Tuesday, December 22, 2009

Jakarta dan Sepotong Choco Cheese Cake

Keputusan untuk tingal dan menetap di Jakarta bukanlah keputusan yang dibuat semalam. Ketika saya memutuskan untuk jatuh cinta pada seorang lelaki yang kini menjadi partner perjalanan dalam hidup saya, saya sudah mulai memikirkan tentang kemungkinan tersebut. Memang pada selanjutnya semua tak semudah memilih hitam atau putih, tetapi ketika kaki saya sudah mulai melangkah meninggalkan Bali, keputusan itu sudah bulat, iming – iming tentang senja dan keindahan lainnya tak menggoyahkan niat saya untuk melangkah.

kini, disinilah saya. Hamper tiga minggu dan saya memang masih bertahan. Sesekali muncul kerinduan pada zona sebelumnya, tapi itu tak lebih dari godaan kenangan yang seringkali menyelinap diam – diam ketika kita sedang berusaha menikmati kekinian, dan mau tak mau kembali menyeret kita ke masa yang telah lewat, menghadirkan perasaan hangat sekaligus nyeri menyadari semua tak lagi sama.

Menikmati Jakarta buat saya seperti ketika sedang menyantap sepotong choco cheese cake di sebuah café di pinggir jalan raya seputaran Sanur. Saya tak suka menjadikannya hidangan penutup, karena pasti akan membuat saya kekenyangan, bahkan terkadang sampai mual. Seperti itulah Jakarta, yang bisa dinikmati ketika masih mempunyai ruang untuk memaklumi apa yang nanti ditemui di jalan. Kemacetan, ketidaknyamanan, polusi, pengemis jalanan, asap kendaraan, apa saja.

Hal yang dulu sering saya lakukan adalah menimati choco cheese tersebut dengan segelas teh, buku atau tanpa melakukan apapun hanya dengan mengamati lalu lalang pejalan kaki di trotoar. begitu pulalah Jakarta menurut saya, sesekali menyenangkan berjalan – jalan dengan beberapa teman, tapi terkadang yang diperlukan adalah kesendirian. Karena dengan kesendirian, saya menjadi bisa lebih memberi makna terhadap apa yang saya temui, tanpa adanya campur tangan opini yang terkadang justru membuat absurd makna sebenarnya. Seorang teman pernah berkata, it’s you that give the meaning of something. Karena itulah keterasingan di hiruk pikuk Jakarta tak selalu mengerikan, dengan kembali pada diri sendiri, saya merasa utuh, apapun yang terjadi.

Dan seperti choco cheese yang hanya nikmat dinikmati sesendok demi sesendok tanpa harus terburu menghabiskannya, seperti itu pulalah Jakarta. Selayak satu potong penuh, Jakarta hanya nikmat ketika dinikmati sesendok demi sesendok tanpa harus terburu menghabiskannya. Dan Jakarta hanya akan menjadi neraka ketika menikmatinya dengan tergesa. disini, alam semesta berada diatas kehendak manusia. wajar saja untuk mempunyai keinginan berkendara dengan nyaman, berangkat dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa harus mengalokasikan sekian jam perjalanan, tetapi di jalan, kemacetan dan orang - orang yang sedemikian banyaknya belum tentu mengijinkan saya untuk melakukan apapun yang saya inginkan.

mengeluh? percuma, toh tak ada yang mampu dilakukan.

lalu apakah saya telah memutuskan untuk jatuh cinta pada ibukota? saya belum mampu menjawab pertanyaan itu. seperti analogi terakhir, saya mungkin masi baru merasakan sekian sendok dari sepotong choco cheese cake yang tersisa. dan sepertinya, saya masih punya banyak waktu untuk menikmati sendok - sendok berikutnya.

Wednesday, November 18, 2009

melankolia perjalanan

ternyata tidak mudah untuk mengepak 11 tahun hidup saya dan membawanya pergi.


ada rasa gamang yang sangat, setiap kali dia memasukkan buku - buku itu ke dalam kardus. seperti sedang melihat album tua, dengan gambar - gambar di dalamnya. sekian detik terdiam, berusaha mengulang kejadian yang menyertainya. buku, seperti kopi, senja, hujan baginya. setiap potongannya membawa kisahnya masing - masing.

sebelas tahun lalu dia datang ke kota ini, dan semenjak itu dia sudah jatuh cinta. pada pantainya, bau dupa, bunga - bunga yang disematkan di telinga, suara gamelan dan lagu - lagu pujian. dan terlebih dia jatuh cinta pada langit sore ketika matahari hampir tenggelam. berjam - jam telah dihabiskan hanya untuk memandangi langit, hingga pada satu kesimpulan bahwa senja tak pernah sama, masing-masing datang dengan cerita yang berbeda. semakin dia memahami bahwa beberapa hal memang tak bisa dibandingkan, mereka begitu indah dengan segala yang ada.

dia juga jatuh cinta pada kesemrawutan kuta, sekaligus ketenangan dan sunyinya ubud. pada sawah yang masih terhampar menghijau, hingga akhirnya menjelma menjadi bangunan - bangunan angkuh. dia tumbuh bersama segala perubahan yang ada. dia ada disana.

di tempat ini pula dia untuk pertama kalinya jatuh cinta pada seorang lelaki. lalu berkali - kali. patah hati, berseri - seri, lalu jatuh, dan bangun lagi. dan dia tak pernah jera untuk terus mencoba. sekali pernah disakiti, atau menyakiti. meninggalkan pergi, atau ditinggalkan pergi. semua punya cerita. dan pelajaran di dalamnya.

sudah lama dia berdamai dengan kenangan, yang pada akhirnya terlihat seperti potongan cerita, tak lagi indah atau menyedihkan. karena sesekali membangkitkan masa lalu, yang dia rasakan adalah lucu. menggelikan ketika ditengoknya melalui kacamata yang lebih dewasa. mungkin hari inipun nanti juga akan begitu.

namun, mengemasi setiap potongan yang mengingatkan dirinya akan semua itu, dan bayang - bayang akan tempat yang nanti dia tuju, mau tak mau menciutkan hatinya. nanti, nanti dia akan memulai semua lagi. sama seperti ketika sebelas tahun lalu dia memutuskan pergi untuk ke tempat ini. yang berbeda adalah, dia tak lagi sendiri.

Monday, November 09, 2009

selamat ulang tahun, ya..

dari pertama saya melihatnya, saya merasa tidak aman. saya takut jatuh cinta.


karena pada saat itu, cinta buat saya adalah sesuatu yang penuh dengan segala tanggung jawab dan konsekuensi. hadir sepaket dengan kecemburuan, sakit hati, dan pada akhirnya, kerelaan untuk melepaskan ketika ditinggal pergi. bukan hanya soalan patah hati, tapi menumbuhkan harapan ternyata sama sulitnya. dan kala itu, saya belum siap untuk semuanya.

saya masih ingat jelas pertemuan pertama dengannya. lelaki tak banyak bicara kecuali matanya yang terus-terusan bergerak ketika ada makhluk cantik berseliweran di depannya. dengan kemeja lengan panjang yang lengannya terlipat, kemeja yang kelak saya sadari sangat saya tidak suka, dan terus - terusan protes ketika dia memakainya. pertemuan dengan segelas cappuchino, dan pembicaraan yang tak banyak, kecuali lagilagi, mengomentari wanita - wanita cantik yang ada disana. saya? tak masuk hitungannya kali itu. atau entah kalau hanya dirasa dalam hati saja, karena selanjutnya saya tau, dia adalah lelaki yang sedikit angkuh untuk memuji.

dan pertemuan esoknya pun masih tak jauh beda. masih saja saya yang banyak berbicara, tentang apa saja. lagi-lagi dengan segelas kopi. dia bukan orang yang suka membicarakan dirinya, hidupnya. maka sampai saat itupun saya tak tau banyak, yang saya tau, saya menyukai berada bersamanya. perasaan yang jarang saya rasakan, ketika pertama kali berkenalan dengan seseorang.

mungkin karena perkenalan kami tanpa ekspektasi. meskipun kami berdua berada pada lingkungan yang sama, tapi kami memang tak pernah bersentuhan. saya hanya tau namanya, dan kukira diapun sama. sampai malam ketika seorang teman memperkenalkan kami berdua. dan saya bersyukur dengan ketidaktahuan saya akannya, karena terkadang apa yang ditampilkan dunia maya adalah semu belaka.

sekian lama dari pertemuan itu dan ternyata saya masih bersamanya. lelaki yang semakin saya mengenalnya, semakin membuat saya terpesona. tak hanya hadir dengan kesabaran yang sungguh luas untuk menghadapi saya yang sungguh keras kepala, melainkan juga ketidakromantisan yang terkadang begitu menyebalkan, meski pada akhirnya menyadarkan bahwa hidup memang bukan penggalan dongeng dimana semuanya sempurna. lelaki dengan kejutan - kejutan yang mengagumkan, bukan hanya soal masa lalu dimana akhirnya hanya akan menjadi pelajaran, tapi juga dengan masa depan yang telah dia usahakan.

lelaki yang ternyata tidak hanya mampu membuat saya jatuh cinta pada perkenalan pertama, melainkan juga ketika pertemuan-pertemuan berikutnya. lelaki yang hari ini menggenapkan usianya, dan juga menggenapkan hidup saya.

lalu adalah lelaki, berhati seluas samudra dengan garis kesabaran seperti fatamorgana. yang datang selepas hujan ketika bau tanah basah masih tersisa. menikmati kopi tanpa gula, tanpa sebuah penghianatan. pejalan dari pulau ke pulau, sebelum akhirnya menetap di ibukota. hidup baginya adalah malam, ketika segala topeng telah ditanggalkan, dan kota lebih manusiawi dari biasanya.