"gorengan, kak. gorengannya masih panas.."
dilihatnya seorang anak laki-laki dengan wajah ceria menawarkan gorengan padanya. bukan wajah yang asing, sekian bulan lalu dia juga pernah melihat wajah yang sama, masih dengan senyum yang sama, dan di tempat yang sama. ehm, sebenarnya bukan tempat yang benar-benar sama, tapi bisa dibilang masih disitu-situ juga. jika dulu anak laki-laki itu menawarinya gorengan tepat di pintu sebuah mall di kawasan pejaten, kali ini di halte busway di dekat mall tersebut.
seperti sebelumnya, hari inipun dia menolak. selain karena dia bergegas ingin bertemu temannya, dia juga sedang batuk dan hampir kehilangan suara. meskipun begitu, tak membuat anak lelaki itukehilangan senyumannya. dia tetap menawarkan sekotak gorengan pada orang-orang lain, masih dengan senyum di wajahnya.
dan di sebuah kedai kopi itu dia menemukan seorang wanita sedang duduk sendirian. sungguh, dia sangat merindunya. sangat banyak cerita yang ingin dikisahkan, sangat banyak keingintahuan yang hendak ditanyakan. lebih dari dua bulan sejak terakhir bertemu, dua bulan yang penuh dengan kejadian.
segelas coffee latte, dan segelas cappuchino. tentang bali, tentang pekerjaan baru, tentang rasa bersalah, tentang rencana untuk menikah, tentang sebuah perjalanan.
yadnya, karma, norma. betapa manusia tak bisa lepas dari nasib, mengalami serangkaian pelajaran untuk menuju fase selanjutnya. memang ada pilihan untuk lari, tapi tak ada pelajaran yang lebih indah dari mengalami sendiri.
tak pernah mudah untuk menyatukan dua kepala dan hati, apalagi dua keluarga dengan latar belakang dan pengalaman yang berbeda. lagilagi, semuanya adalah fase, semua adalah pembelajaran. dan tak jarang ada kesedihan. tapi ingatannya kembali pada anak lelaki yang dia temui di tangga tadi.
bahagia adalah sebuah pilihan, bukan?
hanyalah barisan coretan yang membentuk kata, lalu berakhir pada cerita, tentang seseorang yang belajar untuk dewasa dalam dunia kekanak-kanakannya.
Tuesday, April 05, 2011
Monday, April 04, 2011
crazy little thing called love
"All of us have someone hidden in the bottom of our hearts."
ada desir lembut, perih yang manis dan pusaran mesin waktu yang terobrak-abrik selama 118 menit di depan layar televisi 21 inchis yang menyala. kenangan seperti terpapar di depan mata, setiap adegan adalah slide masa lalu, yang dulu terasa begitu menyakitkan. dihadirkan pada malam ketika dia sendirian, sedangkan kedua lelaki sudah pulas tertidur dalam pelukan.
rona merah di pipi, seperti rona pada pipinya. malu-malu ketika melihat lelaki yang disukai, seperti dulu dia mengalaminya. surat cinta, sebuah janji di koridor kelas setelah jam pelajaran usai. hal-hal seperti itu menggelitik perasaannya.
tangkai-tangkai mawar, surat cinta, binar pada sepasang mata, senyum mengembang ketika melihat lelaki yang disukai melintas di depannya. malu-malu. lalu ada perasaan hangat mengalir begitu saja. betapa manisnya adegan ini.
kenangan disajikan tepat di depan mata. sekian tahun dari sekarang. sebelum banyak luka, patah hati, kesedihan dan air mata. sebelum ada penghianatan, sebelum ada banyak kekecewaan. ketika bergandengan tanganpun menjadi begitu istimewa. tak perlu pelukan dan rayuan untuk membuatnya merona.
rindu.
ada rindu untuk hati yang belum pernah mengalami sembilu. ada rindu pada kenaifan, ada rindu pada hal-hal kecil yang mampu membuatnya tertawa manja. pada pikiran yang tak menuntut banyak jawaban, pada saat sebelum cinta menjadi sesuatu yang harus dipertanyakan.
ada rindu untuk perasaan yang lebih sederhana..
tiba-tiba, sebuah pelukan menyadarkan. seperti sebuah kupu-kupu, kedewasaan pun adalah metamorfosa. waktu tak bisa ditarik mundur, hanya bisa dihadirkan lewat ingatan yang tak lagi utuh. masa lalu menjadi indah, karena memang itulah yang ingin disimpan, membuang yang lainnya.
dikecupnya lelaki yang tidur pulas kelelahan. diucapkannya lembut kata-kata yang sering diabaikan karena kesibukan,
...cinta.
ada desir lembut, perih yang manis dan pusaran mesin waktu yang terobrak-abrik selama 118 menit di depan layar televisi 21 inchis yang menyala. kenangan seperti terpapar di depan mata, setiap adegan adalah slide masa lalu, yang dulu terasa begitu menyakitkan. dihadirkan pada malam ketika dia sendirian, sedangkan kedua lelaki sudah pulas tertidur dalam pelukan.
rona merah di pipi, seperti rona pada pipinya. malu-malu ketika melihat lelaki yang disukai, seperti dulu dia mengalaminya. surat cinta, sebuah janji di koridor kelas setelah jam pelajaran usai. hal-hal seperti itu menggelitik perasaannya.
tangkai-tangkai mawar, surat cinta, binar pada sepasang mata, senyum mengembang ketika melihat lelaki yang disukai melintas di depannya. malu-malu. lalu ada perasaan hangat mengalir begitu saja. betapa manisnya adegan ini.
kenangan disajikan tepat di depan mata. sekian tahun dari sekarang. sebelum banyak luka, patah hati, kesedihan dan air mata. sebelum ada penghianatan, sebelum ada banyak kekecewaan. ketika bergandengan tanganpun menjadi begitu istimewa. tak perlu pelukan dan rayuan untuk membuatnya merona.
rindu.
ada rindu untuk hati yang belum pernah mengalami sembilu. ada rindu pada kenaifan, ada rindu pada hal-hal kecil yang mampu membuatnya tertawa manja. pada pikiran yang tak menuntut banyak jawaban, pada saat sebelum cinta menjadi sesuatu yang harus dipertanyakan.
ada rindu untuk perasaan yang lebih sederhana..
tiba-tiba, sebuah pelukan menyadarkan. seperti sebuah kupu-kupu, kedewasaan pun adalah metamorfosa. waktu tak bisa ditarik mundur, hanya bisa dihadirkan lewat ingatan yang tak lagi utuh. masa lalu menjadi indah, karena memang itulah yang ingin disimpan, membuang yang lainnya.
dikecupnya lelaki yang tidur pulas kelelahan. diucapkannya lembut kata-kata yang sering diabaikan karena kesibukan,
...cinta.
Friday, April 01, 2011
mimpi
dulu, saya adalah seorang day-dreamer. tidak hanya waktu malam, bahkan saat terjagapun saya bermimpi.
agak susah memisahkan antara mimpi dan khayalan, kecuali dari waktu ketika kita mengalaminya. mimpi ketika kita terjaga, menurut saya itu adalah khayalan. dan itu membahayakan. seringkali saya menginginkan sesuatu atau menjadi sesuatu, tapi hanya sebatas itu. Usaha paling jauh yang pernah saya lakukan adalah menuliskannya di dream-book, tidak lebih. oya, juga beberapa blog yang awal muasalnya ingin untuk menulis novel, cerpen, pusi dan lain-lainnya, tapi terhenti begitu saja :D
seiring dengan waktu, saya semakin tidak pernah peduli dengan mimpi. tak ubahnya bunga tidur, semua hilang begitu saya terbangun. bahkan sekarang, saya tak lagi ingat mimpi apa semalam. yang menyebalkan, hampir setiap malam saya bermimpi, dan karena tidak ingin mengingatnya, secara otomatis saya memang tak mengingatnya. yang tersisa adalah perasaan senang, sedih, mood yang berantakan ketika terbangun. ternyata itupun tidak lebih baik.
sekarang, mimpi buat saya adalah keinginan sekian waktu ke depan. tak lagi muluk2 mau jadi apa lima atau sepuluh tahun lagi. ingin keliling eropa dan menetap disana. mimpi buat saya adalah apa yang saya akan lakukan minggu depan, bagaimana saya bisa memasak, mencuci baju dan menyelesaikan pekerjaan. korden warna apa yang kelak akan saya gunakan untuk rumah baru yang selesai akhir tahun, dan apa yang saya persiapkan untuk pendidikan anak lanang.hal-hal semacam itulah.
tak lagi ada obsesi dan ambisi. membiarkan semua berjalan apa adanya. saya lebih menikmati saat ini, tak tergesa untuk sampai ke "sana". Suami seringkali bilang, semua akan ada waktunya. dan dengan apa yang terjadi, saya setuju dengan pendapatnya itu.
prioritas hidup telah berubah, saya menjadi lebih realistis. beberapa hal sederhana menjadi begitu penting. dan lainnya tak lebih dari bunga untuk membuat hidup lebih berwarna :)
agak susah memisahkan antara mimpi dan khayalan, kecuali dari waktu ketika kita mengalaminya. mimpi ketika kita terjaga, menurut saya itu adalah khayalan. dan itu membahayakan. seringkali saya menginginkan sesuatu atau menjadi sesuatu, tapi hanya sebatas itu. Usaha paling jauh yang pernah saya lakukan adalah menuliskannya di dream-book, tidak lebih. oya, juga beberapa blog yang awal muasalnya ingin untuk menulis novel, cerpen, pusi dan lain-lainnya, tapi terhenti begitu saja :D
seiring dengan waktu, saya semakin tidak pernah peduli dengan mimpi. tak ubahnya bunga tidur, semua hilang begitu saya terbangun. bahkan sekarang, saya tak lagi ingat mimpi apa semalam. yang menyebalkan, hampir setiap malam saya bermimpi, dan karena tidak ingin mengingatnya, secara otomatis saya memang tak mengingatnya. yang tersisa adalah perasaan senang, sedih, mood yang berantakan ketika terbangun. ternyata itupun tidak lebih baik.
sekarang, mimpi buat saya adalah keinginan sekian waktu ke depan. tak lagi muluk2 mau jadi apa lima atau sepuluh tahun lagi. ingin keliling eropa dan menetap disana. mimpi buat saya adalah apa yang saya akan lakukan minggu depan, bagaimana saya bisa memasak, mencuci baju dan menyelesaikan pekerjaan. korden warna apa yang kelak akan saya gunakan untuk rumah baru yang selesai akhir tahun, dan apa yang saya persiapkan untuk pendidikan anak lanang.hal-hal semacam itulah.
tak lagi ada obsesi dan ambisi. membiarkan semua berjalan apa adanya. saya lebih menikmati saat ini, tak tergesa untuk sampai ke "sana". Suami seringkali bilang, semua akan ada waktunya. dan dengan apa yang terjadi, saya setuju dengan pendapatnya itu.
prioritas hidup telah berubah, saya menjadi lebih realistis. beberapa hal sederhana menjadi begitu penting. dan lainnya tak lebih dari bunga untuk membuat hidup lebih berwarna :)
Subscribe to:
Posts (Atom)