Monday, December 12, 2011

merindukan perjalanan



:untuk hanny

aku selalu bergetar setiap kali membaca catatanmu. pada kota - kota, pada benda - benda, juga pada orang - orang yang bahkan namanyapun mungkin tak pernah kamu tahu. semuanya begitu runut, semuanya berurut. seperti rangkaian puzzle dan permainan rubik yang dimainkan seorang teman di malam ketika aku berada di teras kantor kehujanan.

manis. melarutkan. hingga akhirnya aku tanpa sadar telah terjerat di pusaran perasaan yang teraduk - aduk menyakitkan. antara perasaan iri, dan melankolia yang begitu menyesakkan dada.

perjalanan. ya, perjalanan tak pernah gagal untuk menyeretku beranjak dari tempat dimana aku sedang berada. pun hanya ketika membaca ceritamu.

bau aspal, secangkir kopi di tempat asing, dan sepatu butut yang telah lama bertengger di raknya. catatan akan kota- kota, flaneur, dan imajinasi yang tak pernah mati. yang lebih lagi, kerinduan untuk menyatu dengan diri sendiri ketika disitu tak ada siapapun, atau apapun yang dimiliki.

lalu perlahan aku akan menggoreskan pena, mengabadikan kenangan seperti yang kamu punya. cerita untuk setiap kota. segaris wajah yang mungkin segera kita lupa, hanya saja hangat senyumnya selalu tertinggal di dada. selalu saja begitu. tak pernah ada yang benar - benar berhenti, tapi ada saja yang tertinggal ya? mungkin seperti itu pula kenangan, bukan gambaran yang bisa kita kenang kemudian. tapi ingatan akan sebuah peristiwa, menghadirkan perasaan hangat dan mungkin juga kerinduan.

dan perjalanan selalu saja menggoda dan menarik - narik untuk kita berturut serta bukan?

Friday, November 04, 2011

selanjutnya apa?

jarum jam sudah menunjukkan angka tujuh, dan yang lainnya di angka dua. di luar nampak mulai gelap, suara klakson mobil bersahutan seolah ingin segera didahulukan. bebal menafikkan pandangan mata dimana kukira mobil - mobil lainnya berjejer tak bergerak di depan. tapi memang seperti itulah penduduk jakarta. entah mereka pada buta, atau memang enggan untuk melihat adanya kemacetan dan terus saja menekan klakson yang tak lebih menambah penat belaka.

satu gelas dengan ampas kopi, gelas lain berisi air putih yang hampir tandas, dan satu piring menyisakan tiramisu yang (lagilagi) kukira sudah hampir kering.

sesekali melihat layar ponsel. sama saja, riuh dimana -mana. manusia berkicauan, tanpa tahu siapa yang akan mendengarkan. dan akupun terkadang demikian. hanya untuk memuntahkan lompatan pikiran, ide, sarkasme dan kadang tak lebih hanya ingin menarik perhatian.

jadi ingat perkataan seorang teman beberapa waktu yang lalu, "kamu tau...kamu tak cocok melakukan apa yang kamu lakukan sekarang."

dan demi hari aku makin paham apa yang dia katakan. dunia terlalu riuh, dan seringkali kukira aku tak ada disitu. pesan seperti deretan iklan yang muncul sesekali lalu tenggelam. pikiran tak ubahnya sebuah celethukan tanpa pikir panjang. emosi menguap seiring dengan kata yang ditumpahkan di linamasa. lalu selanjutnya menghilang.

tak ada lagi sepi, tak ada lagi ruang untuk bermain dengan kata - kata. semua menjadi begitu tergesa. persis seperti apa yang terjadi dijalanan di luaran sana.

selanjutnya apa?

aku seruput kopi, tegukan terakhir. satu jam tanpa deadline, satu jam yang begitu sunyi. dan kembali, aku meragukan diriku lagi..

Friday, August 12, 2011

home, not just a house

kadang kami masih terkaget - kaget, terkadang kami juga masih tersenyum2 girang, setengah tidak percaya bahwa semua terjadi begitu cepat, jauh lebih cepat dari apa yang kami bayangkan.

bagaimana tidak, jika hampir 2 tahun lalu ketika kami menikah, tak pernah terbayangkan kami akan memiliki rumah, dalam waktu yang cepat. yaks, meskipun bagi beberapa orang 2 tahun bukan wkatu yang cepat, bahkan ada yg justru mempersiapkan rumah sebelum menikah, tidak berlaku bagi kami.

saya dan suami terbiasa hidup mandiri dari kami masih sama - sama lajang. besar kecil penghasilan tak pernah jadi masalah, toh pada akhirnya akan habis begitu akhir bulan. rencana menikah yang hanya sekian bulan, tetap membuat kami keras kepala tak menerima uluran dana dari orang tua. dengan tabungan kami berdua, toh akhirnya upacara pernikahan terselenggara juga, dengan pesta kecil tapi kami selalu bisa berbangga bahwa kami menikah memakai uang sendiri. :D

jangan bayangkan kehidupan keluarga kecil penuh rencana pada awal2 pernikahan kami. dengan tabungan yang habis untuk pernikahan, toh pada akhirnya saya tetap bisa melahirkan si anak lanang, dan membesarkannya dengan jerih payah sendiri.

dan sampailah kami disini...

minggu lalu pihak developer memberitahukan bahwa rumah kami sudah selesai dibangun. bukan rumah yang besar, tapi kukira akan cukup untuk kami bertiga, atau berempat jika kelak akan ada adik si anak lanang.*wink*

toh dari yang saya baca, rumah kecil justru akan membuat hubungan kami semakin dekat, bukan? :D

dan hari ini, geli rasanya ketika kami memilih -milih akan seperti apa desain dapur nanti, warna tembok kami, dan mau dibuat seperti apa kamar si kecil kelak. tak pernah terbayangkan bahwa semua ini begitu menyenangkan, terlepas dari harganya yang tentu akan menguras tabungan kami kemudian. hahaha. kami hanya ingin menjadikannya rumah, tempat dimana hati kami berada dan tujuan untuk pulang.