Tuesday, September 05, 2006

tentang garis akhir

.....
+ but it was the first time for me to touch the dead body
- and..how does it feel?
+ weird.
.....


mendekat, dan menyakitkan.
tapi jika saatnya tiba, tak kan terasa apa.
:sampai jumpa di peradilan.

Monday, September 04, 2006

tentang penyakit musiman

belakangan ini, kerjaan saya (loh, kok kerjaan?!), adalah mengunjungi satu festival ke fesival laen. maklum, selaen musim dingin, di bali juga sedang menjamur musim festival. dari festival layang - layang, festival HAM (yang saya ga tau singkatan dan maksudnya apa), sampe festival tiap desa.

hampir tiap hari saya mendapatkan informasi dari milis akan digelarnya satu festival di satu tempat. saya sendiri sebenarnya kurang tertarik, karena dari pengalaman2 sebelumnya, saya sedikit kecewa tiap kali melihat festival layang - layang. lah, gimana nggak klo tiap taon bentuknya itu- itu saja. kreatif dikit kek..
tapi kata si didats, festival layang2 internationalnya yg di tanah lot lumayan bagus - bagus.

taon ini, festival yang pertama saya datangi, sanur village festival 2 minggu lalu. hasilnya, saya kecewa. tidak ada apa - apa disana, kecuali pameran yang sepertinya hanya ala kadarnya. dan akhir pekan lalu, lagi - lagi saya penasaran. jadilah saya datang ke nusa dua festival. sampai disana, yang saya temukan hanyalah pameran pembangunan. iyah, sepi. jadilah kami hanya jalan - jalan di area taman nusa dua yang sudah gersang.

sebenarnya saya bingung, apa tujuan diadakannya festival - festival semacam gini ya? kalau untuk menarik wisatawan, kenapa kemasannya justru sangat membosankan? lagi-lagi, hanya untuk ajang cari uang, tanpa lagi musti peduli akan pencapaian? atau, jangan - jangan hanya mau ikutan trend musiman?

ughh, tapi tetap, saya berharap kuta karnival tengah september ini lebih menyenangkan.

Friday, September 01, 2006

tentang yang tertinggal

aku, celana. ketika dia menemukanku, aku sedang tergantung manis di sebuah jendela. tentu saja, pada deretan toko mewah yang ada penjual kaki lima di depannya. dua pemandangan yang berbeda, kesenjangan nyata. dan ketika aku dicobanya, yang ada aku hanya jadi pelengkap dia yang sudah sempurna. kaki jenjang melenggang di depan kaca. dan diam - diam, aku yang jatuh cinta. berdoa mengharap untuk dibawa. tapi selanjutnya justru kecewa, karena dia lebih tertarik untuk melirik tetangga.

aku, buku. tak menggoda dengan muka menipu. pasrah saja ketika seseorang mengambilku, karena aku tau fungsiku. apalagi jika tidak untuk menyimpan rahasia tabu. ya, mereka senang untuk memeliharaku, karena aku bisu. tak pernah meracau, apalagi mengadu. tapi ketika dia mulai menulisiku, aku sedikit terayu. apalagi jika dia mulai cerita tentang haru biru, ingin rasanya kubasuh airmata itu dengan robekanku. kami memang tidak saling mencumbu, tapi sehari saja tak bertemu, aku rindu. entahlah, kehadirannya sudah menjadi candu. sampai suatu saat aku benar - benar kelu, ketika tau dia akan membuangku, terserak diantara tumpukan sampah - sampah bau.

menyebalkan!!!

mungkin sebaiknya, tak usah datang sekalian, jika pada akhirnya hanya pergi dan meninggalkan kesan.


**terinspirasi dari pembicaraan dengan nona ini di kedai kopi. teuku umar tak pernah mati, huh?!