Showing posts with label warung kopi. Show all posts
Showing posts with label warung kopi. Show all posts

Thursday, December 03, 2015

coffee journey : tanamera dan obrolan warung kopi

saya menyukai kopi.

ini sudah kesekian kalinya saya mengatakan hal itu. tapi hingga bertahun-tahun kemudian, tetap rasanya tak adil untuk mengatakan ini kopi enak - ngga enak, kopi bagus - atau ngga bagus. karena untuk menikmati kopi, buat saya tak cukuplah kopi itu sendiri. di setiap cangkir kopi yang disajikan, ada cerita tentang kopinya sendiri --jenisnya, tanah dia tumbuh, petani yang menanamnya, cara dia dikeringkan, disangrai, hingga menjadi kopi-- dan cerita tentang ngopi. yang terakhir inilah yang membuat saya merasa makin tak adil untuk bisa memberikan label tertentu pada kopi yang diminum.

kopi tak berhenti pada apa variannya, bagaimana karakternya, flavour and acidity , tapi juga bagaimana kopi itu disajikan, dimana, oleh siapa dan dalam suasana seperti apa. apakah pada pagi yang setengah mengantuk, pada siang yang gerahnya bikin sakit kepala, atau pada sore yang muram menjelang hujan, seperti sekarang.

dan beruntungnya saya, sekarang ada warung kopi baru yang tinggal jalan kaki dari kantor, 5 - 10 menit sampai. Tanamera Coffee namanya.


warung kopi yang pertama berdiri tahun 2013 ini termasuk baru, tapi memang trend coffee shops belum lama. kalau dulu kita cukup bahagia dengan kopi tubruk seduhan rumah, atau gerai bergambar putri duyung untuk yang lebih fancy, beberapa tahun terakhir ada lebih banyak pilihan tempat ngopi yang menyajikan kopi indonesia yang bukan kopi tubruk. ya bisa juga sih minta ditubruk, di beberapa coffee shop mau melakukannya. beberapa yang agak songong ngga mau. sigh. 

Tanamera di Jln. Ahmad Dahlan 16 kebayoran baru ini adalah gerai kedua, yang pertama ada di thamrin. ketika beberapa bulan terakhir saya suka mengunjungi warung-warung kopi untuk memanjakan lidah sekaligus memperluas ensiklopedia (halah!), banyak yang merekomendasikan Tanamera. hanya saja karena lokasinya di daerah thamrin dan di perkantoran, membuat saya enggan. jauh dan bukan tempat ideal saya untuk ngopi kecuali terpaksa. tuh kan, tempat warung kopi juga penting buat saya..

di ahmad dahlan ini tempatnya lumayan nyaman, bukan gedung perkantoran atau ruko, dengan meja yang cukup banyak, di dalam maupun diluar ruangan. dindingnya sebagian besar kaca, kayaknya bakalan pas untuk menikmati hujan kala ngopi. buka dari jam setengah 7 pagi hingga 10 malam, jadi bisa memesan kopi pagi-pagi untuk mengusir kantuk, atau bisa juga menjadi pilihan hangout ketika malam sambil nunggu suami coaching lari. errrrr... itu saya -__-"



sayangnya tak banyak makanan yang disajikan, adanya hanya kue-kue atau roti-roti (?) sebagai pairing kopi. tapi berhubung yang di ahmad dahlan ini jadi satu gedung dengan letter D, sebuah restoran-, mungkin bisa memesan makanannya di situ. saya sendiri tidak mencobanya, dan hanya memesan apple crumble sebagai pendamping daily brew hari ini : Flores Honey.

flores honey meruntuhkan bayangan saya akan kopi manggarai yang karakternya bold alias kuat, karena kopi yang disajikan dengan metode V60 ini sungguh fruity hingga rasanya juicy! halah!

sebenarnya banyak pilihan jenis kopi. dari mandhailing, malabar hingga papua, tapi karena saya yakin akan kesini lagi, bisalah coba yang lainnya kapan-kapan. dan kopi-kopi itu juga dijual dalam bentuk whole bean alias bijian.


yang kurang dari warung kopi ini hanyalah playlistnya, sepi. hanya ada suara mas-mas barista yang lagi ngobrolin mesin kopi dan suara mbak-mbak cempreng yang lagi bahas pengakuan sebagai istri karena dinikahi secara legal. trus ada juga suara mas-mas di sebelah saya, yang usaha nyomblangin mas baristanya dengan teman dia, hanya karena mas baristanya muka arab. apeu banget. trus jadi tahu kalau ada komunitas arab di jakarta sini, jadi tahu kalau cewek arab harus menikah dengan cowok arab (tapi cowok arab bebas mau menikah dengan siapa saja) , dan jadi tahu kalau tuanku imam bonjol dan pangeran diponegoro sesungguhnya adalah orang arab yang karena migrasi , ganti nama jadi nama lokal. endebra endebre yang bikin kening berkerut.

pas ngerasa gengges gini, baru nyadar kalau belum ngidupin 8tracks meski earphone sudah dicolokin dari tadi..

Friday, May 31, 2013

Jayapura, dan kopi yang tak ada.

Bepergian selalu membuat saya berdebar - debar. Antara senang sekaligus ketakutan. Antara gembira sekaligus khawatir. Dan itulah yang saya rasakan ketika memulai perjalanan ke enam kota. Jogja, Pontianak, Lampung, Makassar, Aceh dan Jayapura.

Mungkin inilah yang membedakan saya dulu dan sekarang. Kalau dulu kadang kegembiraan saya menyambut sebuah perjalanan lebih besar daripada menghawatirkan hal - hal lainnya. Sekarang, porsi keduanya diputar balikkan.

Dan semakin besar pula kekhawatiran saya menjelang perjalanan ke Jayapura. Jika sebelumnya ke Aceh yang memakan 3 jam perjalanan saja membuat saya deg-degan, kali ini dua kali lipatnya.

Baiklah, mari saya ceritakan saja.

Perjalanan saya ke Jayapura sebenarnya sangat singkat, hanya 3 hari saja. Itupun untuk bekerja. Berangkat pada Kamis malam (23 Mei), dan setelah transit masing-masing 45 menit di Makassar dan Biak, akhirnya saya sampai di Jayapura jam 7 pagi waktu setempat. Perbedaan waktunya hanya 2 jam saja, tapi kondisi geografisnya sangat jauh berbeda. Jam 7 pagi wkatu Jayapura seperti pukul 9 pagi waktu Jakarta. bertiga ( saya, Dita dan Bang Enda ) menginap di Aston Jayapura. Perjalanan bandara ke kota Jayapura sendiri memakan waktu 1,5 jam, jarak yang benar-benar jauh. Karena kedatangan kami yang terlalu pagi dan kamar belum siap ditempati, kami menunggu kurang lebih 1 jam di lobby sebelum akhirya bisa check in dan istirahat.

Jayapura sendiri jauh dari bayangan saya sebelum sampai disana. Kota ini ternyata jauh dari kata primitif. Meskipun belum ada bioskop, tapi sudah ada Mall Jayapura disana. Penduduknya pun banyak yang transmigran, dari berbagai daerah di Indonesia. Dibandingkan dengan Makassar, pekerja di bidang jasanya jauh lebih bisa melayani.



Setelah istirahat, kamipun kelaparan dan mencari makan. Berkat rekomendasi seorang teman, Ziipy, siang itu kami makan di restaurant seafood , Cirita Seafood , yang terletak di RUko Sentra Bisnis, dan langsung menghadap ke teluk. Untuk makanan, mirip -mirip dengan masakan Manado atau Bali. Bumbu Kuning yang mirip ayam betutu, dan sambal Rica-Rica yang mirip dengan sambal matah. Jadi semua saya suka! Saya pun sempat mencicipi Papeda, yakni makanan pengganti Nasi yang terbuat dari sagu. Untuk ini saya hanya bisa bilang...yucks!

Makanan lain yang saya coba adalah Ikan Mujair di RM Nusantara. Ada 2 rumah makan Nusantara di Jayapura, satu di belakang Mall Jayapura (yakni di tengah kota) dan satunya lagi di Sentani, tidak terlalu jauh dari Bandara Sentani. Jika ingin membuat janji, pastikan di RM Nusantara yang mana, karena Jayapura ke Sentani sendiri seperti saya bilang tadi, 1,5 jam :D

bang @enda , @_dita, @dewikr dan @ziipy
Di Jayapura yang istimewa adalah seafoodnya, sekaligus pemandangan kota pada malam harinya. Untuk pemandangan kota malam hari ini bisa memilih makan malam di Rumah Makan Bagus Pandang, yang memang sangat bagus pemandangannya. Bisa juga menikmati malam di Bukit Pemancar, atau Angkasa, hanya saja keduanya tidak ada restaurant terkenal yang bisa dicoba.

Cukup mengenai makanan. Kali ini mari kembali ke kotanya. Jayapura yang dibangun dengan memotong/meratakan bukit, memiliki area sangat terbatas untuk dikembangkan. Selain itu, akses kota ini dengan kota-kota di luarnya pun sangat minim. Jalan yang berbukit-bukit membuat kotanya sulit diakses dari kota lainnya. Pemandangannya pun standard, dengan  teluk dan danau Sentani yang hanya bisa dinikmati dari ketinggian. Jika ingin bermain di pasir, maka harus menyetir setidaknya 1 - 2 jam sebelum akhirnya tiba di Harlem atau Base-G Beach. Sayangnya, lagi-lagi kami tak sempat kesana.


Object wisata lain yang bisa dikunjungi disini adalah Douglas McArthur Hill. Yakni base-camp militer di jayapura. Untuk ke McArthur ini, harus menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam ke arah Sentani, jadi bisa dikunjungi ketika perjalanan ke Bandara Sentani. Pemandangan dari bukit ini adalah pemandangan Danau Sentani dan Bandara, memukau! Foto disamping adalah buktinya, sangat indah bukan?

Di Jayapura, sangat jarang ditemui kedai kopi. Jika di kota-kota lain saya menyempatkan ngopi di warung kopi, di Jayapura saya ngopi di Coffee Shop. Mungkin orang - ornag jayapura tidak punya tradisi ngopi kali ya?

Terlepas dari kekecewaan saya karena tidak adanya warung kopi, Jayapura sangat istimewa. Dan saya merasa beruntung pernah mengunjunginya. Mungkin nanti, saya akan kembali. 

Saturday, June 21, 2008

tentang kopi

:as

aku tak ingin berkata muluk padamu, tentang kopi. karena kamu tau, seberapa sedikit pengetahuanku akannya. tidak lebih dari gelas-gelas cappuccino, espresso, kopi tubruk, latte, kopi krim. yang terakhir adalah awal dari cerita kita.

ya, kopilah yang ada disela obrolan tentang pekerjaan yang semakin susah saja. tentang kantormu yang penuh ibu - ibu paruh baya dan menyibukkanmu seputar pertanyaan bagaimana menutup file excel, bagaimana mengirim email, dan pertanyaan - pertanyaan yang semakin membuatmu geleng-geleng kepala. bahkan sampai pertanyaan, bagaimana jika kamu membantu mereka mengangkat galon aqua. kesemerawutan yang ternyata membuatmu bertahan.

kopi pulalah yang ada diantara kita, ketika aku mulai mengeluhkan tentang hidupku. berpindah dari satu kantor ke kantor lainnya. meninggalkan kenyamanan yang hanya akan membuatku bosan. katamu, hobiku adalah mengobrak-abrik tananan. lalu kamu akan menyarankanku meminum kopi, setiap kali aku mulai gelisah dan merasa kelelahan.

kopi yang mendekatkan kita.

pernah pada pertemuan kedua, kita harus berpindah beberapa tempat hanya untuk mendapatkan segelas kopi ketika tengah malam mulai menjelang. dulu gerai kopi tak seramai sekarang, dan kita berakhir di gerai dekat persimpangan. menghabiskan 6 jam dengan berbicara dan tertawa - tawa, sampai mbak-mbak penjaga mengusir kita.

insiden itu memalukan ya. untung hanya sekali saja. karena setelahnya kita lebih banyak menghabiskan waktu di tempatku. berbincang berjam - jam sampai bosan tanpa pengusiran. pada setiap kedatanganmu, aku menyiapkan segelas kopi yang berbeda, kecuali campuran cream-nya. kamu menyukai coffee cream, bukan espresso yang nendang, atau kopi tubruk yang terus terang. kamu menyukai kehangatan. dimulai dari segelas kopi instan merek a, lalu merek b, lalu aku mulai meracik kopi sendiri. dan kamu adalah obyek penderita, kelinci percobaan untuk setiap segelas kopi yang aku cipta. enak. begitu jawabmu setiap kali kutanyakan tentang rasanya.

dari kamu aku belajar apa itu esensi kopi. bukan hanya sebatas sesendok kopi, dua sendok gula, dan dua sendok cream. tapi lebih dari itu. karena sesekali kumasukkan 2 sendok kerinduan, 2 sendok rasa senama cinta, 2 sendok kenyamanan, sesendok extra kehangatan, dan kali lain sesendok kesedihan atau beberapa sendok kekecewaan. tergantung pada keadaan. mungkin karena itu ritual minum kopi kita jadi menyenangkan.

bahkan ketika sekian tahun kita tak pernah lagi melakukannya bersama - sama, aku masih jelas mengingatnya. dan semalam, ketika dalam perjalananku ke rumah teman, aku teringat potongan pembicaraan kita beberapa waktu yang lalu. kamu satu - satunya orang yang menyebutku barista. terlalu berlebihan untukku, tapi kuiyakan saja. mungkin sebenarnya perlu kutambahkan, baristamu. karena hanya kamulah yang pernah benar - benar merasakan kopi yang kubuat dengan hatiku.

segalanya memang tak lagi sama. tapi aku tak pernah menyesal kita pernah berpapasan di persimpangan dan sempat berjalan bergandengan tangan. aku pernah menjadi baristamu, dan kamu adalah pelanggan yang setia menunggu di teras rumahku. dan ingatan akan potongan pembicaraan itu, kurasa adalah isyarat, apa yang akan menggenapkan hidupku yang mulai berkarat.

kurasa suatu hari, mungkin kamu akan menemukanku, diantara tumpukan gelas dan bubuk kopi. tak hanya menjadi baristamu, melainkan barista siapa saja, yang sedang mencari jiwanya.

Wednesday, March 05, 2008

tentang kopi dan kekhawatiran


jika terus menerus menambahkan bersendok-sendok gula ke dalam cangkir ini, kamu akan menghianati pahitnya kopi.


..........

dari balik jendela kaca. gelas kesekian hari ini. tidak lagi coffee cream instan rasa jagung seperti biasanya, melainkan kopi pekat gelap warna hitam. dengan ampas - ampas yang masih mengambang di bibir cangkir, dan uap yang mengepul panas. kebiasaan baru beberapa waktu terakhir, sejak pertama mengecap tumbukan kopi seorang ibu-ibu tengah baya dan langsung jatuh cinta padanya. membayangkan sebatang rokok melengkapi, tapi kebiasaan itu sudah lama tak lagi dilakukannya. karena memang dia bukan pecandu nikotin, hanya sesekali. seperti ketika bergelasgelas bir diteguknya, hanya sebatas keinginan sementara.

lagipula sekarang dia tidak mungkin bisa menikmati keduanya. air-conditioner di ruangan itu menyala. dan diapun sedang malas untuk melakukan apa-apa, selain melihat dan membiarkan angannya merajalela. diluar hujan, dan kendaraan berdesakan di lampu merah depan kantornya. satu hal lagi yang dia sukai di tempat ini, jendela kaca membuatnya leluasa untuk memandang keluar, tanpa orang menyadari dirinya ada. seringkali dia geli, jika ada orang yang tiba-tiba berhenti, untuk bercermin di kaca dimana sebenarnya orang-orang itu sedang berhadapan dengannya. geli melihat tingkah laku mereka. sebegitu mengkhawatirkannya kah penampilan, dan percaya diri hingga harus bercermin disini. ataukah sebenarnya memang kodrat manusia terlahir dengan narsisme bawaan, hingga tak bisa untuk tak mengagumi diri mematut di setiap cermin yang dilewati.

atau bisa jadi di setiap pikiran manusia, ada yang namanya persaingan genetika. selain narsisme, bawaan lainnya adalah kompetisi. keinginan untuk menjadi selalu lebih dari yang lainnya. menyebabkan kekhawatiran diri hingga akhirnya membuat grogi. ya, faktanya bahwa dunia selalu memberikan permakluman untuk orang-orang yang mempunya kelebihan, terutama muka yang rupawan. mengingatkan dirinya akan film korea, 200 ponds of beauty. kecantikan bukan lagi soalan hukum relativitas, untuk menepis pesimisme dan rendah diri. kecantikan adalah tuntutan kalau tak ingin dibilang keharusan, mungkin karena itu produk pemutih dan pelangsing laku di pasaran.

kalau memang begitu, kenapa dia tak bisa menepiskan pikiran, memaafkan bersendok-sendok gula yang telah dituangkan. meminum kopi manis yang tak lagi panas, dan bergegas. pulang.

It will teach you to love what you're afraid of
After it takes away all that
You learn to love
But you don't always
Have to hold to your head
Higher than your heart

You better hope you're not alone
You better be hoping you're not so...
**Jack Johnson ~ Hope