Tuesday, August 29, 2006

tentang reklamasi negeri

- masih ingat pantai semawang?
+ semawang... pernah ke sana rasanya
- yg sering di konotasikan sebagai tempat prostitusi
+ salah jawab dong saya


pelabelan. kadang memang lebih mudah mengingat sesuatu dari pelabelan yang diberikan, meski tak terlepas kemungkinan, bahwa pelabelan tersebut bisa jadi bukan yang sebenarnya. memberikan cap satu komunitas, atas ulah sebagian oknum. menyedihkan sekali. membabi buta membela satu pihak, tanpa benar - benar mengenal pihak yang lainnya. menunjuk kesalahan orang laen, tanpa mau menoleh pada kesalahan diri sendiri. mungkin seperti yang sering dibilang ibu saya, mergo wong - wong ki gak iso ndelok githok e dhewe, nduk! (karena orang - orang tak pernah bisa melihat punggungnya sendiri, nduk) *ya, bahasa jawa saya semakin kacau.*

ah, ngelantur lagi. ingin membahas pantai, malah gerah dengan isu - isu yang beredar belakangan ini. mungkin memang sebaiknya saya menjauh dari televisi, jika tak ingin kena serangan darah tinggi.

kembali ke pantai. akhir pekan lalu saya kembali bernostalgi, dengan seorang teman yang dulu suka berbagi matahari. pantai semawang di timur bali. saya suka menungguinya hingga pagi hari, hanya untuk menanti terbitnya mentari. dan baru beranjak ketika malam sudah menghampiri. kulit hitam terbakarpun, tak usah peduli. berbekal sebotol air minum yang harus bisa bertahan untuk sehari, dan semangat masa muda yang kadang tak tau diri. dan bayangan pantai itu, sudah terpatri dengan rangkaian pedagang lumpia berjalan kaki, bli nengah sodagar kano, yang semakin menghitam dan hanya tampak gigi, dan sampah - sampah duri babi yang seringkali melukai kaki kami. hal - hal indah yang hanya bisa kami mengerti.

itu lima tahun lalu. kini, semuanya cuma jadi cerita lalu. tempat parkir yang bisa kami jadikan arena balap sepeda dadakan, skarang telah terkurung pagar seng berbambu. katanya, pembangunan sebuah hotel baru. pantai pasir putih, harus terbagi lagi dengan jalan berbatu. pengunjungpun hanya datang sambil lalu. keindahan harus beradu dengan pembangunan area itu. belum lagi, adanya campur tangan uang yang masuk saku. dan bli nengah hanya bisa mengadu, sepinya kanoku.

tak banyak yang bisa kami lakukan. kerinduan akan tempat kenangan telah dihancurkan. dan sore itu, kami dibiarkan kelaparan, karena tak satupun pedagang lumpia berjualan. tapi tak ada yang lebih mengenaskan, dari negeri saya yang semakin hilang ingatan.

6 comments:

Anonymous said...

lama lama hanya tertinggal kaum kapitalis negeri ini saja wi *sok teu*

-gita-

cupu said...

asik euy. maen-maenin rima. :)

buat gita (yang di atas): kapitalisme tidak bisa hidup sendirian. kapitalisme eksis justru karena masih 'dituhankan' oleh masyarakat (konsumer). padahal kita bisa melihat dampak-dampaknya yang merugikan, yang sudah terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. fisik maupun mental.

kalau keadaan yang seperti kamu hayalkan di atas terjadi, itu sih berarti akhir dari hidup kapitalisme. coba, siapa yang suruh beli produk mereka, kalau yang tersisa tinggal para pengakumulasi kapital?

sayangnya, kapitalis terlalu jeli untuk melihat ini semua. mereka akan tetap hidup selama kita berfikir bahwa kapitalisme adalah satu-satunya jalan, dan tidak ada alternatif lain. yah, ini adalah salah satu dampak 'merugikan' sistim ini: menjadikan orang apatis, pesimis, dan pada akhirnya puas untuk hanya menjadi penonton.

yoyok said...

begitupula dengan reklamasi pantai Jakarta...
ah nelayanku...

venus said...

sad,huh? kita semua cuma bisa ngomong dan mengumpat dalam hati, but in the end, kita mau gak mau 'terseret-seret' arus kapitalisme juga yah,nduk...the world is changing

MaIDeN said...

Semua berawal dari PEMILU.

b. gundul S. Farm said...

oh iyo, jangan lupa ada ubur-ubur berwarna biru jugaaa