Monday, June 25, 2007

tentang bersyukur

.....
- jadi gimana dok?
+ yah.. aman dari demam berdarah.
- syukurlah, jadi tidak ada masalah yah?
+ ya ada, gimana ga bermasalah kalau demamnya dikit lagi sampe 40 derajat celcius.
- trus apa masalahnya, dok?
+ typhus.
- tapi syukurlah, tidak demam berdarah.
.....

apa begini yang dibilang, selalu saja ada hal yang patut disyukuri atas keadaan yang paling buruk sekalipun?

Wednesday, June 06, 2007

tentang lelaki tercinta

dia lelaki separuh baya, bahkan ketika melihat rambutnya yang sudah dipenuhi uban dimana mana, maka tahulah bahwa umurnya pasti lebih dari setengah abad. yah, memang selama itu. setengah abad lebih sudah lamanya dia menjalani kehidupan. dan itu tergaris jelas di wajahnya yang mulai menua, lewat kerutan kerutan tegas. tingginya semampai, tak terbilang tinggi ketika disandingkan dengan orang orang di sekelilingnya, anak anaknya. apalagi pada usianya yang semakin senja, postur tubuhnya pun tak lagi bisa tegap membusung dada. jalannya pun sedikit tak seimbang. konon, menurut cerita yang pernah kudengar, kakinya terkena pecahan bom atau bahan peledak pada masa yang entah.

yah, cerita tentangnya tak pernah aus meski waktu menggerus. seperti sebuah legenda. aku masih bisa mengingat, pada usia kecilku yang entah, pada tanggal tanggal tertentu, dia berpakaian rapi layaknya seorang pejuang, tentu saja dia belum setua sekarang. berdandan klimis dengan pakaian hijau tai kuda, pakaian yang masih saja warnanya kusuka. bersepatu kulit kinclong mengkilat. akupun selalu bertanya tanya, hendak pergi kemana. dan selalu mendapatkan jawaban yang sama pula, berkumpul dengan teman sesama pengingat kenangan. dan begitulah ingatan tentangnya dan baju hijau tai kuda.

lalu dengan bangunan tua. pernah mendengar tentang kotak harta karun? dia memilikinya! bukan kotak tepatnya, melainkan lemari baja. terkunci rapat pada gudang tua yang juga dipenuhi oleh sarang laba laba. pernah suatu kali aku masuk mengendap endap seperti pencuri. tentu saja aku tak akan mencuri, aku hanya penasaran, apa gerangan isi kotak tua yang begitu menarik perhatian. perlahan kutarik pengait gemboknya dengan sekuat tenaga, tapi percuma. tenaga kecilku tak akan bisa menarik lapisan baja sekuat kuda. tak sampai disitu, tak juga menyerah. pada lain kesempatan, ketika kurasa aku punya banyak waktu, kembali kucoba kubuka. kali ini harus bisa, kataku kala itu. dan memang begitulah, pintu itu akhirnya terkuak. bukan harta permata seperti dongeng yang ada, melainkan kumpulan benda benda aneh yang tak pernah kulihat sebelumnya, kecuali gulungan ikat pinggang berwarna sama dengan baju hijau tai kuda. benda itu sepanjang jari orang dewasa, berwarna keemasan berbentuk silinder dengan ujung lancip di moncongnya. dan kejadian itu terlupa, hinga pada tahuntahun setelahnya, ketika lemari rahasia itu sudah tak lagi misterius, dan benda aneh itu tak lagi ada disana, entah raib kemana, aku baru tau, itu yang disebut peluru.

dan ada satu ingatan tentangnya yang seringkali sampai sekarang membuatku geli. dia adalah tentara, setidaknya pernah menjadi tentara. aku kenal itu dari beberapa foto di dinding rumahnya. dengan topi baret, yang entah apa warnanya. mungkin merah, mungkin hijau, entah. maklumlah foto lama, yang ada hanya warna hitam dan putih saja. dia begitu tampan, tampan sekali. foto foto kecil itu memenuhi ruang keluarga yang bersahaja. dan diantara, ada satu foto besar berbeda. dia tak mengenakan baret, tidak juga seragam dengan pangkat jabatan. dia hanya mengenakan baju safari, dengan peci. dan aku suka memandanginya diam diam, hingga suatu waktu, ketika aku mulai mengenal bangku sekolah, sejarah dan dari cerita cerita yang tak henti di dongengkannya padaku, aku tau itu bukan dia, hanya mirip saja. lelaki berpeci itu adalah sang proklamator bangsa. ah, betapa tololnya.

sayang setelah beberapa lama foto sang proklamator itu tak lagi ada di deretan sana. pernah kutanya, kenapa foto lelaki yang juga tampan itu musti diturunkan, di serakkan dalam gudang tua bercampur sarang laba laba. dan dia hanya menjawab sederhana seperti biasa, karena tanpa foto itu tergantungpun aku masih memujanya. kelak, suatu saat, aku tau, haram hukumnya seorang tentara seperti dia memajang foto proklamator bangsa, seperti diharamkan memasang umbul umbul merah di setiap perayaan. setidaknya itulah yang terjadi pada jamannya.

beberapa tahun lalu, pada kedatanganku padanya yang kesekian. tak pernah satu ingatanpun terlupakan. kini, tak ada lagi foto sang proklamator bangsa di gudang. sudah kembali bergabung di dinding bersahaja ruangan keluarga. dan aku masih saja melihat kemiripan diantara keduanya. mungkin karena lelaki itu begitu mengaguminya. tokoh hebat sepanjang masa.

oh ya, ketika satu waktu kuperkenalkan dia pada seorang teman, teman ini justru berkata, wajah bapakmu seperti presiden kita. hahaha.

**atas nama kangen, dan 106 tahun kelahiran sang proklamator bangsa.

Monday, June 04, 2007

tentang keresahan

dan ketika aku bertemu kamu, aku sadar, aku bertemu dengan wanita yang tercipta dari tempaan hidup. yang sepertinya tak memerlukan satupun hal yang kurang, sehingga akupun tak tahu, di bagian mana aku harus melengkapimu.


ada beberapa hal yang mulai membuat saya resah belakangan ini. kesendirian untuk menjalani kehidupan yang sudah lama berjalan, mulai terusik. keyakinan keyakinan, bahwa saya akan terus menjadi muda, mulai terbentur dengan realita. tak bisa dipungkiri, bagaimapun umur saya bertambah. ya, secara harfiah memang saya sudha mulai menjadi tua. tapi saya tak pernah merasa, sungguh. saya masih gemar bermain main, saya masih gemar berlarilarian, bahkan saya masih gemar untuk kluyuran. seperti layaknya yang dilakukan anak anak muda. setidaknya sama denga apa yang saya lakukan ketika SMA, delapan atau sembilan tahun lalu. tak banyak berubah, masih seperti ituitu saja. dan saya pun masih suka untuk terus mempertanyakan kenapa, lalu membuat pemberontakan kecil kecil terhadap keadaan, dan mulai berfikir, tak seharusnya saya ada disini dan begini. lalu mulai melawan lagi, mulai perjalanan lagi.

bahkan seorang teman mengatakan, saya ini gemar mempertaruhkan perasaan. dan saya tak juga lelah untuk berpasrah pada kenyamanan. intinya, saya tak juga merasakan lelah yang benar benar lelah sehingga mampu membuat saya berfikir cukup, sampai disini saja. lalu membuat saya memilih untuk menjalani hidup dnegan cara orang kebanyakan menjalaninya. tak usah menghabiskan waktu berlama2 dnegan pertanyaan kenapa, pemberontakan atas keadaan atau penghianatan pada kenyataan. jalani saja semua dnegan sewajarnya, jika kewajaran manusia adalah lahir, menikah, punya anak, mati. saya tidak sedang mencari bentuk ideal, karena memang bentuk ideal hanya ada di idealisme saja. pun saya tidak sedang mencoba melawan takdir, karena saya tidak pernah tau takdir saya apa, kecuali saya terlanjur lahir di dunia, dan entah kapan saya akan mati. saya hanya sedang mencari kehidupan, kehidupan yang benar benar hidup. meski mungkin nanti, ternyata pada satu titik akhir yang membuat saya tak bisa memutar balik masa lagi, saya menemukan ternyata seluruh waktu dan hidup saya hanya berisi upaya omong kosong, niscaya saya tak akan menyesalinya. karena begitulah hidup buat saya.

tapi, telepon dari bapak beberapa waktu lalu mulai membuat saya memikirkan hal lain. ternyata saya ini memang tidak bisa egois. toleransi adalah intoleransi. dan saya dikelilingi oleh orang orang yang masih peduli, atau lebih tepatnya, orang orang yang juga saya pedulikan. saya tak bisa berfikir buruk atas kebaikan yang terlontarkan oleh bapak lewat kata kata. seperti pesan biasanya, hanya saja diikuti oleh semacam peringatan, mulailah memikirkan diri sendiri nduk. temukanlah lelaki yang baik, yang kelak akan membahagiakanmu.

katakata singkat, pesan sederhana atas kepedulian, sekaigus seperti sebuah bumerang. memikirkan diri sendiri, dan menemukan lelaki baik hati. hm, bukankah itu adalah dua hal yang saling bertolak belakang. iyah deh, kamu boleh mengatakan bahwa aku adalah wanita yang takut komitmen, bo! tapi sesungguhnya bukan komeitmen yang aku takutkan, melainkan ikatan. normanorma tak tertulis yang mengekang pergerakan, atau menyumpal teriakan. tapi tak pernah ada yang salah. seperti yang pernah seseorang tuliskan, ketika perempuan menginjak usia duapuluhlima, makan keperempuaannya dipertanyakan. akan di jejali dengan pertanyaan pertanyaan kapan menikah, cepatlah menikah, hiduplah dengan mapan, dan selanjutnya ketika sudah menikah dipertanyakan kapan punya anak, dan lain lain. sayapun tak hendak menyangkalnya, karena memang begitulah fakta sebagian besar masyarakat kita. dan sayapun, tak hendak menentangnya, hanya saja, saya juga tak ingin menyerahkan begitu saja hidup saya ke tangan norma kebanyakan dan nilai kewajaran. saya tak ingin menjalaninya karena saya harus menjalaninya. dan yang terpenting, tak ingin menjalani semuanya dengan siasia.

**terima kasih untuk obrolan malam. dan janjijanji yang belum terbayarkan. kutunggu sampai kamu mampu mengejarku, dan kita bisa berjalan beriringan. sampai entah.