Monday, February 03, 2014

Semur Apa Saja

Jadi, pernah suatu hari kakak lagi main ke rumah dan ngobrol dengan si mbak di rumah. Kata kakak, di antara semua saudara,  saya adalah yang paling tidak bisa masak. Bisanya cari duit. Entah itu pujian atau celaan. Hahaha. 

Tapi memang, gaya saya memasak tidak masuk kriteria "bisa memasak" di keluarga. Ibu yang memang jago memasak, masih memakai pakem2 lama. Misal bumbu sebisa mungkin diuleg dan bukan diblender. Kemiri harus digoreng dulu, goreng tempe harus kering dengan api sedang hampir kecil, yada yada yada. Dan kakak2 saya, kebanyakan juga demikian.

Saya? Karena guru saya adalah pinterest, maka memasak itu kalau bisa sepraktis mungkin, toh hasil akhir yg penting rasa kan? :D Suka otak atik dan modifikasi resep berdasar bahan yg ada. Karena itu kakak dan ibu saya selalu bilang..saya tidak bisa memasak. Ha!

Contohnya semur ini nih..kalau di lemari es sedang banyak bahan2 sisa yg jumlahnya sedikit2, saya akan memasaknya menjadi semur atau brongkos. Resep aslinya semur entah apa, tapi resep modifikasi ini ngga mengecewakan kok.

Bahan - bahan :
- 7 siung bawang merah
- 5 siung bawang putih
- 1 cm jahe
- 1 sdm ketumbar bubuk
- 1/4 sdt merica bubuk
- 1 batang serai
- 2 lembar daun salam
- kecap manis
- saos teriyaki

Isi semur :
Ayam, telur, tahu, tempe, wortel, kentang (tergantung kesediaan bahan)

Cara membuat :
1. Blender semua bumbu ( bawang merah, putih, jahe, ketumbar, merica ) , lalu tumis dg daun salam dan serai.
2. Masukkan semua isi semur, tambah air dan kecap dan garam.
3. Rebus sampai berkurang airnya.

Demikian saja dan selamat makan siang.

Posted via Blogaway

Sunday, February 02, 2014

Choco Baileys Bread Pudding

Saya tipikal orang yang sayang untuk membuang makanan dan bahan2 makanan. Seringkali sengaja untuk membiarkan bahan makanan itu hingga lewat kadaluarsa, baru membuangnya.

Sebenarnya sih dimaksudkan untuk berjaga kalau iseng saya untuk membuat makanan kambuh, seperti hari ini. Apalagi ditambah musim hujan yang sepertinya menjadi alasan permisif untuk membuat camilan.

Maka jadilah keisengan saya dari mengaduk bahan2 yg sisa dan mumpung ada menjadi...Choco Baileys Bread Pudding!

Bahannya :
- 6 lembar roti tawar sisa
- 2 telur
- 1 cup susu UHT plain
- 2 sdm gula pasir
- 1/2 sdt garam
- 1/4 baking powder
- coklat blok dan kismis secukupnya
- 1/2 cup baileys

Cara :
- aduk telur, susu, baking powder, gula, garam sampai merata.
- masukkan roti tawar yg disobek asal, aduk hingga menyerupai bubur.
- masukkan kismis dan coklat blok yg diparut kasar, juga baileys. Aduk hibgga tercampur.
- kukus selama 25 menit. Oiya, saya kukus karena malas mengeluarkan oven. Kayaknya dioven akan lebih enak deh, dg modifikasi tambahkan 2 sdm mentega sebagai pengganti garam.

Dan voilaa...demikian hasilnya :D


Posted via Blogaway

Friday, December 06, 2013

Mesin Waktu ke(m)Bali

Akhir bulan lalu, tidak terasa empat tahun sudah saya tinggal di Jakarta setelah meninggalkan Bali. Dan selama 4 tahun itu, baru sekali saya mengunjungi Bali lagi. Biasanya di bulan - bulan ini ingatan saya tentang Bali berkali lipat dari bulan biasanya. Melankolis :D

Tinggal di Jakarta ternyata tak seburuk yang saya sangka sebelumnya. Disini banyak tempat - tempat menyenangkan untuk didatangi, bahkan jika beruntung beberapa tempat itu tak jauh beda dengan Bali. Jika sedang melintas di beberapa tempat ini, saya bahkan kadang merasa sedang di Bali.

Pertama, Kemang, yang pada jam setelah macet sangat mirip dengan Legian. Deretan artshop berdinding kaca, beberapa pohon kamboja yang berdiri di sisi jalan, bangku - bangku dan trotoar lebar untuk berjalan. Dulu sewaktu tinggal di Mampang, kadang sengaja kesini hanya untuk nostalgia. Menyenangkan!

Kalau rindu suasanya Seminyak, bisa ke Jalan Jaksa di sekitaran Jakarta Pusat. Konon, jalan ini terkenal untuk para backpacker, sayangnya sangat jarang saya kesini karena lokasinya yang berada di luar trayek dan errr...untuk kesini harus melewati Bunderan HI yang macet setiap hari.

Sebenarnya ada hal lain yang bisa membawa saya sejenak seolah berada di Bali, yakni spa. Hohoho. Spa buat saya adalah Bali, apalagi memang ada beberapa salon di Jakarta yang mempunyai standard spa seperti di Bali, salah satunya Martha Tilaar Spa.

Beberapa waktu lalu ketika serangan kangen Bali melanda, sengaja saya manfaatkan kesempatan madol dari kantor untuk ke gerai Martha Tilaar yang ngga jauh dari kantor *grin*, di sekitaran Gandaria. Tinggal 10 menit jalan kaki, rasanya sudah sampai ke Bali, hahaha.

Sebenarnya di gerai yang ini, interiornya lebih mirip spa yang di Yogyakarta. Unsur Jawa di interiornya kental sekali, dengan lampu2 antik gantung dan keramik yang saya kira dipesan di Tegel Kunci. Untuk interior di dalam ruanganpun menggunakan kain-kain batik Jawa dan lurik (kalau tidak salah) , dan kursi-kursi bulat khas Jawa Tengah. Mungkin ini pula yang menjadikan gerai Martha Tilaar di Gandaria ini instead of vintage, jadi berasa tua. Hahaha.




Untuk menetralisir untuk Jawanya, kemarin saya ambil Candle Massage yang Exotic Frangipani. Yup, kamboja adalah hal lain yang Bali-banget! Kalau di daerah lain kamboja identik dengan kuburan, di Bali kamboja bisa menjadi bunga yang ada dimana saja. Setiap ke Salon Spa, saya memang lebih memilih treatment yang lebih banyak pijitannya, karena memang lebih suka dipijit daripada treatment2 cantik lainnya. Rasanya lebih puas! Hahaha.
 
Candle Massage ini memang menggunakan lilin yang sudah dicairkan dan massage Oil. Jangan bayangkan lilin panas disiramin ke tubuh ya, karena dituangnya ketika sudah agak dingin kok! Lama treatment ini kurang lebih 90 menit, tapi kalau bertemu therapist yang oke, bisa dapat bonus. Hahaha. Seperti pas saya kesana, di Mbak therapistnya, Mbak Santi, yang berasal dari Ende, ternyata pernah tinggal di Bali selama hampir 3 bulan untuk di trainning, jadilah kita ngobrol selama treatment sampe hampir...2 jam! Jadi konon Martha Tilaar ini memberikan pelatihan semua therapist nya dengan karantina di Bali (di daerah Tuban, ngga jauh dr tempat saya kerja sebelumnya)  sampai mereka lulus dan mempunyai standard service yang sama.  Karena itu kalau dari segi treatment, di Gandaria maupun di gerai lain sama. Tidak akan mengecewakan!

Treatment Candle Massage ini memang hanya terdiri dari pijatan dan berendam, jadi waktu 90 menit memang benar2 maksimal untuk melakukan hal itu. Massagenya menggunakan teknik traditional massage, jadi pijatan-pijatannya pun berasa. Si Mbak Santi ini pinter meluruskan otot2 yang tegang, terutama bagian punggung dan leher karena kebanyakan di depan komputer :D Bedanya dengan si mbok-mbok pijat di rumah, setelahnya kulit saya jadi lembut dan wangiiiiii....

Kalau ngga suka dengan treatment pijet-pijet yang memang agak hardcore ini, bisalah memilih treatment2 cantik lainnya. Atau kalau hanya mau potong rambut atau manicure pedicure pun di Martha Tilaar ini juga bisa. Untuk harga Candle Massage kemarin sama dengan treatment Spa di Bali, worth it! Untuk harga treatment lain bisa juga tanya langsung di Twitter mereka @Spa_MT , sangat responsif kok!

Untuk saya yang berkantor di Gandaria, salon ini lumayan efektif lah jadi tempat madol, apalagi jika sedang kangen Bali seperti saat ini :')