangan. karena tanpa itupun kita telah tau, mata telah berbicara tentang rasa yang tersimpan disana.

tapi kali ini aku sendiri, ditemani secangkir kopi.

di depanku duduk sepasang pemudi. tidak berhadapan seperti kita, melainkan bersebelahan. mungkin dengan begitu jarak yang ada semakin tidak ada, dan kulihat mereka bercengkerama manja. aku iri, tentu saja. kapan terakhir kali kita melakukannya?

mengingatmu tak pernah melelahkanku. karena kamulah energi itu. jika pada akhirnya kita tak bersama, aku tak pernah menyesali perkenalan yang pernah ada. tak pernah menggrutu tentang akhir yang tak sempurna. bukankan memang begitu, semua tak selalu terjadi seperti yang kumau. dan ingatan tentangmu, biarlah hanya sampei segitu.

nostalgia kali ini membuatku merasa sepi. sendiri.

*kuperas rasaku untukmu, hidup...

Saturday, July 19, 2008

tentang usaha melawan lupa

"...aku lupa kapan terakhir melihat kunang - kunang."
-message received from 08180735****-

sebenarnya ingin kujawab saat itu juga pesan pendek yang kamu kirimkan padaku siang ini, hanya saja kukira kapasitas layar ponselku tak akan mampu menampung segala yang ingin kukatakan padamu.

jika kamu lupa kapan terakhir kali kamu melihat kunang - kunang, kurasa akupun tak jauh beda. mungkin juga aku tak selama kamu. hanya saja memang ingatanku sangat buruk. kukira hal ini sudah sering kukatakan padamu. sejak aku mengeuthanasia memoriku, kurasa aku jadi gampang melupakan sesuatu. bayangkan saja aku lupa apa arti parang jati dalam buku bilangan fu-nya ayu utami yang sekarang bahkan belum terbaca sampai selesai. parah bukan? aku selalu kagum pada orang - orang sepertimu, yang memperlakukan ingatan tak ubahnya catatan - catatan kecil tertata di laci, dengan hati sebagai kunci. yang bisa kamu panggil ketika kamu menginginkannya. ingatanku tak ubahnya kliping - kliping tak tergunting, melainkan tersobek tak beraturan dengan beberapa bagian yang hilang. bukan tertata, melainkan berserakan. sehingga aku tak bisa memilahnya, mana yang seharusnya kuperlukan, dan mana yang seharusnya kutaruh belakangan. ingatanku muncul dan tenggelam tak beraturan. dan hati sebagai kunci? lupakan saja, ketika kukira hatiku sudah tak lagi ada gunanya.

lalu, hmm...aku hampir kehilangan fokus pembicaraan. tadi kita membahas tentang kunang - kunang ya? ketika kuterima pesanmu, aku pikir lama kelamaan kunang- kunang tak ubahnya sebagai mitos belaka. mungkin nanti anak - anak kita akan mengenalnya demikian, ketika kita saja sudah lupa kapan terakhir kali melihatnya. seperti dinosaurus, yang hanya ada di jaman purba. dan masa kini adalah purba untuk waktu yang nanti. mungkin juga dia maish berkeliaran di sekitar kita, hanya saja terang membuat kita mengacuhkannya. bukankah cahayanya hanya berharga bila gelap tiba? karena lampu kota lebih lebih menggiurkan dengan gemerlapnya. yang sayangnya, terang kebanyakan hanya akan menjemukan. lalu kita akan kembali merindukan sentimentil kunang - kunang dan bau angin malam. begitulah, kita akan kembali menginginkan apa yang telah tiada. dasar manusia.

tapi terlepas dari kita mencaci lampu kota dan modernisasi untuk kunang - kunang yang semakin jarang, memang hal itu tak bisa dihindari. kehilangan, kepergian, kepunahan, akan selalu terjadi. seperti hidup, bahkan ada waktunya untuk mati. seperti duka, yang nantinya akan menguap juga. seperti ingatan yang ingin kita kenang, yang tiba waktunya kita akan lupa. dan waktu adalah saksi dari semuanya. hanya saja kadang kamu, aku, seringkali lupa. karena waktu ada di dimensi ketiga, diluar kita berdua.

mungkin ini pula jawaban dari rayuanmu yang tak pernah tersurutkan. mungkin belum saatnya, belum saatnya aku menghapus catatan - catatan yang pernah kutuliskan. seperti yang baru saja kamu lakukan. karena aku masih berusaha untuk memperpanjang ingatan. berusaha mengabadikan hal remeh - temeh, untuk memunggungi kefanaan. ya, dengan mencatatkannya sedemikian rupa. seperti yang sekarang ini sedang kulakukan.

karena dari catatan itulah kamu dan aku tau, kita pernah berada disitu. juga kunang - kunang, terang bulan, luka, air mata, cinta, rasa, atau entah apa. ya, masing - masing orang mempunyai cara berbeda untuk menyimpan ingatan. yah, goresan ini adalah usaha untuk melawan lupa. karena seperti yang dikatakan hannibal lecter dalam red dragon,

our scars have the power to remind us that the past was real.