Sunday, February 02, 2014

Choco Baileys Bread Pudding

Saya tipikal orang yang sayang untuk membuang makanan dan bahan2 makanan. Seringkali sengaja untuk membiarkan bahan makanan itu hingga lewat kadaluarsa, baru membuangnya.

Sebenarnya sih dimaksudkan untuk berjaga kalau iseng saya untuk membuat makanan kambuh, seperti hari ini. Apalagi ditambah musim hujan yang sepertinya menjadi alasan permisif untuk membuat camilan.

Maka jadilah keisengan saya dari mengaduk bahan2 yg sisa dan mumpung ada menjadi...Choco Baileys Bread Pudding!

Bahannya :
- 6 lembar roti tawar sisa
- 2 telur
- 1 cup susu UHT plain
- 2 sdm gula pasir
- 1/2 sdt garam
- 1/4 baking powder
- coklat blok dan kismis secukupnya
- 1/2 cup baileys

Cara :
- aduk telur, susu, baking powder, gula, garam sampai merata.
- masukkan roti tawar yg disobek asal, aduk hingga menyerupai bubur.
- masukkan kismis dan coklat blok yg diparut kasar, juga baileys. Aduk hibgga tercampur.
- kukus selama 25 menit. Oiya, saya kukus karena malas mengeluarkan oven. Kayaknya dioven akan lebih enak deh, dg modifikasi tambahkan 2 sdm mentega sebagai pengganti garam.

Dan voilaa...demikian hasilnya :D


Posted via Blogaway

Friday, December 06, 2013

Mesin Waktu ke(m)Bali

Akhir bulan lalu, tidak terasa empat tahun sudah saya tinggal di Jakarta setelah meninggalkan Bali. Dan selama 4 tahun itu, baru sekali saya mengunjungi Bali lagi. Biasanya di bulan - bulan ini ingatan saya tentang Bali berkali lipat dari bulan biasanya. Melankolis :D

Tinggal di Jakarta ternyata tak seburuk yang saya sangka sebelumnya. Disini banyak tempat - tempat menyenangkan untuk didatangi, bahkan jika beruntung beberapa tempat itu tak jauh beda dengan Bali. Jika sedang melintas di beberapa tempat ini, saya bahkan kadang merasa sedang di Bali.

Pertama, Kemang, yang pada jam setelah macet sangat mirip dengan Legian. Deretan artshop berdinding kaca, beberapa pohon kamboja yang berdiri di sisi jalan, bangku - bangku dan trotoar lebar untuk berjalan. Dulu sewaktu tinggal di Mampang, kadang sengaja kesini hanya untuk nostalgia. Menyenangkan!

Kalau rindu suasanya Seminyak, bisa ke Jalan Jaksa di sekitaran Jakarta Pusat. Konon, jalan ini terkenal untuk para backpacker, sayangnya sangat jarang saya kesini karena lokasinya yang berada di luar trayek dan errr...untuk kesini harus melewati Bunderan HI yang macet setiap hari.

Sebenarnya ada hal lain yang bisa membawa saya sejenak seolah berada di Bali, yakni spa. Hohoho. Spa buat saya adalah Bali, apalagi memang ada beberapa salon di Jakarta yang mempunyai standard spa seperti di Bali, salah satunya Martha Tilaar Spa.

Beberapa waktu lalu ketika serangan kangen Bali melanda, sengaja saya manfaatkan kesempatan madol dari kantor untuk ke gerai Martha Tilaar yang ngga jauh dari kantor *grin*, di sekitaran Gandaria. Tinggal 10 menit jalan kaki, rasanya sudah sampai ke Bali, hahaha.

Sebenarnya di gerai yang ini, interiornya lebih mirip spa yang di Yogyakarta. Unsur Jawa di interiornya kental sekali, dengan lampu2 antik gantung dan keramik yang saya kira dipesan di Tegel Kunci. Untuk interior di dalam ruanganpun menggunakan kain-kain batik Jawa dan lurik (kalau tidak salah) , dan kursi-kursi bulat khas Jawa Tengah. Mungkin ini pula yang menjadikan gerai Martha Tilaar di Gandaria ini instead of vintage, jadi berasa tua. Hahaha.




Untuk menetralisir untuk Jawanya, kemarin saya ambil Candle Massage yang Exotic Frangipani. Yup, kamboja adalah hal lain yang Bali-banget! Kalau di daerah lain kamboja identik dengan kuburan, di Bali kamboja bisa menjadi bunga yang ada dimana saja. Setiap ke Salon Spa, saya memang lebih memilih treatment yang lebih banyak pijitannya, karena memang lebih suka dipijit daripada treatment2 cantik lainnya. Rasanya lebih puas! Hahaha.
 
Candle Massage ini memang menggunakan lilin yang sudah dicairkan dan massage Oil. Jangan bayangkan lilin panas disiramin ke tubuh ya, karena dituangnya ketika sudah agak dingin kok! Lama treatment ini kurang lebih 90 menit, tapi kalau bertemu therapist yang oke, bisa dapat bonus. Hahaha. Seperti pas saya kesana, di Mbak therapistnya, Mbak Santi, yang berasal dari Ende, ternyata pernah tinggal di Bali selama hampir 3 bulan untuk di trainning, jadilah kita ngobrol selama treatment sampe hampir...2 jam! Jadi konon Martha Tilaar ini memberikan pelatihan semua therapist nya dengan karantina di Bali (di daerah Tuban, ngga jauh dr tempat saya kerja sebelumnya)  sampai mereka lulus dan mempunyai standard service yang sama.  Karena itu kalau dari segi treatment, di Gandaria maupun di gerai lain sama. Tidak akan mengecewakan!

Treatment Candle Massage ini memang hanya terdiri dari pijatan dan berendam, jadi waktu 90 menit memang benar2 maksimal untuk melakukan hal itu. Massagenya menggunakan teknik traditional massage, jadi pijatan-pijatannya pun berasa. Si Mbak Santi ini pinter meluruskan otot2 yang tegang, terutama bagian punggung dan leher karena kebanyakan di depan komputer :D Bedanya dengan si mbok-mbok pijat di rumah, setelahnya kulit saya jadi lembut dan wangiiiiii....

Kalau ngga suka dengan treatment pijet-pijet yang memang agak hardcore ini, bisalah memilih treatment2 cantik lainnya. Atau kalau hanya mau potong rambut atau manicure pedicure pun di Martha Tilaar ini juga bisa. Untuk harga Candle Massage kemarin sama dengan treatment Spa di Bali, worth it! Untuk harga treatment lain bisa juga tanya langsung di Twitter mereka @Spa_MT , sangat responsif kok!

Untuk saya yang berkantor di Gandaria, salon ini lumayan efektif lah jadi tempat madol, apalagi jika sedang kangen Bali seperti saat ini :')


Wednesday, October 30, 2013

membincang perbedaan

pagi ini berdebat dengan suami, gara-garanya membaca timeline yang ada twitpic sebuah acara "Jomblo Berkah Tanpa Syiah".

Aku bilang "acaranya di masjid UI, ngapain juga kampus UI ngurusin hal ginian?"

Lalu suami bilang,"syiah itu memang salah sih, cuman caranya ya ngga harus gitu (pakai kekerasan) untuk mengarahkannya ke sesuatu yg lebih benar. "

Dan dari situlah perdebatan dimulai. Suami yang lebih paham soal agama, menjelaskan panjang lebar kenapa salah yada yada yada. Lalu merembet ke insiden gereja di bogor yang dibongkar paksa karena didirikan secara ilegal. lalu merembet ke banyak hal. Suami saya orangnya keren, deh! Seringkali saya takjub dengan pengetahuannya akan banyak hal, termasuk soalan hukum-hukum islam dan lain2. (oh, tapi dia tidak tahu apa itu "meme". Ha! Kali ini saya merasa keren :D)

Tapi, dia sedang berbicara dengan saya, orang yang pemahaman agama Islamnya cethek. Saya tidak tahu apa yang membedakan muhammadiyah dan NU, lalu islam kejawen atau islam2 hasil asimiliasi budaya lainnya. Saya juga tidak paham apa itu Syiah dan Sunny. Saya bertanya, "lalu mereka sholat? kitab sucinya alquran? nabinya mohammad?" Jika begitu...lalu dimana masalahnya? See, se-cethek itulah saya melihat sesuatu bernama agama.

Saya bertanya, "kalau Syiah itu diperangi, kenapa ngga sekalian perangi pemeluk agama buddha, kristen, hindu dan atheis sekalian?" Nah kan, makin kelihatan sampai dimana pemahaman saya?

Lalu dia mulai geregetan menjelaskan ke saya yang bebal soalan beginian. Suami adalah orang dengan stock kesabaran yang kayaknya sangat banyak pula (tapi seringkali kehabisan ketika berurusan dengan kebebalan saya :D), dia masih berpijak pada fakta, peraturan dan hukum-hukum yang ada, dia masih sangat waras untuk menggunakan semua itu dalam argumennya. Meski tetap tidak membenarkan tindakan kekerasan apapun unt memaksakan kebenaran ke pihak lain. Lagi2 dia keren!

Tapi asal muasal perdebatan kami bukanlah berita tentang kekerasan agama, melainkan sebuah poster layaknya poster seminar di kampus. Dimananya ada kekerasan? Tidak ada, tapi seminar itu memprovokasi untuk membenci sebuah keyakinan tertentu. Tapi saya membayangkan mengganti kata Syiah itu dengan kristen, buddha, hindu, atheis, konghuchu dan agama-agama lainnya.

Karena di pikiran saya itu bukan soalan hukum-hukum yang harus ditegakkan. Bukan soalan yang benar dan yang salah. (kalau membincang ini, saya yakin saya pun salah. Islam tapi ngga sepenuhnya memahami Islam ).

Menurut saya, ini adalah soalan pelanggaran terhadap hak keimanan/keyakinan orang lain, terlepas apakah keimanan/keyakinan tersebut salah (menurut orang lainnya). Saya seringkali berfikir begini, keyakinan kita terhadap sang pencipta itu adalah hubungan vertikal dalam ruang yang sangat personal. Sebuah ranah yang seyogyanya tidak dimasuki dengan paksa oleh orang lain, kecuali memang kita membukakan pintunya dan berkata, misalnya "tolong ajari aku beribadah yang baik." Karena saya tidak suka ketika seseorang yang tidak saya persilahkan masuk kesitu tiba-tiba berkata, "bagaimana kalau kamu ikut saya bersembahyang di gereja?"

Ruangan itu, seharusnya dipisahkan dengan urusan duniawi. Syukur-syukur jika ruangan itu bisa memantulkan vibrant yang membuat urusan duniawi lebih baik. Tapi, jangan sampai karena ruangan itu memenuhi seluruh hati kita, kemudian kita mencampuradukkan hubungan manusia-manusia dengan keyakinan mereka pada tuhannya. Tak perlulah kita dobrak paksa untuk masuk ke area itu dan melanggar hak keimanan orang lain. Toh, masing - masing orang pastilah merasa apa yang di-imani benar, bukan? Biarlah area itu tetap begitu, tetap benar karena iman bagi yang meyakininya.

Dan, tak bisakah kita memakai ukuran lain untuk menimbang interaksi duniawi, manusia dengan manusia lainnya, atau manusia dengan sekitarnya. Tak bisakah kita memakai ukuran bernama kebaikan saja? atau cinta kasih? atau, kemerdekaan personal tanpa harus melanggar kemerdekaan lainnya?

Kala berkata demikian, saya membayangkan tuhan sedang tertawa-tawa, melihat manusia yang diciptakannya berbeda-beda saling ribut menganggap dirinya paling benar di antara lainnya.