tentang pembeli waktu
perjalanan beberapa hari lalu melaju seperti angin, cepat dan tergesa - gesa.
seharusnya tidak begitu. iyah, seharusnya. sedikit menyesal, tapi saya memang tidak suka perasaan menyesal. jadi mencoba menepiskannya jauh - jauh. perjalanan kali ini sebenarnya sudah direncanakan sebelumnya, entah akan melewati surabaya, atau jogja. saya tidak suka surabaya, apalagi bandara nya sekarang yang seringkali mengharuskan saya berjalan jauh, seperti jakarta. saya juga sudah memesan tiket melewati jogja, mengabari seorang teman untuk persinggahan. tetapi karena satu dan lain hal, akhirnya batal. dan jadilah tetap pulang melewati surabaya.
berangkatnyapun demikian. alih-alih untuk penghematan, saya memesan jasa angkutan darat. denpasar - surabaya yang berangkat esok sorenya. membeli kenyamanan. ditambah lagi susahnya mendapatkan angkutan umum disini kecuali taxi, sangat disayangkan kalau saya harus bayar seharga tiket denpasar - surabaya untuk perjalanan ke terminal ubung. saya pikir, saya akan lebih punya banyak waktu untuk persiapan, sambil menunggu jemputan.
rupanya memang, perjalanan kemarin sudah ditakdirkan untuk menjadi tergesa - gesa. takdir, saya katakan begitu. karena itu adalah kemarin, tadi. bukan esok, atau nanti. semua sudah disiapkan. membeli beberapa pesanan, seperti layaknya ketika pulang pada saat lebaran. kaos oblong, kaos joger, kalung manik - manik, dan tak lupa kopi tumbuk . beberapa sudah terbeli, yang lainnya masih bisa dilakukan nanti. saya pikir begitu. tetapi teman tiba - tiba mengabari, untuk rute yang sama dia tak jadi berangkat keesokan paginya. dan menyerahkan sepasang tiket yang tidak lagi bisa di uangkan. dengan alasan itu, akhirnya tiket tersebut saya dan teman seperjalanan yang gunakan. satu sisi menyenangkan, kami akan lebih cepat sampai di kota tujuan. sisi lainnya tidak, karena banyak urusan yang belum terselesaikan.
ah, kalau ingat dulu, tak pernah perjalanan seribet ini. libur tak pernah menghalangi untuk pergi. perjalanan 12 jam hanya sejarak dari jantung ke hati, dekat sekali. wajar untuk waktu 2 minggu bersenang - senang kemudian. satu tidur panjang, dan besoknya sudah sampai. suara pengamen, jadi soundtrack pengiring mimpi. terjaga, masih dnegan perasaan berdegap kencang, karena saya memang tak pernah mengingat rute, dan takut untuk terlewat lagi. 12 jam, walkman, beberapa keping kaset ( iyah, kaset. bukan cd, atau mp3), dan khayalan yang jika dibentangkan, akan sangat panjang. setahun bisa pulang minimal 2 kali, kadang bahkan 3 kali.
mungkin pengaruh umur, saya kira saya memang tak lagi setangguh dulu. terutama psikologis saya. membayangkan naik turun angkutan umum dari tempat tinggal ke terminal saja sudah terbayang melelahkan, apalagi memikirkan berada di bus sekian jam, diselingi acara bergelantungan. jika begini saya jadi merasa tua.
tapi ah, lagilagi ini soalan pilihan dan kesempatan. mungkin juga kemampuan. kesempatan yang semakin menipis, seiring semakin sedikitnya jatah libur dan waktu yang dimiliki. dan kemampuan, bayaran atas sekian jam dalam sehari yang dilewati. memilih bepergian menggunakan pesawat terbang tidak lagi masalah gengsi, melainkan kebutuhan. untuk menghempaskan penat dan kerinduan akan perasaan sebagai anak dari kedua orang tua, tak lagi pengelana. lebih lama. dan segala fasilitas, kenyamanan, kemudahan itu, memang sudah sewajarnya dibayarkan. agak lebih mahal jadinya memang, tapi tak mengapa. bukankah memang waktu tak pernah berharga? dan saya bangga, telah membelinya.
seharusnya tidak begitu. iyah, seharusnya. sedikit menyesal, tapi saya memang tidak suka perasaan menyesal. jadi mencoba menepiskannya jauh - jauh. perjalanan kali ini sebenarnya sudah direncanakan sebelumnya, entah akan melewati surabaya, atau jogja. saya tidak suka surabaya, apalagi bandara nya sekarang yang seringkali mengharuskan saya berjalan jauh, seperti jakarta. saya juga sudah memesan tiket melewati jogja, mengabari seorang teman untuk persinggahan. tetapi karena satu dan lain hal, akhirnya batal. dan jadilah tetap pulang melewati surabaya.
berangkatnyapun demikian. alih-alih untuk penghematan, saya memesan jasa angkutan darat. denpasar - surabaya yang berangkat esok sorenya. membeli kenyamanan. ditambah lagi susahnya mendapatkan angkutan umum disini kecuali taxi, sangat disayangkan kalau saya harus bayar seharga tiket denpasar - surabaya untuk perjalanan ke terminal ubung. saya pikir, saya akan lebih punya banyak waktu untuk persiapan, sambil menunggu jemputan.
rupanya memang, perjalanan kemarin sudah ditakdirkan untuk menjadi tergesa - gesa. takdir, saya katakan begitu. karena itu adalah kemarin, tadi. bukan esok, atau nanti. semua sudah disiapkan. membeli beberapa pesanan, seperti layaknya ketika pulang pada saat lebaran. kaos oblong, kaos joger, kalung manik - manik, dan tak lupa kopi tumbuk . beberapa sudah terbeli, yang lainnya masih bisa dilakukan nanti. saya pikir begitu. tetapi teman tiba - tiba mengabari, untuk rute yang sama dia tak jadi berangkat keesokan paginya. dan menyerahkan sepasang tiket yang tidak lagi bisa di uangkan. dengan alasan itu, akhirnya tiket tersebut saya dan teman seperjalanan yang gunakan. satu sisi menyenangkan, kami akan lebih cepat sampai di kota tujuan. sisi lainnya tidak, karena banyak urusan yang belum terselesaikan.
ah, kalau ingat dulu, tak pernah perjalanan seribet ini. libur tak pernah menghalangi untuk pergi. perjalanan 12 jam hanya sejarak dari jantung ke hati, dekat sekali. wajar untuk waktu 2 minggu bersenang - senang kemudian. satu tidur panjang, dan besoknya sudah sampai. suara pengamen, jadi soundtrack pengiring mimpi. terjaga, masih dnegan perasaan berdegap kencang, karena saya memang tak pernah mengingat rute, dan takut untuk terlewat lagi. 12 jam, walkman, beberapa keping kaset ( iyah, kaset. bukan cd, atau mp3), dan khayalan yang jika dibentangkan, akan sangat panjang. setahun bisa pulang minimal 2 kali, kadang bahkan 3 kali.
mungkin pengaruh umur, saya kira saya memang tak lagi setangguh dulu. terutama psikologis saya. membayangkan naik turun angkutan umum dari tempat tinggal ke terminal saja sudah terbayang melelahkan, apalagi memikirkan berada di bus sekian jam, diselingi acara bergelantungan. jika begini saya jadi merasa tua.
tapi ah, lagilagi ini soalan pilihan dan kesempatan. mungkin juga kemampuan. kesempatan yang semakin menipis, seiring semakin sedikitnya jatah libur dan waktu yang dimiliki. dan kemampuan, bayaran atas sekian jam dalam sehari yang dilewati. memilih bepergian menggunakan pesawat terbang tidak lagi masalah gengsi, melainkan kebutuhan. untuk menghempaskan penat dan kerinduan akan perasaan sebagai anak dari kedua orang tua, tak lagi pengelana. lebih lama. dan segala fasilitas, kenyamanan, kemudahan itu, memang sudah sewajarnya dibayarkan. agak lebih mahal jadinya memang, tapi tak mengapa. bukankah memang waktu tak pernah berharga? dan saya bangga, telah membelinya.
