Thursday, July 02, 2009

unconditional life

what's wrong for being nobody?


pembicaraan pagi ini denganmu. pada persimpangan ritme kita. ketika kesadaranku belum sepenuhnya pulih, dan kesadaranmu yang mulai menipis terampas oleh lelah dan gelas-gelas wine setelah makan malam.

ya, apa salahnya untuk menjadi tidak tahu? apa salahnya untuk menjadi tidak cantik? apa salahnya untuk menjadi tidak penting? apa salahnya untuk menjadi tidak pintar? apa salahnya menjadi antitesis dari segala standard yang dipatok oleh publik , atau beberapa orang?


karena ada pada satu waktu, semua itu membuatku muak. mungkin jika hanya sebuah tuntutan, aku masih bisa menerima. toh urusan aku penuhi atau tidak, adalah hal lainnya bukan? tetapi ketika tak terpenuhi dan mulai berbuntut judgements, aku semakin muak.

tapi, kita tak pernah bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan bukan? dan menghawatirkannya, membuatku seakan kembali ke titik nol. sia - sia.

karena memang tak salah untuk menjadi bodoh, norak, jelek, apapun namanya, selama tak ada orang lain yang dirugikan bukan? dan pencitraan yang ingin ditampilkan, pada akhirnya tak lebih dari label harga baju di swalayan yang dibuang di tempat sampah, ketika harga sesungguhnya adalah kenyamanan ketika memakainya.

apa artinya zara, apa artinya rotelli, apa artinya guess, apa artinya kenzo, apa artinya kepura-puraan mengerti padahal sebenarnya tidak peduli.

so, dear.. put off any kind of expectations on me. i could be everybody, or nobody.

dan bukankah lebih indah jika kita bisa bersama tanpa harus ada salah satu memakai topeng karena yang lain menginginkan demikian? karena mungkin pada satu waktu, kamu akan menemukanku duduk manis pada fine dining di restaurant dengan menu seharga gajiku, atau pada kaki lima di emperan toko baju. atau dimanapun. bagaimanapun. karena hidup buatku bukanlah konsep kondisonal. tidak ada kesempatan untuk ketidakmungkinan.

7 comments:

iman brotoseno said...

similar to unconditiona love ???
* eventually...

elia bintang. said...

"dan pencitraan yang ingin ditampilkan, pada akhirnya tak lebih dari label harga baju di swalayan yang dibuang di tempat sampah, ketika harga sesungguhnya adalah kenyamanan ketika memakainya."

deep thought... from my favorite blogger.

pushandaka said...

Waduh, saya sebenarnya ndak pede nulis koment di blog ini. Tulisan kamu terlalu baik dibandingkan gaya menulis saya.

Tapi saya mengerti banget apa yang kamu maksud di tulisan ini. Gampangnya, ndak usah berpura-pura. Iya kan?

hanny said...

wiii aku kangen :D

fuadpunx41 said...

keren keren..
sy jg kadang2 suka brpikir ky gitu..
apalagi waktu smp dan sma..

eh, ksih comment blog aku jg yaa..

thanx inspirasi nya bro..

sastra said...

sayapmu takkan patah, karena angin riuh

Haridivanandha said...

Hanya tertahan sejenak mungkin