Tuesday, November 03, 2009

society

purnama kedua untuk kita, seharusnya bersama.

tapi malam ini aku disini, sendiri. ah, sesungguhnya tidak benar-benar sendiri. ada puluhan orang di lapangan ini, sambil menikmati makan malam. diterangi lampu taman yang temaram, yang semakin tenggelam oleh purnama ketika mendekati sempurna.

gelas - gelas wine, beer dan tawatawa tak berjeda, dunia begitu bahagia, bukan?

tidakkah ini seperti cerita lama, ketika keriangan justru membuat kita asing, sayangku? gelak tawa dan segala sendau gurau itu terasa palsu, tidakkah kamu merasa begitu? bahwa terkadang tawa bukan berarti lucu, apalagi jika topeng - topeng cantik dan tampan itu tersibakkan dan menyisakan wajah - wajah busuk mengerikan. ketika borok tertutupi oleh senyum - senyum penuh kemunafikan. dan keakraban tak lebih dari basa - basi usang, ketika kita tahu, sayangku.. bahwa dibelakang semua adalah tikaman menyakitkan.

sekumpulan orang - orang ini menyesakkanku. seperti drakula yang menghisap habis darah mangsanya, mereka seakan tak ingin menyisakan satu molekul udarapun untukku bernapas. kemunafikan mereka begitu melelahkanku. bertahan tanpa melakukan apapun ternyata begitu menguras tenaga. bukannya tak bisa, tapi buat apa? karena kita tak seperti mereka. pesakitan.

dan seharusnya kamu disini, inginku begitu. karena ketika denganmu, peduli setan dengan semua itu.

sometimes, those people take so much of our life. and rest nothing, or less.

Friday, October 30, 2009

menulis, lagi.

adalah perjalanan, yang kembali membangkitkan keinginan untuk menuliskan cerita, kembali mengusik ketenangan yang selama ini tanpa sadar telah menghadirkan kenyamanan yang melenakan, dan menggelitik untuk melakukan petualangan - petualangan selanjutnya.

pertemuan dengan seorang teman, perbincangan pendek di sela kesibukannya untuk menyanyi malam itu, terbawa hingga sampai hari ini. menulislah lagi, katanya. permintaan yang singkat dan sederhana. tapi tak begitu dengan sejuta alasan yang saya punya. dari males, sibuk dan tak ada waktu.

hingga akhirnya saya tau, semua itu adalah alasan untuk menyembunyikan yang sebenarnya. lelah. iya, saya lelah untuk menulis. karena menulis membuat saya berfikir, dan berfikir itu melelahkan. menulis membuat saya menjadi lebih sensitif, menjadi lebih perasa, dan itu terkadang juga melelahkan. saya melihat daun terlepas dari dahan dan terjatuh ke tanah, lalu saya tidak bisa melepaskan pikiran tentang kefanaan, betapa semua yang ada adalah sementara. lalu saya akan teringat orang - orang terkasih di sekeliling saya, lalu sayapun merasakan kelelahan yang sangat.

atau pada sore hari dan saya berpapasan dengan guratan merah pada langit senja, maka tak bisa dihentikan pikiran saya akan malam, akan bintang, akan hal yang begitu indah jika dilihat dari kejauhan, dengan jarak. lalu saya teringat akan beberapa hal yang selama ini hanya indah jika diangankan. dan pikiran tak berhenti disitu, lalu sayapun kelelahan.

hal - hal seperti itulah yang membuat saya begitu merasakan kelelahan yang sangat, dan akhirnya sayapun memilih untuk tidak menulis. karena dengan begitu saya tidak berfikir, melainkan memilih untuk menikmati apa yang tersajikan di depan saya, saat itu, begitu saja. tanpa lagi berusaha untuk mempertanyakan lebih jauh tentang kemungkinan atau ketidakmungkinan yang ada di belakangnya.

namun sepertinya saya lupa, atau lebih tepatnya mengabaikan, bahwa menulis juga mampu membuat saya "hidup". karena hidup bukan hanya tentang berapa banyak udara yang telah saya hirup hari ini, melainkan juga tentang pergerakan. bukan hanya fisik, tapi juga hati dan pikiran. dan menulis membuat hati dan pikiran saya bergerak, lalu tumbuh. dan wajar jika pergerakan itu terkadang begitu melelahkan. saya lupa jika menulis adalah sebuah perjalanan, yang akan memperkaya saya akan pengalaman.

saya lupa, menulis bukan hanya soal usaha mengingkari kefanaan dan keputusasaan melawan lupa.

Thursday, July 02, 2009

unconditional life

what's wrong for being nobody?


pembicaraan pagi ini denganmu. pada persimpangan ritme kita. ketika kesadaranku belum sepenuhnya pulih, dan kesadaranmu yang mulai menipis terampas oleh lelah dan gelas-gelas wine setelah makan malam.

ya, apa salahnya untuk menjadi tidak tahu? apa salahnya untuk menjadi tidak cantik? apa salahnya untuk menjadi tidak penting? apa salahnya untuk menjadi tidak pintar? apa salahnya menjadi antitesis dari segala standard yang dipatok oleh publik , atau beberapa orang?


karena ada pada satu waktu, semua itu membuatku muak. mungkin jika hanya sebuah tuntutan, aku masih bisa menerima. toh urusan aku penuhi atau tidak, adalah hal lainnya bukan? tetapi ketika tak terpenuhi dan mulai berbuntut judgements, aku semakin muak.

tapi, kita tak pernah bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan bukan? dan menghawatirkannya, membuatku seakan kembali ke titik nol. sia - sia.

karena memang tak salah untuk menjadi bodoh, norak, jelek, apapun namanya, selama tak ada orang lain yang dirugikan bukan? dan pencitraan yang ingin ditampilkan, pada akhirnya tak lebih dari label harga baju di swalayan yang dibuang di tempat sampah, ketika harga sesungguhnya adalah kenyamanan ketika memakainya.

apa artinya zara, apa artinya rotelli, apa artinya guess, apa artinya kenzo, apa artinya kepura-puraan mengerti padahal sebenarnya tidak peduli.

so, dear.. put off any kind of expectations on me. i could be everybody, or nobody.

dan bukankah lebih indah jika kita bisa bersama tanpa harus ada salah satu memakai topeng karena yang lain menginginkan demikian? karena mungkin pada satu waktu, kamu akan menemukanku duduk manis pada fine dining di restaurant dengan menu seharga gajiku, atau pada kaki lima di emperan toko baju. atau dimanapun. bagaimanapun. karena hidup buatku bukanlah konsep kondisonal. tidak ada kesempatan untuk ketidakmungkinan.