Friday, December 08, 2006

tentang mendulang sayang

.. dan gesekan tidak selalu memperburuk keadaan, bahwa aus bukan melulu tentang kehilangan, ataupun semua itu adalah kemunduran. lihat saja kita teman. semua gesekan yang pernah mampir semakin menghilangkan tabirtabir yang kita tidak sadar adanya, hingga saat ini, ketika kita bisa saling pandang layaknya menikmati keindahan dalam ruang tak berpenghalang. saat terpahami jelas, pelukan atau kebersendirian yang kita paling perlukan di tiap lengkung kehidupan.

...manis sekali yang kamu katakan. sapa mengira kita akan sampai disini satu hari? ketika semua diawali dari sapaan ganjil dan kadang mengusik hati. senyuman, bahkan seringpula cemberut - cemberutan. tak bersapa oleh berjejalnya kesibukan. tidak satu kali, melainkan seringkali. kadang bahkan tamparan untuk menguatkan. lalu pelukan yang membuatnya nyaman. tak harus sama agar bisa bersama. pun juga beda menambah berharga. berbagi mimpi, maski seringkali tersakiti. menyadari satu hal, bahwa jarak hanya sejengkal hati...

buat nana dan gita, mari bersulang!! untuk pertemanan aneh yang menyenangkan..

Thursday, December 07, 2006

tentang remahan cerita

kita harus bahagia yah!!!


dan kita berpisah. sesekali menoleh kebelakang dan melambaikan tangan. melempar senyuman dengan kerlingan sayang. ah, kamu manis sekali, teman.

sampai dimana mimpi? sejak hari itu, sudah kupersiapkan satu tas ransel untuk menemaniku pergi. didalamnya, telah kumasukkan sekotak sereal yang kutahu hanya akan menemani sekian perjalanan. tak apa, karena nanti akan kutemukan banyak nutrisi jiwa. pasti. karena memang kita akan bahagia.

seperti pagi ini. apa yang lebih menyenangkan dari pagi? ketika memori terhapus oleh mimpi. dan menyisakan satu ruang kosong tanpa sesak yang memenuhi. mencumbu hujan bulan desember dari balik jendela, ditemani secangkir kopi. pagi yang sempurna, sebelum akhirnya harus kembali berlomba dengan pendeknya waktu yang tersisa. tak mengapa, tak perlu lama. karena lama hanya akan membuatnya menjadi biasa.

itu secuil bahagia.

lalu, ketika kemarin menghabiskan senja di pantai kuta. tak harus di tempat yang istimewa. cukuplah di bangku panjang, sambil melihat orang berlalu lalang. mungkin mereka tak pernah sadari adaku disana. itupun tak mengapa. karena memang aku bukan pusat dunia. bukan siapa - siapa. sebelum akhirnya yang kutunggu datang menjelang. bangku panjang, teman - teman yang menyenangkan, minuman - minuman tak memabukkan, tembakau beberapa batang, obrolan tentang mimpi yang harus diwujudkan dan senja dari sang maha karya, apalagi yang kurang?

begitulah bahagia ada.

pun ketika malam menjelang. lampu merah tengah jalan. disela lelah setelah semuanya dikira selesai sudah. sebentar lagi, mungkin akan kembali terpuruk pada kamar persegi berteman sepi. sampai kudapatkan semacam mata lugu sedang melihatku. kira - kira, apa yang sedang dipikirkan? malamnya pastilah lebih sepi dari malamku. dan dinginnya, pastilah lebih dingin dari dinginku. mungkin juga, dia sedang lapar. tak pernah kubayangkan sekotak sereal sebagai bekal, untuk makhluk kecil berbaju kumal. apalagi nutrisi jiwa, sedang untuk badannya saja mungkin dia lupa. mungkin karena terpesona, aku hanya bisa memandangnya. aku tak punya apa, nona. selain senyum sisasisa. dan kulihat dia mendekat. sejarak jengkal, lalu dia berkata, senyum kakak manis sekali.

ah, terima kasih, nona kecil. untuk bahagia yang sederhana.

Friday, December 01, 2006

tentang bunga desember



pernah kamu sadari adaku?

aku memang tak pernah muncul di hadapanmu. sesekali, dalam kurun waktu yang lama sekali. bayangkan saja, ketika ingatan akanku sudah terlupa, aku justru berada disana. hanya untuk sementara, sebelum akhirnya aku kembali sirna. sebelas bulan, dan dibayarkan hanya untuk sekejap mata. tapi aku merindukanmu, untuk melihat senja bersama - sama.

meski hujan masih saja tak setia. harusnya dia sudah menghampiri, bukannya angkuh disana berdiri. seakan kita ini onggokan tubuh yang tak perlu peduli. tak tahukan dia, tentang rindu yang terperi. pun ketidakmampuan untuk bertahan dari panasnya bumi.

tapi sudahlah, apa yang mampu kita gumamkan pada hari? sedang setia pun tak pernah lagi berjanji. tapi untukmu kujanjikan terus ada disini. sesekali setelah rindu setengah mati. sekarang aku disini, mari kita menari - mari. tahun ini mungkin tak akan lama lagi, yang terlewat tak usah disesali. masih ada esok yang menanti.

-pikirantakpentingsetengahsinting-