Akhir bulan lalu, tidak terasa empat tahun sudah saya tinggal di Jakarta setelah meninggalkan Bali. Dan selama 4 tahun itu, baru sekali saya mengunjungi Bali lagi. Biasanya di bulan - bulan ini ingatan saya tentang Bali berkali lipat dari bulan biasanya. Melankolis :D
Tinggal di Jakarta ternyata tak seburuk yang saya sangka sebelumnya. Disini banyak tempat - tempat menyenangkan untuk didatangi, bahkan jika beruntung beberapa tempat itu tak jauh beda dengan Bali. Jika sedang melintas di beberapa tempat ini, saya bahkan kadang merasa sedang di Bali.
Pertama, Kemang, yang pada jam setelah macet sangat mirip dengan Legian. Deretan artshop berdinding kaca, beberapa pohon kamboja yang berdiri di sisi jalan, bangku - bangku dan trotoar lebar untuk berjalan. Dulu sewaktu tinggal di Mampang, kadang sengaja kesini hanya untuk nostalgia. Menyenangkan!
Kalau rindu suasanya Seminyak, bisa ke Jalan Jaksa di sekitaran Jakarta Pusat. Konon, jalan ini terkenal untuk para backpacker, sayangnya sangat jarang saya kesini karena lokasinya yang berada di luar trayek dan errr...untuk kesini harus melewati Bunderan HI yang macet setiap hari.
Sebenarnya ada hal lain yang bisa membawa saya sejenak seolah berada di Bali, yakni spa. Hohoho. Spa buat saya adalah Bali, apalagi memang ada beberapa salon di Jakarta yang mempunyai standard spa seperti di Bali, salah satunya Martha Tilaar Spa.
Beberapa waktu lalu ketika serangan kangen Bali melanda, sengaja saya manfaatkan kesempatan madol dari kantor untuk ke gerai Martha Tilaar yang ngga jauh dari kantor *grin*, di sekitaran Gandaria. Tinggal 10 menit jalan kaki, rasanya sudah sampai ke Bali, hahaha.
Sebenarnya di gerai yang ini, interiornya lebih mirip spa yang di Yogyakarta. Unsur Jawa di interiornya kental sekali, dengan lampu2 antik gantung dan keramik yang saya kira dipesan di Tegel Kunci. Untuk interior di dalam ruanganpun menggunakan kain-kain batik Jawa dan lurik (kalau tidak salah) , dan kursi-kursi bulat khas Jawa Tengah. Mungkin ini pula yang menjadikan gerai Martha Tilaar di Gandaria ini instead of vintage, jadi berasa tua. Hahaha.
Untuk menetralisir untuk Jawanya, kemarin saya ambil Candle Massage yang Exotic Frangipani. Yup, kamboja adalah hal lain yang Bali-banget! Kalau di daerah lain kamboja identik dengan kuburan, di Bali kamboja bisa menjadi bunga yang ada dimana saja. Setiap ke Salon Spa, saya memang lebih memilih treatment yang lebih banyak pijitannya, karena memang lebih suka dipijit daripada treatment2 cantik lainnya. Rasanya lebih puas! Hahaha.
Candle Massage ini memang menggunakan lilin yang sudah dicairkan dan massage Oil. Jangan bayangkan lilin panas disiramin ke tubuh ya, karena dituangnya ketika sudah agak dingin kok! Lama treatment ini kurang lebih 90 menit, tapi kalau bertemu therapist yang oke, bisa dapat bonus. Hahaha. Seperti pas saya kesana, di Mbak therapistnya, Mbak Santi, yang berasal dari Ende, ternyata pernah tinggal di Bali selama hampir 3 bulan untuk di trainning, jadilah kita ngobrol selama treatment sampe hampir...2 jam! Jadi konon Martha Tilaar ini memberikan pelatihan semua therapist nya dengan karantina di Bali (di daerah Tuban, ngga jauh dr tempat saya kerja sebelumnya) sampai mereka lulus dan mempunyai standard service yang sama. Karena itu kalau dari segi treatment, di Gandaria maupun di gerai lain sama. Tidak akan mengecewakan!
Treatment Candle Massage ini memang hanya terdiri dari pijatan dan berendam, jadi waktu 90 menit memang benar2 maksimal untuk melakukan hal itu. Massagenya menggunakan teknik traditional massage, jadi pijatan-pijatannya pun berasa. Si Mbak Santi ini pinter meluruskan otot2 yang tegang, terutama bagian punggung dan leher karena kebanyakan di depan komputer :D Bedanya dengan si mbok-mbok pijat di rumah, setelahnya kulit saya jadi lembut dan wangiiiiii....
Kalau ngga suka dengan treatment pijet-pijet yang memang agak hardcore ini, bisalah memilih treatment2 cantik lainnya. Atau kalau hanya mau potong rambut atau manicure pedicure pun di Martha Tilaar ini juga bisa. Untuk harga Candle Massage kemarin sama dengan treatment Spa di Bali, worth it! Untuk harga treatment lain bisa juga tanya langsung di Twitter mereka @Spa_MT , sangat responsif kok!
Untuk saya yang berkantor di Gandaria, salon ini lumayan efektif lah jadi tempat madol, apalagi jika sedang kangen Bali seperti saat ini :')
hanyalah barisan coretan yang membentuk kata, lalu berakhir pada cerita, tentang seseorang yang belajar untuk dewasa dalam dunia kekanak-kanakannya.
Friday, December 06, 2013
Wednesday, October 30, 2013
membincang perbedaan
pagi ini berdebat dengan suami, gara-garanya membaca timeline yang ada twitpic sebuah acara "Jomblo Berkah Tanpa Syiah".
Aku bilang "acaranya di masjid UI, ngapain juga kampus UI ngurusin hal ginian?"
Lalu suami bilang,"syiah itu memang salah sih, cuman caranya ya ngga harus gitu (pakai kekerasan) untuk mengarahkannya ke sesuatu yg lebih benar. "
Dan dari situlah perdebatan dimulai. Suami yang lebih paham soal agama, menjelaskan panjang lebar kenapa salah yada yada yada. Lalu merembet ke insiden gereja di bogor yang dibongkar paksa karena didirikan secara ilegal. lalu merembet ke banyak hal. Suami saya orangnya keren, deh! Seringkali saya takjub dengan pengetahuannya akan banyak hal, termasuk soalan hukum-hukum islam dan lain2. (oh, tapi dia tidak tahu apa itu "meme". Ha! Kali ini saya merasa keren :D)
Tapi, dia sedang berbicara dengan saya, orang yang pemahaman agama Islamnya cethek. Saya tidak tahu apa yang membedakan muhammadiyah dan NU, lalu islam kejawen atau islam2 hasil asimiliasi budaya lainnya. Saya juga tidak paham apa itu Syiah dan Sunny. Saya bertanya, "lalu mereka sholat? kitab sucinya alquran? nabinya mohammad?" Jika begitu...lalu dimana masalahnya? See, se-cethek itulah saya melihat sesuatu bernama agama.
Saya bertanya, "kalau Syiah itu diperangi, kenapa ngga sekalian perangi pemeluk agama buddha, kristen, hindu dan atheis sekalian?" Nah kan, makin kelihatan sampai dimana pemahaman saya?
Lalu dia mulai geregetan menjelaskan ke saya yang bebal soalan beginian. Suami adalah orang dengan stock kesabaran yang kayaknya sangat banyak pula (tapi seringkali kehabisan ketika berurusan dengan kebebalan saya :D), dia masih berpijak pada fakta, peraturan dan hukum-hukum yang ada, dia masih sangat waras untuk menggunakan semua itu dalam argumennya. Meski tetap tidak membenarkan tindakan kekerasan apapun unt memaksakan kebenaran ke pihak lain. Lagi2 dia keren!
Tapi asal muasal perdebatan kami bukanlah berita tentang kekerasan agama, melainkan sebuah poster layaknya poster seminar di kampus. Dimananya ada kekerasan? Tidak ada, tapi seminar itu memprovokasi untuk membenci sebuah keyakinan tertentu. Tapi saya membayangkan mengganti kata Syiah itu dengan kristen, buddha, hindu, atheis, konghuchu dan agama-agama lainnya.
Karena di pikiran saya itu bukan soalan hukum-hukum yang harus ditegakkan. Bukan soalan yang benar dan yang salah. (kalau membincang ini, saya yakin saya pun salah. Islam tapi ngga sepenuhnya memahami Islam ).
Menurut saya, ini adalah soalan pelanggaran terhadap hak keimanan/keyakinan orang lain, terlepas apakah keimanan/keyakinan tersebut salah (menurut orang lainnya). Saya seringkali berfikir begini, keyakinan kita terhadap sang pencipta itu adalah hubungan vertikal dalam ruang yang sangat personal. Sebuah ranah yang seyogyanya tidak dimasuki dengan paksa oleh orang lain, kecuali memang kita membukakan pintunya dan berkata, misalnya "tolong ajari aku beribadah yang baik." Karena saya tidak suka ketika seseorang yang tidak saya persilahkan masuk kesitu tiba-tiba berkata, "bagaimana kalau kamu ikut saya bersembahyang di gereja?"
Ruangan itu, seharusnya dipisahkan dengan urusan duniawi. Syukur-syukur jika ruangan itu bisa memantulkan vibrant yang membuat urusan duniawi lebih baik. Tapi, jangan sampai karena ruangan itu memenuhi seluruh hati kita, kemudian kita mencampuradukkan hubungan manusia-manusia dengan keyakinan mereka pada tuhannya. Tak perlulah kita dobrak paksa untuk masuk ke area itu dan melanggar hak keimanan orang lain. Toh, masing - masing orang pastilah merasa apa yang di-imani benar, bukan? Biarlah area itu tetap begitu, tetap benar karena iman bagi yang meyakininya.
Dan, tak bisakah kita memakai ukuran lain untuk menimbang interaksi duniawi, manusia dengan manusia lainnya, atau manusia dengan sekitarnya. Tak bisakah kita memakai ukuran bernama kebaikan saja? atau cinta kasih? atau, kemerdekaan personal tanpa harus melanggar kemerdekaan lainnya?
Kala berkata demikian, saya membayangkan tuhan sedang tertawa-tawa, melihat manusia yang diciptakannya berbeda-beda saling ribut menganggap dirinya paling benar di antara lainnya.
Aku bilang "acaranya di masjid UI, ngapain juga kampus UI ngurusin hal ginian?"
Lalu suami bilang,"syiah itu memang salah sih, cuman caranya ya ngga harus gitu (pakai kekerasan) untuk mengarahkannya ke sesuatu yg lebih benar. "
Dan dari situlah perdebatan dimulai. Suami yang lebih paham soal agama, menjelaskan panjang lebar kenapa salah yada yada yada. Lalu merembet ke insiden gereja di bogor yang dibongkar paksa karena didirikan secara ilegal. lalu merembet ke banyak hal. Suami saya orangnya keren, deh! Seringkali saya takjub dengan pengetahuannya akan banyak hal, termasuk soalan hukum-hukum islam dan lain2. (oh, tapi dia tidak tahu apa itu "meme". Ha! Kali ini saya merasa keren :D)
Tapi, dia sedang berbicara dengan saya, orang yang pemahaman agama Islamnya cethek. Saya tidak tahu apa yang membedakan muhammadiyah dan NU, lalu islam kejawen atau islam2 hasil asimiliasi budaya lainnya. Saya juga tidak paham apa itu Syiah dan Sunny. Saya bertanya, "lalu mereka sholat? kitab sucinya alquran? nabinya mohammad?" Jika begitu...lalu dimana masalahnya? See, se-cethek itulah saya melihat sesuatu bernama agama.
Saya bertanya, "kalau Syiah itu diperangi, kenapa ngga sekalian perangi pemeluk agama buddha, kristen, hindu dan atheis sekalian?" Nah kan, makin kelihatan sampai dimana pemahaman saya?
Lalu dia mulai geregetan menjelaskan ke saya yang bebal soalan beginian. Suami adalah orang dengan stock kesabaran yang kayaknya sangat banyak pula (tapi seringkali kehabisan ketika berurusan dengan kebebalan saya :D), dia masih berpijak pada fakta, peraturan dan hukum-hukum yang ada, dia masih sangat waras untuk menggunakan semua itu dalam argumennya. Meski tetap tidak membenarkan tindakan kekerasan apapun unt memaksakan kebenaran ke pihak lain. Lagi2 dia keren!
Tapi asal muasal perdebatan kami bukanlah berita tentang kekerasan agama, melainkan sebuah poster layaknya poster seminar di kampus. Dimananya ada kekerasan? Tidak ada, tapi seminar itu memprovokasi untuk membenci sebuah keyakinan tertentu. Tapi saya membayangkan mengganti kata Syiah itu dengan kristen, buddha, hindu, atheis, konghuchu dan agama-agama lainnya.
Karena di pikiran saya itu bukan soalan hukum-hukum yang harus ditegakkan. Bukan soalan yang benar dan yang salah. (kalau membincang ini, saya yakin saya pun salah. Islam tapi ngga sepenuhnya memahami Islam ).
Menurut saya, ini adalah soalan pelanggaran terhadap hak keimanan/keyakinan orang lain, terlepas apakah keimanan/keyakinan tersebut salah (menurut orang lainnya). Saya seringkali berfikir begini, keyakinan kita terhadap sang pencipta itu adalah hubungan vertikal dalam ruang yang sangat personal. Sebuah ranah yang seyogyanya tidak dimasuki dengan paksa oleh orang lain, kecuali memang kita membukakan pintunya dan berkata, misalnya "tolong ajari aku beribadah yang baik." Karena saya tidak suka ketika seseorang yang tidak saya persilahkan masuk kesitu tiba-tiba berkata, "bagaimana kalau kamu ikut saya bersembahyang di gereja?"
Ruangan itu, seharusnya dipisahkan dengan urusan duniawi. Syukur-syukur jika ruangan itu bisa memantulkan vibrant yang membuat urusan duniawi lebih baik. Tapi, jangan sampai karena ruangan itu memenuhi seluruh hati kita, kemudian kita mencampuradukkan hubungan manusia-manusia dengan keyakinan mereka pada tuhannya. Tak perlulah kita dobrak paksa untuk masuk ke area itu dan melanggar hak keimanan orang lain. Toh, masing - masing orang pastilah merasa apa yang di-imani benar, bukan? Biarlah area itu tetap begitu, tetap benar karena iman bagi yang meyakininya.
Dan, tak bisakah kita memakai ukuran lain untuk menimbang interaksi duniawi, manusia dengan manusia lainnya, atau manusia dengan sekitarnya. Tak bisakah kita memakai ukuran bernama kebaikan saja? atau cinta kasih? atau, kemerdekaan personal tanpa harus melanggar kemerdekaan lainnya?
Kala berkata demikian, saya membayangkan tuhan sedang tertawa-tawa, melihat manusia yang diciptakannya berbeda-beda saling ribut menganggap dirinya paling benar di antara lainnya.
Tuesday, September 03, 2013
Eka, Kayla dan Labirin Rasa
Ini prestasi!
Saya akhirnya bisa menyelesaikan 1 buku hingga lembar terakhir dalam 3 hari, setelah bertahun-tahun. Hahaha. Dulu sebulan bisa membaca 5 - 9 buku, tapi setelah menikah dan punya anak, sepertinya hanya bisa menyelesaikan maksimal 1/3 buku, bahkan banyak buku yang masih rapi dibungkus plastik. (Maafkan teman2 yg sudah berbaik hati membelikan buku :D)
Setelah bulan lalu ada rak buku baru, saya jadi tertarik membaca lagi. Maklum, sebelumnya buku2 hanya ditumpuk tak beraturan di lemari yang sudah reyot, jadi seringnya saya lupa punya buku apa yang belum selesai dibaca.
Sebenarnya prestasi menyelesaikan 1 buku itu juga didorong karena yang nulis teman saya sih, Eka Situmorang. :D Saya mengenalnya beberapa tahun lalu. Pertama kali bertemu kalau ngga salah pas Pesta Blogger 2009, lanjut di Twitter dan kopdar2 dengan komunitas. Perempuan manis yang mempunyai aura positive, membuat banyak teman-temannya betah, termasuk saya. Energi senangnya meletup-letup, kalaupun dia tidak sedang senang, atau sedang sebal dengan orang lain dan nerocos mengutarakan kekesalan, tetap enak saja didengarnya.
Mau tidak mau saya selalu membayangkan Kayla, tokoh dalam novel Labirin Rasa yang dia tulis, adalah dia. Karena saya mengenal Eka setelah dia bekerja di hotel, jadi saya asumsikan dia yang saya kenal adalah Kayla yang telah bermetamorfosa. Saya tidak tahu apakah Eka dulu secuek, segendut, sejerawatan dan seklumus Kayla. :D
Jadi, Labirin Rasa ini menceritakan tentang Kayla, cewe tomboy, bercelana jeans, cuek, ceplas ceplos, dan ngga banget, yang karena obsesinya pada lelaki cinta pertamanya, Ruben, melakukan perjalanan ke beberapa kota untuk mengobati sakit hati, untuk mencari makna hidup, dan juga akhirnya untuk patah hati lagi. Perjalanan - perjalanan yang justru akhirnya memberikan hal yang lebih dari tujuan awal.
Dari segi tokoh, sekali lagi, susah memisahkan Eka & Kayla. Mungkin memang lebih mudah bagi penulis untuk menuliskan cerita yang pernah dialami atau disaksikan. Meski belum tentu juga cerita tentang Kayla adalah cerita tentang Eka. Yang paling menonjol sebenarnya adalah ketika Eka menggambarkan seksualitas yang ada di pikiran Kayla ketika bertemu beberapa lelaki. Kayla yang digambarkan sebagai perempuan cuek dan masih sangat awam terhadap sebuah hubungan, kayaknya kurang pas ketika pertama kali bertemu dengan seseorang, yang terpikirkan adalah masculinity. Dulu ketika saya masih polos dan belum pernah ciuman, kayaknya kalau lihat cowok ganteng ngga ada hasrat, selain "oh..cowo itu ganteng. Kayaknya enak nih kalau bisa dipeluk." Nah, untuk ukuran Kayla pada bab-bab awal, kayaknya pikiran2 yang menjurus pada sexuality sepertinya terlalu expert. Itu Eka banget! Hahaha.
Dari plot ceritanya, saya suka! Sangat masuk akal seseorang yang belum pernah jatuh cinta pada usia se-Kayla, akan terobsesi pada cinta pertamanya. Kalau Kayla masih SD dan terobsesi pada cinta pertama, itu agak lebay. Karena biasanya jatuh cinta saat usia - usia ABG, seringnya adalah cinta monyet yang akan menjadi kekonyolan dan kenangan lucu (ya, kecuali kalau hubungannya ditindaklanjuti ketika sudah dewasa). Obsesi Kayla pada Ruben selama bertahun-tahun hingga dia melakukan banyak hal yang tidak masuk akal, adalah wajar. Eka menghadirkan cerita yang membuat pembacanya kembali bernostalgi, mungkin menghadirkan sedikit sengatan karena kenangan. Jika pembaca tidak pernah mengalami patah hati pun, Labirin Rasa tetap akan menghadirkan cerita yang menghanyutkan. Yang saya sukai lagi, Eka membuat happy ending yang masuk akal. Tidak selalu bahagia itu jika cerita berakhir dengan dua tokoh utama bersama selamanya. Lebih bisa masuk logika ketika Eka menutup ceritanya dengan keputusan Kayla bersama orang lain setelah apa yang dilakukan Ruben. Bukankah ini yang harus disadari oleh beberapa orang yang tidak bisa move on, bahwa akan ada waktu dimana enough is enough. Dunia masih berputar dan masih banyak pintu kebahagiaan lain meski kita patah hati, meski kita dikhianati.
Saya juga suka cerita ketika Kayla, yang ber-IP satu koma, karena sakit hati menyibukkan diri dengan belajar hingga bisa lulus dengan IP 3koma. Ini agak-agak dongeng mungkin bagi sebagian orang. Tapi untuk orang lain, ini adalah hal yang mungkin. Kita bisa membalikkan kesedihan itu menjadi energi untuk melakukan hal-hal positif. Energi tidak menghilang, dia hanya berubah bentuk. Dan dalam Labirin Rasa, Eka berusaha mengungkapkan itu, entah disadari atau tidak.
Yang sebenarnya agak mengganjal buat saya di plot cerita adalah banyaknya tempat yang dikunjungi Kayla dalam waktu yang singkat. Darimana dia mendapatkan uang untuk itu? Untuk Kayla yg anak kuliah belum beres, kayaknya agak ngga masuk akal bisa jalan2 ke Yogya, Malang (oke, 2 ini bisa dijangkau dg kereta/bis murah), Bali dan Lombok. Kayla cewek mandiri, tidak mungkin dia menggunakan uang orang tuanya untuk jalan2 (meski menginap di saudara lho ya). Lalu Makassar, Eka tidak detil menceritakan bagaimana Kayla kembali setelah dia kecewa dengan Cynthia. Saya juga tak melihat alasan jelas kenapa dia memilih New Zaeland sebagai tempat bulan madu. Saya pikir Kayla yg petualang, dan Patar yang pemuda pasar, terlepas dari kemampuan finansial, tidak akan memilih tempat yang mahal untuk bulan madu. Eka seperti ingin menjejalkan kota - kota dan negara ( New Zaeland ) yang mungkin pernah dia kunjungi dalam Labirin Rasa. Kegilaan seseorang yang patah hati memang memungkinkan dia melakukan apapun, tapi pada faktanya perjalanan untuk penyembuhan seringkali harus dilalaui sendiri (seperti Kayla di bab2 awal), tidak melulu harus menyibukkan diri dengan berwisata keliling kota, atau berkenalan dan flirting dengan orang-orang baru. Seringkali pengalaman hidup dipetik justru tidak soal percintaan. Human interaction , human - nature interaction dan hal-hal lain seringkali menjadi obat yang lebih manjur untuk patah hati.
Meski setiap kota diceritakan dengan detil, tapi tergesa-gesa. Seperti ada kesan dia ingin merangkum ingatan-ingatan akan kota-kota itu dalam satu buku. Saya berharap, dia akan menulis buku lagi, lalu fokus pada 1 - 3 kota untuk satu cerita. Mengeksplore kota itu, atau mengeksplore si tokoh lebih dalam.
Untuk editorial, saya hanya menyadari satu halaman yang parah habis. Di halaman 256, dimana harusnya Kayla berdialog dengan Ruben, malah dituliskan namanya Patar. Nah lho? :D Selebihnya sih oke-oke saja, karena saya juga bukan orang perhatian di detil dan masih bisa lancar membaca meski typo. Hahahaha.
Novel romansa sebenarnya bukan pilihan saya ketika berada di toko buku, tapi membaca Labirin Rasa itu menyenangkan. Ceritanya ringan, mengalir dan membuat kita penasaran bagaimana akhirnya. Eka menyelipkan banyak pelajaran terutama untuk wanita - wanita yang sedang mencari cinta sejati. Banyak hal terjadi di luar yang kita harapkan, padahal hal itu justru akan membawa kita pada kebaikan. Energi positif Eka tersirat jelas disini. Saya menyelesaikannya sekitaran 3 hari, dan ini memberikan harapan minat baca saya akan tumbuh lagi. Hihi.
*artikel ini diikutkan Lomba Review Labirin Rasa.
Subscribe to:
Posts (Atom)





