Saturday, April 25, 2009

satu paket tanggungjawab

keputusan untuk mengambil tanggung jawab akan seorang keponakan dari dua tahun lalu sepertinya tidak benar - benar dijalankan. selain mencukupi kebutuhan sekolah dan memastikan semua baik - baik saja, tidak ada lainnya yang dilakukan.

pembicaraan semalam, berkutat soal ebtanas, mata pelajaran dan keinginan untuk masuk smp yang sama dengan saya dulunya. terjadi beberapa kesalahpahaman, tepatnya ketidakpahaman gaya bahasa yang kami gunakan. empat belas tahun selisih masa diantara saya dan dia, semuanya telah berbeda. ebtanas telah berganti nama menjadi uasbn (dan kali ini saya setuju dengan seorang teman, indonesia tergila-gila dengan akronim), jumlah mata pelajaranpun sudah berbeda, dan mungkin standard untuk masuk ke sekolah lanjutan pun tak sama.

satu gap generasi, dan akhirnya membuat saya sedikit frustasi. bukan karena dia tidak memahami saya, tapi lebih karena saya tak memahami dunianya. saya yang tak melakukan apapun untuk tahu tentang dunianya, mengharapkan dia untuk bisa seperti saya. saya memaksa dia dengan dalih, dulu saya begitu.

dulu. saya. begitu.

berlebihan rasanya untuk meminta padanya melakukan hal yang saya lakukan, sesuatu yang bahkan dia lahirpun belum. jaman berubah. dan saya tidak pernah memelankan langkah hanya untuk menengok jamannya. bahkan ketika segala informasi dengan begitu mudahnya saya bisa dapatkan, tak pernah sekalipun saya mencoba mencari informasi untuknya.

ternyata ini semua memang bukan hanya soalan mencukupi kebutuhannya, menyekolahkannya pada sekolah yang layak, dan memastikan dia tak kekurangan apapun. tanggungjawab tak semudah apa yang telah saya ucapkan. bebarapa hal, bukan karena senilai uang.

4 comments:

yw said...

ga nyangka ya, kata2 yg dulu sering keluar dari mulut org tua yg bikin kita sebel "dulu papa/mama begini...or begitu.." tnyata keluar dari mulut kita juga akhirnya...

well... cycle...of..life?

ika saja said...

dulu. saya. begitu.
sekarang. saya. begini.

a! said...

pantes ya selalu saja ada perang antar-generasi. tidak cuma bahasa, cara berpikirnya juga, beda..

stey said...

itulah kenapa saya ngerasa saya belum pantas untuk jadi ibu..bahkan untuk menjadi orangtua asuh. dengan kehidupan saya yang carut marut ini..