keputusan untuk mengambil tanggung jawab akan seorang keponakan dari dua tahun lalu sepertinya tidak benar - benar dijalankan. selain mencukupi kebutuhan sekolah dan memastikan semua baik - baik saja, tidak ada lainnya yang dilakukan.
pembicaraan semalam, berkutat soal ebtanas, mata pelajaran dan keinginan untuk masuk smp yang sama dengan saya dulunya. terjadi beberapa kesalahpahaman, tepatnya ketidakpahaman gaya bahasa yang kami gunakan. empat belas tahun selisih masa diantara saya dan dia, semuanya telah berbeda. ebtanas telah berganti nama menjadi uasbn (dan kali ini saya setuju dengan seorang teman, indonesia tergila-gila dengan akronim), jumlah mata pelajaranpun sudah berbeda, dan mungkin standard untuk masuk ke sekolah lanjutan pun tak sama.
satu gap generasi, dan akhirnya membuat saya sedikit frustasi. bukan karena dia tidak memahami saya, tapi lebih karena saya tak memahami dunianya. saya yang tak melakukan apapun untuk tahu tentang dunianya, mengharapkan dia untuk bisa seperti saya. saya memaksa dia dengan dalih, dulu saya begitu.
dulu. saya. begitu.
berlebihan rasanya untuk meminta padanya melakukan hal yang saya lakukan, sesuatu yang bahkan dia lahirpun belum. jaman berubah. dan saya tidak pernah memelankan langkah hanya untuk menengok jamannya. bahkan ketika segala informasi dengan begitu mudahnya saya bisa dapatkan, tak pernah sekalipun saya mencoba mencari informasi untuknya.
ternyata ini semua memang bukan hanya soalan mencukupi kebutuhannya, menyekolahkannya pada sekolah yang layak, dan memastikan dia tak kekurangan apapun. tanggungjawab tak semudah apa yang telah saya ucapkan. bebarapa hal, bukan karena senilai uang.
hanyalah barisan coretan yang membentuk kata, lalu berakhir pada cerita, tentang seseorang yang belajar untuk dewasa dalam dunia kekanak-kanakannya.
Saturday, April 25, 2009
Tuesday, April 21, 2009
mengekalkan ingatan
kukira memang manusia mempunyai kecenderungan untuk mengekalkan ingatan pada sesuatu.
buku misalnya.
maka ketika beberapa hari lalu kurapikan rak buku di kamar, itu serasa bernostalgia dengan rentetan potongan peristiwa yang tak terkait satu dan lainnya. ya, itu semacam bentuk hubungan eksklusive anatara aku dengan beberapa orang yang ingatan tentangnya tersimpan dalam bentuk sebuah buku.
mungkin serupa teresa dalam unbearable lightness-nya milan kundera, dimana dia selalu membawa buku anna karenina kemana - mana, sebagai sebuah pintu untuk berkomunikasi dengan individu lainnya. begitulah buku buatku. sedikit perbedaan dengan teresa, aku tak menggambarkan buku serupa gengsi atas status intelektual, meski pada akhirnya seleksi alam mengelompokkan manusia - manusia pecinta buku dalam satu komunitas.
dan untuk kedua kalinya, aku merasa begitu kehilangan ketika tak kutemukan satu buku pada deretan buku - buku lainnya. sajak lengkap goenawan mohamad 1961 - 2001. bukan buku yang menarik untuk dipinjam, bahkan kukira hanya aku saja yang menggemarinya. dan seringkali menjadi pilihan untuk teman perjalanan. kuhubungi beberapa teman hanya untuk meyakinkan tak ada seorangpun yang meminjamnya, dan memang begitu. buku itu raib begitu saja.
ini kehilangan kedua setelah sekian tahun yang lalu aku kehilangan buku berjudul hidup ini. tak banyak yang tau buku itu, pengarangnya seorang dosen universitas di surabaya. jangan tanya apa yang sudah kulakukan untuk mendapatkannya lagi, mulai dengan searching di internet, menghubungi penerbit dan mencoba mendapatkan kontak untuk pengarangnya sendiri. dan hasilnya nol. buku lama dan tidak mengalami cetak ulang. pemberinya adalah pacar pertama, teman sekelas waktu sma. sekarang sudah menikah, dan sudah punya anak yang berulang tahun sama denganku (kukira itu kutukan buatnya, hahaha).
untuk buku yang terakhir sepertinya lebih gampang untuk mencari penggantinya. aku sudah pesan ke salah satu toko buku online dan sedang dalam proses pencarian. semoga saja ada, kupikir penerbit tak mengeluarkan cetakan kedua untuk buku ini. semoga ada. pemberinya? seorang lelaki tentu saja, pacar kesekian entah aku lupa. *hai, hein! maap!* mungkin jika buku pengganti itu datang, tak kan sama dengan sebelumnya, tak ada lagi coretan tangan "jika aku masih disini", tapi setidaknya buku itu akan sedikit banyak mengekalkan ingatanku akannya.
mungkin sia - sia aku jika aku menepis kata - kata goenawan mohamad dalam salah satu puisinya yang kutuliskan disini. tapi, bukankah hidup adalah rangkaian percobaan yang mungkin diantaranya merupakan kesia-siaan.
waktu adalah mesin hitung, cintaku
jam berkeloneng dingin (seperti gaung)
di kota itu. angka-angka telah lama tahu:
bayangku akan hilang sebelum salju
sementara kau akan tetap jalan
(seperti kenyataan). sampai pada giliran.
mengaku, tiap kali daun jatuh di rambutmu:
"ternyata kenangan hanya perkara yang lucu"
tentu. tidak apa. kita tak memilih acara.
pada angin runcing dan warna musim kau juga
akan terbiasa. nasib telah begitu tertib.
pada lupa kita juga akan jadi karib.
buku misalnya.
maka ketika beberapa hari lalu kurapikan rak buku di kamar, itu serasa bernostalgia dengan rentetan potongan peristiwa yang tak terkait satu dan lainnya. ya, itu semacam bentuk hubungan eksklusive anatara aku dengan beberapa orang yang ingatan tentangnya tersimpan dalam bentuk sebuah buku.
mungkin serupa teresa dalam unbearable lightness-nya milan kundera, dimana dia selalu membawa buku anna karenina kemana - mana, sebagai sebuah pintu untuk berkomunikasi dengan individu lainnya. begitulah buku buatku. sedikit perbedaan dengan teresa, aku tak menggambarkan buku serupa gengsi atas status intelektual, meski pada akhirnya seleksi alam mengelompokkan manusia - manusia pecinta buku dalam satu komunitas.
dan untuk kedua kalinya, aku merasa begitu kehilangan ketika tak kutemukan satu buku pada deretan buku - buku lainnya. sajak lengkap goenawan mohamad 1961 - 2001. bukan buku yang menarik untuk dipinjam, bahkan kukira hanya aku saja yang menggemarinya. dan seringkali menjadi pilihan untuk teman perjalanan. kuhubungi beberapa teman hanya untuk meyakinkan tak ada seorangpun yang meminjamnya, dan memang begitu. buku itu raib begitu saja.
ini kehilangan kedua setelah sekian tahun yang lalu aku kehilangan buku berjudul hidup ini. tak banyak yang tau buku itu, pengarangnya seorang dosen universitas di surabaya. jangan tanya apa yang sudah kulakukan untuk mendapatkannya lagi, mulai dengan searching di internet, menghubungi penerbit dan mencoba mendapatkan kontak untuk pengarangnya sendiri. dan hasilnya nol. buku lama dan tidak mengalami cetak ulang. pemberinya adalah pacar pertama, teman sekelas waktu sma. sekarang sudah menikah, dan sudah punya anak yang berulang tahun sama denganku (kukira itu kutukan buatnya, hahaha).
untuk buku yang terakhir sepertinya lebih gampang untuk mencari penggantinya. aku sudah pesan ke salah satu toko buku online dan sedang dalam proses pencarian. semoga saja ada, kupikir penerbit tak mengeluarkan cetakan kedua untuk buku ini. semoga ada. pemberinya? seorang lelaki tentu saja, pacar kesekian entah aku lupa. *hai, hein! maap!* mungkin jika buku pengganti itu datang, tak kan sama dengan sebelumnya, tak ada lagi coretan tangan "jika aku masih disini", tapi setidaknya buku itu akan sedikit banyak mengekalkan ingatanku akannya.
mungkin sia - sia aku jika aku menepis kata - kata goenawan mohamad dalam salah satu puisinya yang kutuliskan disini. tapi, bukankah hidup adalah rangkaian percobaan yang mungkin diantaranya merupakan kesia-siaan.
waktu adalah mesin hitung, cintaku
jam berkeloneng dingin (seperti gaung)
di kota itu. angka-angka telah lama tahu:
bayangku akan hilang sebelum salju
sementara kau akan tetap jalan
(seperti kenyataan). sampai pada giliran.
mengaku, tiap kali daun jatuh di rambutmu:
"ternyata kenangan hanya perkara yang lucu"
tentu. tidak apa. kita tak memilih acara.
pada angin runcing dan warna musim kau juga
akan terbiasa. nasib telah begitu tertib.
pada lupa kita juga akan jadi karib.
Wednesday, April 15, 2009
teman seperjalanan

kukira relationship yang ideal adalah serupa teman seperjalanan. tentu bukan yang satu di depan dan yang lain di belakang, melainkan bersisi-sisian. bergandengan tangan tanpa ada yang memaksa yang satu turut dengan lainnya. masing - masing akan bertanggung jawab dengan dirinya, membantu yang lain ketika jatuh untuk kembali berjalan. menikmati setiap titik tanpa tergesa untuk segera sampai pada tujuan. toh pada akhirnya, pencapaian adalah bukan yang utama kan?
tapi lagi-lagi, ideal hanya ada di pikiran..
Subscribe to:
Posts (Atom)