Monday, March 28, 2011

mengasah pisau

otak itu seperti pisau, semakin lama tak digunakan, akan semakin cepat karatan.

saya masih ingat sekali kalimat itu, terus menerus terngiang-ngiang di kepala. kalimat yang dari kecil sudah seperti senjata untuk ibu menyuruh saya belajar. baca apa aja, klo sempet yang dipelajari krn bagaimanapun otak itu perlu latihan, blablabla. begitu kalimat yang selalu ibu saya bilang. kalimat yang seringkali berakhir dengan kata2 tadi, klo ga dipake nanti akan karatan.

dan sepertinya sekarang saya benar2 merasakan apa artinya kata-kata itu. hampir 1,5 tahun, atau tepatnya 16 bulan sejak saya mengajukan surat pengunduran diri terakhir kalinya, dan sejak saat itu, bisa dibilang saya memang sangat jarang memakai otak saya :D jangankan untuk mempelajari banyak hal, untuk membaca buku yang sudah numpuk di rak pun tak pernah. berdalih tak punya waktu lah, sibuk ngurus anak lah, ga ada asisten lah, dan lah-lah lain yang sebenarnya bersumber dari kemalasan saya.

masih ada beberapa buku yang belum dibaca, majalah yang hanya disentuh beberapa lembar, dan blog yang tentu saja terabaikan. berapa kali saya mencoba konsisten untuk menulis, tapi berakhir dengan 1 postingan saja untuk sekian bulan.

ketika asyik menikmati kemalasan, tiba-tiba saya mendapat tawaran. atau lebih tepat jika disebut tantangan, untuk kembali mengasah kemampuan (tsahhh!) untuk menulis. iya, menulis. sesuatu yang selama ini menjadi hobby dan pelarian di waktu yang kadang-kadang, mau tak mau menjadi sebuah profesi baru. jangan bayangkan menulis novel, atau cerpen. bukan seperti itu.

saya tak harus menulis panjang lebar seperti postingan, tak juga harus menyentuh seperti sebuah karya sastra. yang perlu dilakukan hanya mengemas kata menjadi menarik, menjadi sebuah bahan perbincangan. seperti basa basi di sebuah pesta, yang pada akhirnya melahirkan percakapan. masalahnya adalah, saya bukan seseorang yang suka bergaul apalagi basa-basi.

pertama kali ditawari, saya kira akan mudah. saya iyakan saja, toh belum tentu ada tawaran selanjutnya, pikir saya saat itu. apalagi, apa sih susahnya membuat alter ego? tapi ternyata tidak segampang yang saya bayangkan, sodara-sodara! dunia tetap berputar meski saya berhenti menulis. dan ketika saya mencoba kembali menulis, dunia tulis menulis sudah jauh meninggalkan saya. *lebay*

dan akhirnya disinilah saya, bukan hanya kembali mempergunakan pisau yang telah lama tidak digunakan, sayapun harus berusaha lebih keras untuk mengasahnya. fewh!

hal berat lainnya adalah menyesuaikan ritme saya dengan kata-kata yang sudah berlarian. keluar dari zona nyaman yang terbiasa dengan "remember password" ke dunia manual, salah satunya saya harus mencoba-coba berbagai macam password untuk masuk ke "dashboard" blog ini. dan berakhir dengan ..I reset my password :))

banyak sepertinya yang harus saya kejar, saya pelajari, saya asah. semoga kali ini, dunia mau berbaik hati memperlambat lajunya agar saya bisa mengikuti. meskipun tetap, saya ingin dimaklumi,

something wrong with my mind, or better i'd say brain. or memory. or age. or whatever.

Sunday, February 06, 2011

sekian cerita dan masih akan ada lagi.

apalah hidup jika tidak mengalami.

sebuah pesan masuk ke telepon genggam saya pagi ini, bahkan bisa dibilang terlalu pagi untuk kabar yang tidak menyenangkan. seorang teman baik mengabarkan bahwa perempuannya -yang juga teman baik saya-, baru saja mendarat di pulau seberang, dan mulai hari ini akan menetap disana, entah sampai kapan.

dan tiba - tiba ada perasaan aneh menyelinap dalam hati, antara sedih kehilangan dan kecemburuan. bagaimana tidak cemburu, jika tempat yang dituju adalah "rumah" yang harus saya tinggalkan.

kenapa dia pergi, tanya saya pada si lelaki.

karena pada saat aku seumur dia, aku pergi dari jogja ke jakarta. jadi sekarang waktunya dia meninggalkan jakarta, katanya.

jawaban yang membuat saya terhenyak dan seketika menghapuskan kecemburuan saya. tak ada alasan lain, selain harus pergi. menemukan sesuatu yang tidak dicari. atau mencari sesuatu yang tidak dimengerti. pergi untuk entah.

belakangan ini, seringkali perasaan rindu akan sebuah perjalanan menghinggapi pikiran saya. saya merindukan pikiran impulsif untuk pergi ke suatu tempat, kenekadan untuk bisa sampai kesana, bau asap kendaraan, lalu lalang. perjalanan yang lebih banyak saya lakukan untuk melarikan diri.

saya tak sadar, bahwa sekarangpun saya sedang melakukan sebuah perjalanan, seperti yang dilakukan teman saya tersebut. menuju sebuah fase baru dalam hidup saya, seperti 14 tahun lalu ketika memutuskan meninggalkan kota kelahiran. perjalanan yang sesungguhnya bukanlah berapa kota yang telah disinggahi, melainkan sampai sejauh mana hati bisa dibawa pergi. tidak melulu untuk menghindari, melainkan menyongsong apa yang akan ditemui.

kota baru, status baru, pekerjaan baru. sudah agak basi untuk mengatakan baru, ketika saya sudah menjalaninya lebih dari setahun. tapi memang begitulah buat saya, semua masih terasa baru. saya masih gamang, bahkan seringkali saya tergagap. sepertinya saya terlalu lama berkutat di zona nyaman. apa yang saya songsong, dan apa yang saya tinggalkan tarik menarik menimbulkan kebimbangan. saya lupa, hidup itu maju, dan masa lalu tertinggal jauh di belakang.

seperti teman saya, -saya atau orang - orang lain-, memang tak bisa selamanya diam, stagnan. semua bergerak, berjalan. jika ditanya apa lagi yang saya cari, saya pun tak yakin bisa menjawabnya. apa yang dari dulu saya impikan, telah saya dapatkan. tapi tak ada yang abadi selain perubahan, bukan? dan perjalanan membuatnya demikian.

dua puluh delapan tahun. sekian cerita dan masih tidak berhenti. hingga nanti.

P.S. "genggam tanganku erat, dan kuatkan. pada diamku kamu tau, aku mencintaimu.."

Monday, December 20, 2010

pikiran penting tak penting

belakangan, ada beberapa malam dimana saya terjaga hingga larut. berguling - guling tanpa bisa memejamkan mata, padahal saya tau saya harus bangun pagi keesokan harinya, menyiapkan bubur saring untuk anak lanang. terkadang, hal yang mengganggu pikiran bukanlah sesuatu yang penting, bahkan bisa dibilang sangat tidak penting. semisal, apa saya sudah merendam beras untuk bubur atau belum. masalahnya, dari pikiran tak penting itu seringkali merembet ke hal - hal tak penting lainnya, sehingga jika banyak hal tak penting yang dipikirkan, maka membuat saya beranggapan hal itu menjadi penting. membingungkan, tapi semacam itulah. tapi ada kalanya saya memikirkan tentang sesuatu yang lebih penting dari beras untuk bubur. apalagi jika melihat anak lanang yang tertidur pulas disamping saya, seringkali melintas pikiran tentang hal - hal yang telah terjadi dalam kehidupan saya. tak jarang pikiran itu berakhir ke satu pertanyaan: what have i done? and what haven't i done yet at this age? pertanyaan sejuta umat, dengan jawaban yang sangat subjective tentunya. karena target untuk masing - masing orang tidak sama. seiring bertambahnya usia, pertanyaan itu menjadi lebih menakutkan untuk dijawab, meski hanya dalam hati. seorang teman mengirimkan pesan di hari ulang tahunnya, "doakan saja semoga aku lekas tidak sendiri." dan teman lainnya berkata di sela perbincangan, "semoga tahun depan kami bisa menikah." seandainya mereka bukan teman - teman baik yang saya kenal sekian tahun, mungkin tak jadi soal. tapi ketika mendengar kalimat tersebut meluncur sekarang, mengingat bagaimana kami sekian waktu lalu, jadi terasa janggal. mungkin sendiri terkadang begitu menakutkan, tapi menjalani komitmen dengan orang lain untuk berjalan bersama juga tak mudah. dua kepala, dua pemikiran. mungkin yang menyatukan adalah hati. setahun lebih saya menikah, dari berdua hingga bertiga. benturan, argumentadi dan tak jarang juga menghadapi jalan buntu. tapi kata ibu saya, memang begitulah yang namanya sebuah keluarga. yang ideal bukan berarti selalu sama, melainkan yang bisa menjembatani ego dan memaklumi perbedaan. berdua memang tak gampang, tapi bisa menjadi lebih ringan. setidaknya tanjakan dan beban dipanggul berdua. bukan begitu, sayang?

**beginilah jika tulisan terlalu lama didiamkan. ntah apa yang sebelumnya ingin saya tuliskan.