Thursday, December 07, 2006

tentang remahan cerita

kita harus bahagia yah!!!


dan kita berpisah. sesekali menoleh kebelakang dan melambaikan tangan. melempar senyuman dengan kerlingan sayang. ah, kamu manis sekali, teman.

sampai dimana mimpi? sejak hari itu, sudah kupersiapkan satu tas ransel untuk menemaniku pergi. didalamnya, telah kumasukkan sekotak sereal yang kutahu hanya akan menemani sekian perjalanan. tak apa, karena nanti akan kutemukan banyak nutrisi jiwa. pasti. karena memang kita akan bahagia.

seperti pagi ini. apa yang lebih menyenangkan dari pagi? ketika memori terhapus oleh mimpi. dan menyisakan satu ruang kosong tanpa sesak yang memenuhi. mencumbu hujan bulan desember dari balik jendela, ditemani secangkir kopi. pagi yang sempurna, sebelum akhirnya harus kembali berlomba dengan pendeknya waktu yang tersisa. tak mengapa, tak perlu lama. karena lama hanya akan membuatnya menjadi biasa.

itu secuil bahagia.

lalu, ketika kemarin menghabiskan senja di pantai kuta. tak harus di tempat yang istimewa. cukuplah di bangku panjang, sambil melihat orang berlalu lalang. mungkin mereka tak pernah sadari adaku disana. itupun tak mengapa. karena memang aku bukan pusat dunia. bukan siapa - siapa. sebelum akhirnya yang kutunggu datang menjelang. bangku panjang, teman - teman yang menyenangkan, minuman - minuman tak memabukkan, tembakau beberapa batang, obrolan tentang mimpi yang harus diwujudkan dan senja dari sang maha karya, apalagi yang kurang?

begitulah bahagia ada.

pun ketika malam menjelang. lampu merah tengah jalan. disela lelah setelah semuanya dikira selesai sudah. sebentar lagi, mungkin akan kembali terpuruk pada kamar persegi berteman sepi. sampai kudapatkan semacam mata lugu sedang melihatku. kira - kira, apa yang sedang dipikirkan? malamnya pastilah lebih sepi dari malamku. dan dinginnya, pastilah lebih dingin dari dinginku. mungkin juga, dia sedang lapar. tak pernah kubayangkan sekotak sereal sebagai bekal, untuk makhluk kecil berbaju kumal. apalagi nutrisi jiwa, sedang untuk badannya saja mungkin dia lupa. mungkin karena terpesona, aku hanya bisa memandangnya. aku tak punya apa, nona. selain senyum sisasisa. dan kulihat dia mendekat. sejarak jengkal, lalu dia berkata, senyum kakak manis sekali.

ah, terima kasih, nona kecil. untuk bahagia yang sederhana.

9 comments:

lavender said...

bahagia itu selalu ada didekat kita, hanya saja terkadang kehadirannya tidak tersadari karena kita sendiri terlalu asyik memikirkan si ruwet cs :p

buw, senyum saya manis gak?

pria.purnama said...

happiness is in the air, all we need to do is embrace it

*wink*

crushdew said...

Just do what must be done. This may not be happiness, but it is greatness. **** -- George Bernard Shaw

tengkyu bwt postingna buw...
yah kita ingin bahagia yang sederhana
dengan remahan nutrisi jiwa

Hedi said...

Bahagia itu kita sendiri yang menentukan kriterianya, jadi berbeda-beda, ada yang sulit dan ada yang sederhana...

mata said...

asalkan kamu bahagia. kita lakukan apa saja. begitulah kata mata :)

bebek said...

@crushdew, nutrisi jiwa?? hihihi.... dengernya terkesan sehat gitu deh kalo denger kata nutrisi.
dew... mana rumah barunya? lama banged launching-nya :p

gita said...

bahagia sederhana. bahagiapun bisa tanpa sebab...

dirac said...

bahagia itu ada di mana? ada di hati, bukan di kepala. Karena itulah kita tidak bisa menalar, apa itu bahagia? Tapi kita masih bisa, merasa.

kramero said...

post nya keren Wi..
Aura bahagianya kerasa.. :)