Monday, April 01, 2013

Kakipun Harus Nyaman!

Belakangan ini, banyak kejadian random di sekitaran saya.

Seorang teman sekaligus boss di kantor hari ini tiba - tiba nyelethuk, "Nanti coba deh perhatiin, Ghandar itu lama2 akan berpenampilan seperti kamu atau Epat." Apa pasal? Karena anak gadisnya sudah mulai meminta jam tangan yang sewarna dengan bajunya, persis seperti boss saya itu! Hohoho!

Tapi memang benar sih, siapa lagi yang akan menjadi role model untuk anak, selain orang tua yang sehari - hari dilihatnya? Jangankan persoalan penampilan yang memang kelihatan, kadang marahnya pun mirip sama kita orang tuanya. *grinning*

Dan berbicara tiru - meniru penampilan ini agaknya menjadi bumerang buat saya, yang suka berpenampilan seenaknya yang penting nyaman. Ngga sadar hal yang sama juga saya lakukan ke Ghandar. Untungnya dia cowok, yang bajunya ngga jauh - jauh dari kaos, kemeja, celana pendek dan celana panjang. Saya ngga harus mengkoleksi legging atau bando atau asesoris yang serasi dengan bajunya.

Permasalahan baru muncul ketika membeli sepatu. Karena dia hanya mau memakai sepatu yang benar - benar nyaman.

Pada umurnya 1 hingga 1,5 tahun, dia hanya mau memakai 1 sepatu hitam berbahan kain yang alasnya sangat ringan, khas sepatu2 pre-walker, sangat nyaman. Entah bahan apa namanya. Seperti karet yang mirip-mirip plastik tapi sangat ringan, sehingga rasanya seperti tidak memakai sepatu. Saking sukanya, kemana-mana hanya pakai sepatu itu. Pernah sobek, saya jahit tangan, dipakai lagi sampai akhirnya tidak muat. Sepatu ini paling berkesan deh, karena setelah tidak muat, saya tak bisa lagi menemukan sepatu ukuran lebih besar dengan bahan alas yang sama ringannya.

Membeli sepatu adalah perkara tersendiri. Minggu - minggu lalu, saya setengah putus asa tanya di twitter juga, sepatu apa yang nyaman untuk anak - anak. Beberapa teman menyarankan merek Oshkosh. Kalau itu sih saya pun tau, tapi Oshkosh kan mehel ye? :D

Hingga akhirnya tau dari Rere, dia baru saja membelikan sepatu anaknya di http://www.toezonefootwear.com/ Buka buka buka...dan akkkssss, sepatu Oshkosh nya lagi diskon! Kalau di toko jarang sekali Oshkosh diskon, di website ini banyak banget diskonnya! Tapi di website ini ada merek lain juga, yakni ToeZone Kids dan Apps Footwear. Makin bingung dan kalap lah si emak :|

Setelah browsing kesana - kemari, pilihan saya jatuh ke sepatu merek ToeZone Kids ini. Waktu itu pernah lihat kalau ngga di Sogo Plasa Senayan atau Seibu GI ya? (lupa!) sepatu merek ini, tapi karena lihatnya hanya sekilas jadi lupa. Trus ngga pernah ketemu lagi di toko lainnya. Setelah ceki2 websitenya, ternyata memang hanya dijual di gerai Metro, Sogo dan Seibu. Kalau online nya sih, melayani seluruh Indonesia. Alasan pilih sepatu ini sih..karena tumben - tumbenan saya nemu sepatu yang bahan alasnya mirip banget dengan sepatu paling berkesan yang sobek dan tidak muat itu! Baca - baca lagi ( dasar ya, emak2 detail banget!) , ternyata bahannya eco friendly pun, jadi terbuat dari daurulang dan tetap bisa tahan lama. Gapapa deh keluarin 300rb, khan awet.. (huhuhu, lagi2 emak2 banget kan, itung2an!)


Pas pilih - pilih ukuranpun juga gampang! Di website toezonefootwear.com menyediakan fitur untuk ngepasin ukuran. Di samping kanan sepatu yang kita pilih, ada menu "print fit" Bisa print dulu ukuran kira - kiranya, lalu dipasin sama panjang kaki anak. Kalau print nya untuk kaki kiri, ngepasinnya pakai kaki kanan. Ukuran yang pas adalah ketika jari terpanjang di area "Toezone", karena jika kebesaran atau kekecilan, sepatu ngga akan nyaman.


Akhirnya, saya yang impulsif inipun saat itu juga jadi membeli! Makin senang karena ternyata free delivery fee, karena transaksi lebih dari 150rb! Yay! Setelah transaksi, keesokan harinya sepatu sudah sampai dengan selamat! Karena kalau tidak, saya masih bisa claim untuk penggantian, ada garansi hingga 90 hari jika sepatu merek apa saja yang dijual toezonefootwear.com ternyata cacat produksi (untungnya sih sepatu yang saya beli ini ngga :D ) Beneran lho alasnya sangat ringan, seperti ngga pakai sepatu. Ketika dicoba, Ghandar pun sukak! Hohoho, I'm so happy mom!

Oiya, ternyata setelah sampai, penampakan si sepatupun tak berbeda dengan yang ada di website. Dasar si anak yang memang demen sepatuan, di rumah pun sepatu ini dipakai terus.. --"


Tuesday, March 26, 2013

Build a big love!


Saya tidak pernah bosan untuk berulang kali menceritakan asal mula kami membeli rumah. So, here is the story... 

"Pada suatu Minggu, di akhir tahun 2010, kurang lebih 1 tahun setelah kami menikah, seorang teman mengajak kami mencari rumah. Saya dan suami yang saat itu kondisi keuangannya pas - pasan, mengiyakan saja. Bukan karena kami juga ingin mencari rumah, tapi sekedar menghibur hati membayangkan punya rumah, sekaligus menimbang - nimbang berapa lama lagi kami harus menabung agar bisa membayar deposit. 

Tapi ternyata, ada perumahan baru yang menawarkan Deposit yang terjangkau, senilai tabungan kami. Letakknya (kala itu) terasa sangat jauh, di pelosok desa yang sepi. Untuk mencapai warung terdekat, berjarak kira - kira 1 km. Kami baru 2 kali ke Depok, dan baru sekali ke daerah itu. Karena baru dibuka, belum ada bangunan yang berdiri, dan masih tanah urugan, semua mengawang - awang, kecuali jumlah Deposit yang (lagi-lagi) sangat murah. 

Tanpa pikir panjang, akhirnya kami menutup mata untuk membelinya. Selasa berikutnya kami sudah membayar Booking Fee dan sekitar sebulan kemudian, kami sudah menandatangani perjanjian kredit. Kemudian, barulah kami berfikir bagaimana membayar angsuran dll.. Hahaha. 

Saat ini, sudah hampir 1,5 tahun kami menghuni rumah baru tersebut. Rumah yang kami beli tanpa rencana dan hanya bermodal nyali. Rumah yang setelah kami huni, tak lagi terasa jauh. 1 hingga 2 jam ke kantor (bukankah ini jarak normal untuk masyarakat urban Jakarta? :D), kurang dari 500 meter ke Sekolah International Global Jaya Depok & Rumah Sakit Citra Medika, dan sekitar 2 km ke imigrasi Depok. 

Buat kami, rumah kecil ini sangatlah cukup. Cukup untuk kami sekeluarga menjejak tanah dan tumbuh bersama." 

We may not build a big house, but we build a big love!

PS : If you're around Depok, please dropping by just for a cup of coffee, or tea, and bunch of conversations. We're pleased to welcoming you ;")

Monday, August 13, 2012

Mudik

Lebaran tinggal menunggu hari.

Dan perasaan saya pun mulai campur aduk tidak menentu. Antara senang sekaligus deg - degan. Senang. Ya, senang. Pulang ke kampung halaman, bertemu dengan kedua orang tua, kakak2 dan ponakan itu menyenangkan. Tapi sekaligus deg-degan. Khawatir, mules dan seringkali membuat sakit perut yang tiba - tiba.

Sejak keberadaann ghandar, bepergian tak lagi semudah ketika saya belum menikah. Ya iyalah. kalau dulu bepergian cukup dnegan membawa 2 setel baju dalam tas ransel, sekarang kami harus mempersiapkan koper super besar untuk membawa baju kami bertiga. Itu adalah perbedaan pertama. Belum lagi, barang - barang lain selain baju yang bisa memenuhi 1 koper lainnya

Ghandar sudah mengalami tiga kali perjalanan mudik, tapi tetap saja setiap mudik membawa cerita yang berbeda, membawa kecemasan yang tak sama.

Mudik pertama, kami menggunakan kereta api. Usianya yang baru 5 bulan waktu itu, ternyata justru tidak semerepotkan yang kami bayangkan. Kecuali ya, bawaan seabrek-abrek itu. Anaknya cenderung anteng, dan karena kami naik kereta jadwal malam, dia lebih banyak tidur sepanjang perjalanan. Mungkin karena dia terbiasa bepergian dari umur 1,5 bulan, dan usia 5 bulan dia pun belum terlalu banyak gerak. jadi yah...kami menikmati berjejal-jejal di kereta api.

Mudik selanjutnya ke rumah orang tua dari suami, yakni ke Bengkulu. Kali ini, perjalanan dengan pesawat. Usianya hampir 1,5 tahun dan diapun sudha mulai aktif kesana kemari. Maka bisa dibayangkan kerepotan yang terjadi. Selain barang bawaan bejibun, kamipun harus kejar - kejaran di bandara karena anaknya yang tidak mau diam. Usaha untuk membuatnya tidur di pesawat berhasil, sehingga tidak menambah kerepotan mendengarkan dia menangis - nangis di pesawat seperti anak-anak lainnya. Etapi dia memang jarang menangis di pesawat ding, dan cendeurng menyukai perjalanannya.

Lalu, bagaimana dengan mudik kali ini? Rencana mudik dengan mengendarai kendaraan pribadi agak-agak membuat cemas. lebih cemas dari biasanya. Perjalanan yang panjang, atau macet yang tak bisa disangka mungkin akan membuatnya bosan. Atau entahlah. Tapi, selalu ada yang pertama bukan? Dan saya yakin, perjalanan ini nantinya akan mengajarkan kami banyak hal. Seperti yang sudah - seudah. Semoga saja demikian.

Selamat hari raya, cerita perjalanannya akan kami sambung kemudian ya...