menonton drama asia di sela-sela mengerjakan pekerjaan kantor yang seringkali bejibun, lari pagi dan ngurus anak, adalah piknik yang murah dan mudah dilakukan. meski seringkali keterusan dan bikin ngga mudah hal lainnya. :D
karena itu sejak sebulan terakhir, mulai membatasi piknik drama (atau kalau suami bilang, telenovela.. sigh!) , dan hanya melakukannya ketika akhir pekan dan tidak ada rencana kemana-mana. atau boleh lah 1 - 2 episode sore hari saat break sambil ngopi-ngopi..
untuk piknik, sebenarnya lebih baik nonton drama korea, yang endingnya seringkali semacam cerita cinderella yang berakhir bahagia. tapi lama kelamaan bosen juga nonton drama yang sudah ketebak banget alurnya: pertemuan/perkenalan - berselisih paham - jatuh cinta - konflik/klimaks - penyelesaian konflik - berakhir bahagia. menyenangkan sih, nonton ngga usah pake mikir, dan ngga usah pakai hati. tapi belakangan lagi jenuh, trus coba cari-cari drama jepang sebagai gantinya.
malasnya nonton drama jepang, kalau ngga dark , ya ceritanya seringkali aneh. imajinasi orang2 jepang memang aneh. kalau mau agak aman, nonton drama yang romance, tapi ya tetap..ngga semua berakhir bahagia, misal soredemo, ikite yuku. karena itu seringkali cari-cari referensi dulu sebelum memutuskan mau nonton j-dorama apa. sayang aja kalau sekian jam nonton, buntutnya ngga enak banget di hati, semacam rugi hahaha
dan setelah mencari-cari referensi, akhir pekan ini akhirnya nonton j-dorama : ouroboros.
Ouroboros sebenanrya adalah simbol, dimana ular/naga menggigit ekornya sendiri. dalam bahasa Yunani, "oura" diartikan sebagai ekor, dan "boros artinya makan. dan di film ini, ouroboros adalah pendant kalung dimana ada 2 naga yang memakan ekornya sendiri.
nonton drama ini sebenarnya karena ada Juri Ueno di situ, cewek ajaib yang selalu tampil beda di setiap dramanya. bentuk cewe dari Eita :D dan juga karena ada Oguri Shun, yang denger suaranya saja sudah pengen bikin buka baju, hahaha... ( aktor lain yang kayak gini tuh.. Choi Seung Hyun alias T.O.P nya bingbang dan Choi Jin Hyuk, omagah...suaranya bikin orgasme!)
back to ouroboros, ceritanya tentang ikuo (toma ikuta) dan danno tatsuya (oguri shun) , 2 anak panti asuhan yang 20 tahun kemudian berambisi untuk membalaskan kematian Yuiko-sensei , pengasuh mereka di pasti asuhan Mahoroba. Dalam perjalanannya, keduanya milih jalan yang berbeda. Ikuo sebagai polisi, dan Tatsuya sebagai yakuza, the underworld. Juri Ueno di sini berperan sebagai Mizuki Hibino, partner ikuo di kepolisian. awalnya konflik kematian Yuiko-sensei sepertinya sederhana, tapi ternyata setelah diusut berpusat pada organisasi kepolisian. pelik lah. dan seperti judulnya, ouroboros, upaya balas dendam 2 naga tersebut (ikuo & tatsuya) pada akhirnya justru menyakiti diri mereka sendiri. ooopps..bukan maksud spoiler, terlepas dari kisi-kisi di sini, drama ini sungguhlah worth to watch. untuk jalan ceritanya, aktor artis dna acting mereka dan segala keseruan & ketegangannya.
jepang memang paling jagoan untuk membuat konflik dan intrik, menghubungan tokoh-tokohnya dengan alur yang apik dan sangat natural. untuk urusan ini, korea masih jauh di bawahnya. head to head dengan drama korea sejenisnya, you're all surrounded, dari segi cerita ouroboros jauh di atasnya. drama ini termasuk salah satu drama terbaik 2015, selain second love yang kalau ngga malas akan ditulis kemudian. :D
kalau soal cerita, j-dorama selalu punya plot twist yang kalau ngga bisa handle, bikin sakit hati nontonnya. hahaha. begitupun cerita ini. bagus, tapi endingnya ya gitu deh. jangan berharap banyak untuk akhir yang bahagia, karena memang banyak hal yang tidak berakhir baik, apalagi bahagia. seperti hidup...
hanyalah barisan coretan yang membentuk kata, lalu berakhir pada cerita, tentang seseorang yang belajar untuk dewasa dalam dunia kekanak-kanakannya.
Sunday, November 22, 2015
Thursday, November 19, 2015
heart beat
konon, ketika sedang berolahraga, alih-alih mendengarkan musik, akan lebih baik jika mendengarkan badan kita sendiri.
tapi untuk pecinta lari yang masih newbie, saya kesulitan melakukannya. apalagi di awal-awal. bagaimana mungkin saya lari selama minimal 30menit, sambil bengong tidak ngapa-ngapain? akankah betah?
apa enaknya ?
apa enaknya, menjadi salah satu alasan kenapa musik adalah sesuatu yang wajib didengarkan ketika lari. selain membuat aktivitas lari lebih bisa dinikmati, --alih-alih mendengarkan nafas yang tersengal-sengal--, dengan tersumpalnya telinga saya, saya tak harus repot-repot meladeni basa-basi tetangga, cukuplah dengan "mari buuuu.." ketika menyapa atau mengangguk dan senyum ketika disapa. bahkan ketika kadang handphone saya ngadat dan musik mati, saya tetap pasang earphone untuk mengantisipasi basa-basi yang pastinya akan membuat saya lebih terengah-engah. :D
musik membantu irama jantung saya ketika berlari menjadi lebih stabil, dan juga membuat pace lebih cepat atau melambat, tergantung ritme lagu-lagu yang didengarkan.
lalu ketika menyoal musik untuk lari, sebenarnya selera saya itu-itu saja, ngga ada beda dengan musik yang saya dengarkan ketika galau, ketika sedang diburu deadline lalu perlu mencari mood, ketika dalam perjalanan, atau ketika sedang hujan. hahaha. ngga move on dari late 90s and early 2000. ngga move on dari indie, britpop dan folk atau ballad.
awalnya saya suka mendengarkan musik dari 8tracks , ngga usah bingung-bingung milihin lagu, tinggal pilih playlist yang sesuai mood and voila...tinggal lari. sekian bulan menggunakan 8tracks, saya hanya aktifkan 1 playlist untuk lari "i'm not hipster, i just like indie." yang lagu-lagunya pas banget dengan pace lari saya yang masih di angka 7 - 8 menit.
kebanyakan lagunya 2000an ke atas, alias lagu kekinian. lumayan bisa mengupdate vocabulary lagu-lagu yang sebelumnya berhenti di 90s. track pertamanya shut up and dance memang langsung bikin kaki semangat melangkah, ada juga cool kids atau geronimo. dan track favorit adalah hero-nya family of the year, yang seringkali didengerin pas sudah cooling down. playlist ini punya 89 lagu, jadi kalau lari 10K pun masih belum habis, hahaha.
tapi tapi, makin kesini 8tracks makin ngga sinkron sama nike+ , keduanya ngga bisa dijalankan di handphone yang makin uzur. lalu laripun menjadi sepi. biar semangat lagi, --dan biar nafas yang terengah-engah tertutupi--, akhirnya saya download beberapa album di lapak torrent (errrr....maaf yes!) kalau selama ini lebih suka dengerin dari playlist online, demi stabilitas lari, cari-carilah di lapak copy-an. Dan inilah playlist saya hingga 1 tahunan lari :
- Beacon - Two Doors Cinema Club
- Aim and Ignite - Fun
- The Killers Direct Album 2003-2013
- The Best of Keane
dulu sempat ada death cab for cutie, tapi dengerin lagu mereka sambil lari kok bikin pikiran makin suram :))
jadi begitulah, berbulan-bulan sudah saya mendengarkan lagu yang itu-itu saja ketika lari. bukan lagu workout dengan beat tinggi yang membuat jantung berdetak lebih kencang. tapi lagu-lagu itu membuat lari menjadi lebih bisa dinikmati. sambil bengong-bengong, sambil bernostalgia ketika lagunya menghubungkan dengan sebuah peristiwa, atau sambil mengingat ingat, lagu ini dikenalin siapa ya? hahaha. lagu-lagu yang selain membuat bersemangat, juga menghadirkan rasa hangat.
sayangnya, 3 hari ini handphone uzur itu tiba-tiba mati. untunglah sebelum benar-benar mati, dia juga suka ngadat sampai playlistpun ngga keputar. jika itu terjadi dulu, saya bisa putar balik pulang ke rumah, atau sekalian batal lari. tapi lama-lama menjadi biasa, musik berhenti pas lari dan yasudah lah ya..
mungkin dengan matinya handphone dan raibnya album download-an itu, sekarang saatnya benar-benar mendengarkan badan ketika olahraga. nafas yang terengah-engah, atau jantung yang berdetak kencang meski tidak sedang bernostalgia.. ^^
Monday, November 16, 2015
kenapa tidak lagi menulis?
masih menyoal kegigihan yang pernah saya tuliskan sebelumnya, pada suatu waktu saya pernah berbincang dengan teman blogger angkatan lama (hahaha...angkatan dimana blog masih jadi curahan hati dan menye-menye! :D )
waktu itu kami sedang berada di atas kapal cruise yang membawa kami ke pulau lembongan, bali. perjalanan yang diinisiasi oleh client tersebut memang ditujukan untuk blogger dan beberapa wartawan dari media cetak. melalui para blogger, client berharap bahwa potensi pangan lokal (sesuatu yang sesuai dengan value company si client..) sampai ke khalayak yang lebih luas, melalui media cetak dan blog. dan karena itulah teman blogger tersebut ada di perjalanan kali itu.
awalnya kami membicarakan tentang pekerjaan, tentang profesi blogger, hingga akhirnya kami membahas tentang saya dan blog. kenapa saya tidak ngeblog lagi.
"gimana ya, aku tuh menemukan kesulitan untuk menulis. aku tidak bisa menulis seperti dulu lagi, pun aku tidak menemukan sesuatu yang bisa kutuliskan dengan kondisi(ku) sekarang. maksudku, hidupku berubah, perjalanan juga berganti cerita. kalau aku disuruh menulis kayak dulu, aku ngga bisa. aku ngga lagi menemukan sense of menye-menye kayak dulu..."
hahaha, itulah yang saya katakan padanya. MENYE-MENYE. bahasa blog jadul banget kan?!
padahal, mari kita bedah satu per satu kenapa saya tak lagi menulis.
pertama, karena saya sudah melewati fase menye-menye itu. perjalanan hidup saya berpindah ke fase yang jauh lebih stabil. keluarga, pekerjaan dan yang paling penting adalah perasaan. itulah yang menyebabkan saya susah untuk menulis seperti dulu.
tapi-tapi, banyak orang yang melakukan perjalanan hingga melalui beberapa fas,e tapi mereka tetap bisa menulis. nah, itulah yang saya coba asah lagi. toh tulisan tak melulu soal kegelisahan dan penderitaan kan ya?
alasan kedua adalah pekerjaan, ini yang paling sering menjadi kambing hitam. menulis untuk client, sampai lupa untuk menulis pada diri sendiri. sebelum menulis saya melakukan riset, mencari mood. tapi seringali saya menulis karena deadline makin dekat. sesuatu yang tidak pernah saya terapkan ke diri sendiri, hingga akhirnya saya memanjakan kemalasan saya untuk menjadi lebih peka, hingga akhirnya tumpul.
alasan ketiga adalah ketika era blog suda berubah. tidak hanya fase hidup saya, tapi blogpun sudha ngga jamannya lagi untuk emnjadi tempat curhat. beberapa menuliskan pengalaman traveling, resep masakan, review ini, review itu. dan saya, yang asalnya adalah suka curhat, mulai jauh tertinggal. saya tak terbiasa menuliskan sesuatu tanpa melibatkan perasaan, kecuali itu untuk pekerjaan. lalu lagi-lagi, kembali ke alasan kedua, blog ini terabaikan begitu saja.
keempat, distraksi sosial media. sigh. untuk alasan terakhir ini mungkin tak berlaku bagi semua orang, toh masih banyak tuh ornag yang aktif di twitter, tetap upload foto-foto di facebook dan instagram, curhat di path, tapi masih bisa tetap menulis di blognya. hanya saja, sosial media menjadi distraksi untuk saya yang minim multitasking ini. jika sudha nyampah di path, maka malas buat menuliskannya lebih panjang. atau jika sudah upload foto-foto perjalanan di facebook, maka malas kali untuk menuliskan rinciannya di blog. dan kalau sudah curhat colongan di caption instagram, maka pikiran menjadi lebih cepat lega sehingga yasudah semua berhenti saja di sana.
mungkin saya perlu lebih mengurangi aktivitas nyampah sedikit - sedikit dimana-mana itu, lebih banyak membaca, lalu menuliskanna di blog saja. mungkin saya akan mencobanya...
waktu itu kami sedang berada di atas kapal cruise yang membawa kami ke pulau lembongan, bali. perjalanan yang diinisiasi oleh client tersebut memang ditujukan untuk blogger dan beberapa wartawan dari media cetak. melalui para blogger, client berharap bahwa potensi pangan lokal (sesuatu yang sesuai dengan value company si client..) sampai ke khalayak yang lebih luas, melalui media cetak dan blog. dan karena itulah teman blogger tersebut ada di perjalanan kali itu.
awalnya kami membicarakan tentang pekerjaan, tentang profesi blogger, hingga akhirnya kami membahas tentang saya dan blog. kenapa saya tidak ngeblog lagi.
"gimana ya, aku tuh menemukan kesulitan untuk menulis. aku tidak bisa menulis seperti dulu lagi, pun aku tidak menemukan sesuatu yang bisa kutuliskan dengan kondisi(ku) sekarang. maksudku, hidupku berubah, perjalanan juga berganti cerita. kalau aku disuruh menulis kayak dulu, aku ngga bisa. aku ngga lagi menemukan sense of menye-menye kayak dulu..."
hahaha, itulah yang saya katakan padanya. MENYE-MENYE. bahasa blog jadul banget kan?!
padahal, mari kita bedah satu per satu kenapa saya tak lagi menulis.
pertama, karena saya sudah melewati fase menye-menye itu. perjalanan hidup saya berpindah ke fase yang jauh lebih stabil. keluarga, pekerjaan dan yang paling penting adalah perasaan. itulah yang menyebabkan saya susah untuk menulis seperti dulu.
tapi-tapi, banyak orang yang melakukan perjalanan hingga melalui beberapa fas,e tapi mereka tetap bisa menulis. nah, itulah yang saya coba asah lagi. toh tulisan tak melulu soal kegelisahan dan penderitaan kan ya?
alasan kedua adalah pekerjaan, ini yang paling sering menjadi kambing hitam. menulis untuk client, sampai lupa untuk menulis pada diri sendiri. sebelum menulis saya melakukan riset, mencari mood. tapi seringali saya menulis karena deadline makin dekat. sesuatu yang tidak pernah saya terapkan ke diri sendiri, hingga akhirnya saya memanjakan kemalasan saya untuk menjadi lebih peka, hingga akhirnya tumpul.
alasan ketiga adalah ketika era blog suda berubah. tidak hanya fase hidup saya, tapi blogpun sudha ngga jamannya lagi untuk emnjadi tempat curhat. beberapa menuliskan pengalaman traveling, resep masakan, review ini, review itu. dan saya, yang asalnya adalah suka curhat, mulai jauh tertinggal. saya tak terbiasa menuliskan sesuatu tanpa melibatkan perasaan, kecuali itu untuk pekerjaan. lalu lagi-lagi, kembali ke alasan kedua, blog ini terabaikan begitu saja.
keempat, distraksi sosial media. sigh. untuk alasan terakhir ini mungkin tak berlaku bagi semua orang, toh masih banyak tuh ornag yang aktif di twitter, tetap upload foto-foto di facebook dan instagram, curhat di path, tapi masih bisa tetap menulis di blognya. hanya saja, sosial media menjadi distraksi untuk saya yang minim multitasking ini. jika sudha nyampah di path, maka malas buat menuliskannya lebih panjang. atau jika sudah upload foto-foto perjalanan di facebook, maka malas kali untuk menuliskan rinciannya di blog. dan kalau sudah curhat colongan di caption instagram, maka pikiran menjadi lebih cepat lega sehingga yasudah semua berhenti saja di sana.
mungkin saya perlu lebih mengurangi aktivitas nyampah sedikit - sedikit dimana-mana itu, lebih banyak membaca, lalu menuliskanna di blog saja. mungkin saya akan mencobanya...
Subscribe to:
Posts (Atom)

