Friday, August 12, 2011

home, not just a house

kadang kami masih terkaget - kaget, terkadang kami juga masih tersenyum2 girang, setengah tidak percaya bahwa semua terjadi begitu cepat, jauh lebih cepat dari apa yang kami bayangkan.

bagaimana tidak, jika hampir 2 tahun lalu ketika kami menikah, tak pernah terbayangkan kami akan memiliki rumah, dalam waktu yang cepat. yaks, meskipun bagi beberapa orang 2 tahun bukan wkatu yang cepat, bahkan ada yg justru mempersiapkan rumah sebelum menikah, tidak berlaku bagi kami.

saya dan suami terbiasa hidup mandiri dari kami masih sama - sama lajang. besar kecil penghasilan tak pernah jadi masalah, toh pada akhirnya akan habis begitu akhir bulan. rencana menikah yang hanya sekian bulan, tetap membuat kami keras kepala tak menerima uluran dana dari orang tua. dengan tabungan kami berdua, toh akhirnya upacara pernikahan terselenggara juga, dengan pesta kecil tapi kami selalu bisa berbangga bahwa kami menikah memakai uang sendiri. :D

jangan bayangkan kehidupan keluarga kecil penuh rencana pada awal2 pernikahan kami. dengan tabungan yang habis untuk pernikahan, toh pada akhirnya saya tetap bisa melahirkan si anak lanang, dan membesarkannya dengan jerih payah sendiri.

dan sampailah kami disini...

minggu lalu pihak developer memberitahukan bahwa rumah kami sudah selesai dibangun. bukan rumah yang besar, tapi kukira akan cukup untuk kami bertiga, atau berempat jika kelak akan ada adik si anak lanang.*wink*

toh dari yang saya baca, rumah kecil justru akan membuat hubungan kami semakin dekat, bukan? :D

dan hari ini, geli rasanya ketika kami memilih -milih akan seperti apa desain dapur nanti, warna tembok kami, dan mau dibuat seperti apa kamar si kecil kelak. tak pernah terbayangkan bahwa semua ini begitu menyenangkan, terlepas dari harganya yang tentu akan menguras tabungan kami kemudian. hahaha. kami hanya ingin menjadikannya rumah, tempat dimana hati kami berada dan tujuan untuk pulang.

Friday, August 05, 2011

menulis perasaan

Menulislah segera, tidak nanti atau besok. Menulislah dengan jujur, apa yang kamu alami, apa yang kamu rasakan, apa yang kamu cium baunya.

Demikianlah yang dibilang @zenrs sore itu. Panjang lebar dia bercerita tentang pengalamannya menulis, menuliskan hal - hal sehari - hari dengan cara yang biasa.

Bagaimana membedakan sebuah proses menulis dan menyunting. Bagaimana ketika seorang penulis menuliskan emosinya tanpa sebuah jeda, tanpa sebuah keinginan untuk menoleh ke belakang, tanpa sebuah pretensi apakah tulisannya akan bagus atau tidak.

Sesederhana itu.

Hanya saja dalam prosesnya ternyata tak sesimpel menuliskan apa yang dirasakan. Permasalahannya adalah, bagaimana jika tidak merasa? Bahkan suatu hal yang kita kira membuat bahagia, berdebar-debar, sedih atau bahkan telah membuat kita menangispun, ketika sampai pada suatu akhir, ternyata tak menyisakan apapun. Bahkan tidak juga emosi menghentak yang sebelumnya dirasakan demikian hebatnya.

Saya masih bisa mengingat jelas, ada waktu dimana saya begitu intens menulis. Setiap hari satu tulisan, bahkan beberapa kali lebih. Menulis dari hal - hal yang begitu sederhana, tapi meninggalkan kesan yang mendalam dalam ingatan saya hari itu ketika saya berniat menuliskannya. Tentang pasir, laut, tentang rindu, bahkan..tentang bunga jatuh di pinggir jalan.

Saya paham yang dimaksud @zenrs ketika mengatakan "menulislah apa yang kamu rasakan."

Hanya saja saya tak paham ketika dia berkata, "dan jakarta adalah kota dengan banyak cerita. Banyak hal yang bisa dimaki, banyak hal yang bisa dikritik."

Saya tahu itu, tapi bagaimana jika saya bahkan tak bisa merasakan hal itu? Saya tak lagi bisa merasakan macet di mampang prapatan, pengemis di pinggir jalan, bahkan tak juga bisa merasakan emosi marah pada seorang ibu yang rela mengajak bayinya mengemis di perempatan yang terik. Saya tak lagi menemukan "rasa" itu, ketika saya mencoba menuliskannya.

Dan hari ini, kembali saya berusaha untuk mencari tahu, kemana perginya kepekaan yang dl saya miliki? Dimulai dari perjalanan dari rumah menuju kantor, bertemu dengan seorang teman, berbicara dengan beberapa teman lainnya, dan ketika saya menuliskan ini, saya sedang menunggu beeberapa teman lain untuk buka puasa, di tempat yang berbeda. Saya berusaha untuk membawa emosi saya dalam setiap hal yang saya lakukan, bahkan ketika saya berjabat tangan dengan seorang kolega.

Saya akhirnya sedikit paham, kenapa saya semakin susah merasakan sesuatu di Jakarta. Atau lebih tepatnya semakin tidak ingin merasakan. Karena merasakan itu melelahkan. Ada secuil emosi, pikiran, atau hati saya yang berkurang setiap kali saya mengalami hal yang tak menyenangkan. Meskipun tetap saja, ada tambahan cuilan di setiap kesenangan yang datang.

Tapi melihat anak - anak mengemis dan tidur di jembatan penyeberangan tanpa alas, membuat ibu - ibu tak bertanggungjawab yang membawa bayi entah siapa meminta-minta di lampu merah, melihat seorang pengendara yang mengebut dan menyebabkan musibah untuk yang lainnya, benar - benar membuat energi saya berkurang jauh, bahkan saya menjadi begitu sedih.

Sangat sedih.

Saya membayangkan bayi-bayi itu adalah anak saya, lalu membayangkan ibu-ibu itu adalah ibu saya, dan orang - orang tak dikenal itu adalah saudara saya.

Lalu saya merasa begitu dekat dengan apa yang mereka lakukan, apa yang mereka raakan. Dan itu perih rasanya.

Mungkin ini alasan kenapa saya memilih untuk menafikkan perasaan, yang pada akhirnya membuat saya tak lagi menulis.

Karena saya tak lagi emosi, karena saya tak lagi melihat sesuatu dan berempati, dan karena saya tak ubahnya sebuah robot, berjalan tanpa memori.

Mungkin karena itulah saya memang perlu menulis lagi. Ini seperti menuangkan sampah pada sebuah pembuangan, lalu selanjutnya akan dibawa pergi oleh mobil pengangkut sampah.

Hidup di jakarta memang melelahkan, terlalu banyak hal untuk dicacimaki, terlalu banyak hal untuk dibenci, dan menulis saya kira adalah sebuah terapi untuk menyeimbangkan apa yang saya "makan" dengan cara "membuangnya" pada tulisan.

Thanks, zen! Untuk sore di kelas yang menyenangkan.

Tuesday, July 12, 2011

jarum jam




dulu, ada kalanya aku ingin melawan kekuatan semesta. dengan kesombongan dan dada yang dibusungkan, aku ingin tahu, apa jadinya jika aku tak turut serta dalam rencana maha sempurna yang disusunnya untuk hidupku.

kala itu, diam kukira adalah aksi paling heroik yang bisa aku lakukan. aku tak bergerak, tak berinteraksi dan tak melakukan satu hal pun. aku ingin melihat bagiamana dunia akan berevolusi tanpa aku ada di dalamnya. sudah cukup, kataku. aku tak ingin semesta bersenang-senang dan mempermainkan hidupku.

dan lagilagi, kukira diam adalah jawaban dari dunia yang tak mengenal kata stagnan.

hingga beberapa saat kemudian aku mulai berfikir, bagaimana jika justru semesta sedang tertawa terbahak-bahak melihat aksi heroik konyolku itu?

bagaimana jika semesta justru berkata, emang kamu siapa? sok-sokan melawan kosmik, belawan rotasi, melawan waktu?

waktu.

jadi itulah masalahnya. kosmik, rotasi dan waktu. dan aku cuman partikel kecil yang tersentil lalu ditinggalkan ketika aku sok protes dengan diam. karena pada kenyataannya, semua tetap berjalan sesuai rencana. semua bergerak dengan ada atau tidaknya aku. lalu diam tak ubahnya kekonyolan belaka. aku hanya seperti gadis kecil yang merajuk hanya karena tak kebagian topi pesta dengan mengunci pintu kamar ketika semua orang berpesta di luaran.

konyol bukan?

tapi lagilagi aku terlalu gengsi untuk mengakui betapa konyol rencana heroik yang telah kususun rapi itu. aku tak ingin mengakui bahwa aku telak kalah, bahkan sebelum rencana kudetaku dieksekusi.jadi kuputuskan saja untuk mengacuhkan waktu.

hal pertama yang kulakukan adalah melepas jam tanganku. lalu, aku mengganti jam dinding di kamar kost dengan jam dinding tanpa angka, hanya jarum2 yang bergerak samar. aku menyapih mataku dari ketergantungan untuk melihat jam, dan membiasakannya tak melihat pergelangan tangan dimana biasanya ada jam disitu.

tak mungkin aku terbebas dari waktu, tapi setidaknya aku tak terpenjara, kupikir begitu.

dan aku bersyukur jam kesayanganku telah rusak sebelumnya, ketika kubawa snorkeling di daerah nusa dua, sehingga tak ada rasa berat untuk melepas jam tangan murahan yang kubeli di pinggir jalan.

delapan tahun sudah kira-kira aku tak pernah memakai jam tangan. dan tak ingin memiliki jam tangan. hingga sabtu malam lalu, lelakiku tanpa rencana terlebih dahulu mengajakku setengah terpaksa ke gerai jam di sebuah mall daerah jakarta selatan. dengan perasaan terpaksa dan girang, akhirnya aku memilih sebuah jam tangan merah marun bergaya tomboi untuk kupakai.

seperti sebuah perkenalan baru, hari ini betapa canggung pagiku. di tengah meeting yang hening, aku terhenyak kaget mendengar suara detik yang kukira adalah detak jantungku. sempat jeda, sebelum kusadari itu adalah bunyi detik dari jarum jam tangan yang bergerak pasti.

jeg. jeg. jeg. jeg. jeg. jeg.

lalu tanpa sadar, kukira begitu juga detak nadi di tanganku, lalu di dadaku. lalu suara itu berputar-putar di kepalaku. beruntung suara rekan kerjaku memecah hening, mengaburkan suara jarum jam dan membebaskanku dari intimidasi waktu.

lalu kembali kusadari sesuatu. sialan!

Tiba2 waktu menjadi begitu akrab, detik sudah menjadi soundtrack, sedekat jantung berdetak. Aku terjebak.