hanya mereka yang gigihlah yang mencapai titik akhir, atau mencapai perjalanan yang lebih jauh.
tidak hanya menyoal lari, tapi segala sesuatu memang memerlukan kegigihan. anggaplah situ punya passion terhadap sesuatu, tapi jika tidak ada kegigihan alias kerja keras, sama saja bohong. kegigihan ini tidak selalu ditunjukkan dengan usaha yang maksimal, tapi bisa juga dengan kerja keras, atau konsistensi untuk melakukannya terus menerus. siapa bilang melakukan sesuatu terus menerus dalam waktu yang lama bukanlah sebuah kegigihan? justru kukira, kegigihan adalah yang bisa terus berjalan dengan waktu. dengan segala dinamika perjalanan yang ditemui, jika dia tetap melanjutkan perjalanan, itulah kegigihan.
jadi sebenarnya, tulisan ini tentang apa?
segala hal yang dipanjang-panjangkan ini sebenarnya adalah soal kegigihan orang-orang dalam menulis dan kegundahan saya yang sekian lama tidak menulis. kegundahan, yang sebenarnya adalah rasa iri yang ditutupi. iya, saya iri melihat orang-orang yang masih bisa menuliskan sesuatu di blognya. baik itu cerita perjalanan, atau lebih-lebih perjalanan pikiran.
tidakkah sangat mengasyikkan untuk terus bisa berfikir dan menuliskan pikiran itu?
beberapa tahun lalu, saya pernah menjalani yang demikian. pikiran yang peka untuk menangkap pertanda, pikiran yang liar untuk terus bertanya, dan kosa ata yang tentuya lebih kaya dari sekarang. lalu kemana itu semua sekarang?
terlalu sibuk menjadi alasan yang sepertinya membenarkan semuanya. dan menjadi permakluman untuk makin tidak peka. makin tidak menulis kecuali untuk keperluan pekerjaan. padahal, asal mula saya mendapatkan pekerjaan dengan menulis, adalah karena kepekaa saya untuk menulis di blog yang saya isi dengan cerita perjalanan dan perjalanan pikiran.
saya iri pada seseorang, yang masih saja menuliskan apapun,sepanjang atau sependek apapun di blognya, tanpa dibayar, tanpa ada kejelasan akan dibawa kemana. bukankah itu pula yang terjadi sekian tahun, pada blog ini?
karena itu kali ini saya pun harus mulai gigih lagi dengan komitmen ini, untuk menulis lagi. sebelum akhirnya saya benar-benar tidak peka, atau mati rasa.
hanyalah barisan coretan yang membentuk kata, lalu berakhir pada cerita, tentang seseorang yang belajar untuk dewasa dalam dunia kekanak-kanakannya.
Thursday, November 12, 2015
Tuesday, October 27, 2015
race pertama : half marathon
ehem..
sudah sebulan ngga update blog, jadi kemana saja? sebenarnya sih memang ngga kemana-mana, tapi memang sangat malas untuk update blog. sangat malas menulis. padahal banyak yang bisa dituliskan. tapi yah, akhirnya demikianlah. ujungnya hanya nyampah di facebook, atau path kalau isinya cacian dan makian. hahaha.
padahal pengen untuk bisa terus rajin menulis, toh belakangan memang banyak hal yang bisa dituliskan. lari, salah satunya. hobi baru yang sudah digeluti setahun ini, dari dulu direncanakan untuk dituliskan, tapi yaaa...pada akhirnya demikian nanggung nulisnya. pengen juga sok-sok iya menulis tentang tips lari, review sepatu atau cara mencegah cidera, tapi seringkali rasa ngga pede membuat tulisan ngga pernah benar-benar jadi. atau lebih parah, ngga pernah juga benar-benar dituliskan. lari juga otodidak, teknik-teknik belajar dari youtube, trus sepatu pun trial and error, jadi apanya yang bisa dituliskan coba?!
tapi, mumpung hari blogger (gah..suka gengges dengan hari blogger apaan sik? :D), mari menulis. mari update blog.
mari mengabadikan momen. momen pertama kali ikutan race, YAY! :D
jadi, jadi...akhirnya ikutan ngerace juga setelah lari selama lebih dari 1 tahun. Selama lebih dari 900km. hahaha. hahaha. sebenarnya sih ngga anti race juga, tapi bangun tengah malam lalu menuju jakarta itu bikin semangat untuk ikutan segala macam race mengendor begitu saja. mendingan juga lari naik turun perumahan yang berbukit-bukit. pulangnya bisa mampir tukang sayur, dan masih bisa gegoleran sebelum ribut - ribut ngurusin si G lalu kerja -___-"
pernah beberapa bulan lalu daftar Bali Marathon. sok iya, pertama kali ngerace harus half marathon, dan di bali pulak. baru daftar udah jejingkrakan kesenangan, pamer ini itu di segala macam channel social media. dan voilaaaa....1 bulan menjelang hari H, karena satu dan lain hal maka batal dong! :))
Tuhan mungkin jengkel sama kesombongan dan kesokiyaan manusia ini, belum apa-apa sudah banyak cingcong, hingga akhirnya dibuatlah rencana sedemikian rupa agar bali marathon yang direncanakan sekian lama itu...batal.
got pregnant - blighted ovum - suami cidera - dan hal lainnya yang sudahlah ya, lebih baik dibatalkan saja. pembatalan yang meyisakan banyak trauma karena berhubungan dengan banyak hal lainnya. hiks.
jadi, ketika 1 bulan kemudian Melly bilang kalau kemungkinan dia batal Jakarta Marathon dan ingin mengalihkan race packnya, maju mundur antara pengen dan tidak. sangat pengen, tapi trauma. kalau terlalu kegirangan dan bersemangat nanti yang ada kayak sebelumnya...batal lagi. jadi demikianlah, seminggu menjelang race baru memastikan jadi ikut, gantiin Melly.
hingga beberapa hari sebelumnya masih sangat tenang, tapi 3 hari sebelum hari H, mulai mules ngga karuan. reaksi badan yang grogi sudah tak terkontrol lagi. mules-mules sendiri, berdebar-debar sendiri. hahahaha.
reaksi-reaksi kayak gini yang bikin race makin kacau. sehari sebelumnya diniatin carbo loading, tapi yang ada malah perut begah sampai malam ngga lapar-lapar lagi. dipaksain makan dan masih saja kekenyangan. musti tidur cukup, tapi yang ada malah ngga bisa tidur saking nervous-nya kesiangan. tidur sebentar lalu kebawa mimpi.
pas hari H, akhirnya bangun (atau ngga benar-benar tidur) jam setengah 4, siap-siap..trus malah sante-sante hingga akhirnya mules sebelum berangkat. alhasil, terlambat sampai lokasi, dan ditambah insiden lupa bawa BIB nya pula. syukurlah pas masuk antrean, petugas ngga lihat dan ngga banyak cingcong jadi sukses lari tanpa BIB dan RFID. hahaha..benar-benar cupu!
selama ini alasan lain yang bikin malas ngerace adalah...ngga yakin bisa memuaskan, mengingat paceku sangat lamban. tapi tenang..ternyata race memang bukan tentang kecepatan, tapi nyali. nyali buat menantang diri sendiri ngambil 10K, half mar atau ekstrim full marathon. karena pada saat di lapangan, ingatlah bahwa..akan selalu ada yang di depan dan belakang lo! secepat apapun lari, tetap aja ngga bisa nyaingin pelari-pelari yang kakinya udah ngga napak lagi, dan selamban-lambannya lari..tetap akan ada yang lebih lamban lagi. hahahaha.
10 kilometer awal masih bagus, 1 jam 11 menit. 15 kilometer masih oke. tapi menginjak kilometer 16, kaki sudah ngga jelas menapak kemana. miring-miring ngga kekontrol lagi. hahaha. jadi kalau sudah begitu, mending jalan sebelum kram. lalu lanjut lari lagi. jalan lagi. tenang...ingatlah bahwa selalu ada yang di belakang :D
so, keep calm and run. or walk. or whatever as long as you reach finish line.
jadi begitulah kemarin. dengan persiapan yang sangat minim, kelar juga race pertama : half marathon. hahaha. hahaha. masih pengen ketawa-ketawa jumawa, mengingat ya dulu lari 200 meter aja udah mau sesak napas, trus sekarang bisa kelarin 21 kilometer. 21.000 meter! Yes, i'm that awesome! waktunya pun ngga parah-parah banget. average pace 7.53, total 2 jam 52 menit. awesome, innit? trus kelar itu jadi pengen ngerace lagi, karena alih-alih kapok yang ada perasaan... harusnya kalau teknik bener, bisa lebih cepet lagi! gitu-gitu.
tapi bener lho, mustinya kalau lebih dipersiapkan, mungkin akan lebih baik hasilnya, misal...
- serius belajar latihan teknik lari yang bener, atau..
- karbo loading sedikit demi sedikit dari seminggu sebelumnya, atau..
- ngga pake tidur siang jadi malamnya bisa langsung ngantuk dan tidur nyenyak, atau...
- siapin BIB hingga ngga ketinggalan lagi :)))
yah, yah.. more or less, pengalaman pertama ngerace itu memang menyenangkan! euforia lari bareng-bareng dan berbagi penderitaan hanya dengan saling memandang tak terlupakan. pengen lagi, lebih baik lagi!
Friday, September 25, 2015
berlari
jika ada yang bertanya olahraga apa yang bisa aku lakukan sekarang? mungkin dua jawabannya. satu berenang. satu lagi berlari. oh, atau sebenarnya ada empat. pingpong dan bulutangkis. sekedar nepok-nepok bulu ayam dan bola, bisa lah.
membincnag olahraga, sebenarnya 6 tahun terakhir progressku sangat pesat, jauh lebih lumayan dibandingkan 25 tahun sebelumnya. hahaha. 6 tahun terakhir akhirnya aku bisa berenang, 2 tahunan ini bisa main pingpong (all hail titiw yang sabar ngajarin! :D) dan setahun ini, bisa lari hingga 5 atau 10 kilometer. so proud of my self.
memiliki pengalaman ngga enak dengan guru olahraga jaman SD membuatku tidak pernah menyukai olahraga. sudah ya memang badan meski berpostur bongsor tapi lemah lunglai tak bertenaga, ditambah trauma dan segala macam alasannya yang membuat alasan untuk bermalas-malasan menjadi makin valid.
tapi namanya umur, makin kesini tiba-tiba semua hal tak lagi semudah sebelumnya. kalau dulu tinggi badan selalu bisa menyamarkan gumpalan lemak, sekarang hal itu tak berlaku lagi. kalau dulu habis lahiran G, lalu kerja dan mulai stress membuat berat badan justru lebih ringan dari waktu lajang, sekarang tak begitu lagi. sudah makin nyaman sama kota ini, sudah makin bisa mengatur flow kerjaan yang bikin stress, berat badan ngga berkurang lagi. justru nambah hingga berkilo-kilo dalam 2 tahun terakhir.
dan ya, berat badan pulalah motivasi terbesarku untuk akhirnya memutuskan lari. karena aku sudah menyerah dengan segala macam teori diet yang konon bisa mengurangi sekian kilogram, padahal ya segitu-segitu doang.
melihat beberapa teman berhasil lari, aku jadi berfikir pastilah bisa. masa sih lari tinggal melangkahkan kaki aja ngga bisa? tinggal di lingkungan perumahan yang kalau dikelilingi lebih dari 2 kilometer, dengan udara yang masih bersih dan sepi, harusnya ngga ada alasan untuk menunda-nunda lari. tapi namanya manusia ya, yang selalu punya alasan untuk bermalas-malasan, selalu ada saja pikiran ini itu yang menghalangi keinginan untuk lari. hingga di suatu titik, i told my self..enough!
pada suatu pagi di bulan-bulan ini setahunan lalu, akhirnya aku lari. mengambil sepatu yang sudah bertahun-tahun di lemari, lalu berlari. semangat, sangat semangat. tapi baru 200 meter nafas sudah mau berhenti. hahaha. ternyata tida semudah yang dibayangkan. 2 kilometer keliling kompleks, mungkin aku berhenti lebih dari 10 kali. setiap 200 meter berhenti, begitu terus hingga sebulan kemudian. lalu perlahan-lahan semakin panjang. 500 meter, lalu 1 km.
3 bulan bertahan dengan ritme seperti itu, bikin gemes sekaligus geregetan. akhirnya aku gabung dengan nike coach, semacam paket trainning dari aplikasi nike+. di situ kita bisa pilih mau ambil yang mana. targetku sebenarnya ngga muluk-muluk, cuman bisa terus lari 5k. tapi karena menu 5K beginner terlihat ngga jauh beda dengan yang kulakukan setiap harinya, maka kupilihlah pake yang 5K intermediate.
jangan senang dulu, meski namanya 5K, tapi ternyata porsi latihannya hingga 12K. Errrrr.. 8 minggu, 5 hari per minggu. total 200 kilometer. ehem banget!
nike+ ini semacam komitmen biar aku ngga mangkir-mangkir lari. untu meminimalkan kemalasan-kemalasan, dan menemukan alasan untuk terus lari jika ada yang bertanya. setidaknya aku bisa memberi jawaban kenapa berlari terus ke mereka.. "Karena coach aku bilangnya demikian!" (nike coach maksudnya :D)
dan begitulah, kelar 2 bulan memang akhirnya bisa lari 5K tanpa pake jalan, bahkan kadang bisa juga 10K. tapi pake cidera di minggu-minggu awal, huhuhu. cideranya bukan karena keseleo, atau over trained, tapi karena kurangnya stretching setelah lari. karena salah pilih sepatu. dan karena ngga ada pemanasan yang cukup. alasan-alasan yang kayaknya sepele, tapi ternyata di lari hal itu krusial sekali. sempat ke fisio terapi, tapi akhirnya sembuh dengan ke ISMC yang ada di Senayan, rumah sakit yang biasa ngurusin atlet-atlet yang cidera. for the first time aku merasa diriku seperti atlet! hahahaha. Berkat rekomendasi Titiw, akhirnya ketemu dokter Andy yang menelaskan panjang lebar kenapa cidera, alih-alih harus ada tindakan terhadap kaki pincang kala itu.
lalu, apa kabar setelah 1 tahun lari? apa kabar setelah bisa lari 10K tanpa henti?
berat badan turun, pasti. berkilo-kilo yang sangat lumayan lah. mood yang ancur-ancuran pun lebih stabil setiap harinya. dan, lebih bahagia. ngga lagi sibuk ngeributin hal-hal kecil karena lari saja sudah cukup melelahkan. ngga lagi sibuk mikirin remeh temen karena terlalu sibuk mikirin, "jadi ini lari lagi..atau berhenti?"
begitulah. satu tahun lari dan masih saja memperdebatkan lari atau ngga hari ini. 3 kilo atau 5 kilo. 5 kilo atau 10 kilo. lewat rute ini, atau itu? pertanyaan-pertanyaan yang tanpa disadari jadi kontemplasi selama berlari. pertanyaan yang pada akhirnya dijawab dengan pilihan yang paling sulit, rute yang paling jauh. pertanyaan-pertanyaan yang ketika sudah selesai dijawab..it feels good!
karena di setiap pertanyaan itu, adalah tantangan. mau sejauh apa berlari, mau sejauh apa memenangkan pertarungan melawan diri sendiri?
Subscribe to:
Posts (Atom)


