Tuesday, March 29, 2011

anak lanang

kehadiranmu adalah sebuah kejutan. yang hinggap bahkan ketika tak kami perkirakan. ada perasaan takut, tentu saja, dan selanjutnya hanya ada bahagia. bahagia, bahagia dan bahagia.

sembilan bulan, sekian perjalanan sejak dalam kandungan. bukan perkara yang mudah untuk kita jalani, yah nang? penerbangan denpasar - jakarta, denpasar - bandung, denpasar - kediri dan akhirnya denpasar - jakarta. belum lagi ketika harus berkendara dari denpasar - ubud - singaraja, atau bandung - jakarta, atau surabaya - kediri. belum lagi bangun pagi - pagi dan tidur larut malam. juga ketika harus menghentikan kebiasaan ibu untuk minum kopi di awal bulan kamu ada.

terimakasih untuk tidak membuat semuanya menjadi lebih sulit. untuk tidak adanya mual pagi hari, muntah-muntah atau berbagai hal menyiksa lainnya. terima kasih untuk kesabarannya, bahkan ketika akhirnya kami memutuskan untuk melahirkanmu di bengkulu, kota yang benar-benar baru.

dan tentu saja, terima kasih untuk kehadiranmu yang benar-benar ada. yang bisa kami peluk, cium dan tentu saja sudah mulai bisa meminta. terimakasih untuk genggaman tanganmu yang menguatkan, menyadarkan bahwa sekarang tak lagi hanya ibu dan ayah, tapi ada kamu diantaranya.

sehatlah selalu, nang. seperti biasanya. tetaplah tertawa, tersenyum, dan bahagia. kuatkan kaki, mari belajar untuk berjalan. meski kali ini, kamu akan memulainya dengan kakimu sendiri. tak apa terjatuh, karena dengan begitu kamu akan belajar untuk berdiri. nikmati setiap langkah, yang mungkin nanti tak mudah. tapi seperti waktu, bagaimanapun kita akan berjalan ke depan, bukan?

tak usah tergesa untuk dewasa, nikmati saja setiap perjalanannya..

Monday, March 28, 2011

mengasah pisau

otak itu seperti pisau, semakin lama tak digunakan, akan semakin cepat karatan.

saya masih ingat sekali kalimat itu, terus menerus terngiang-ngiang di kepala. kalimat yang dari kecil sudah seperti senjata untuk ibu menyuruh saya belajar. baca apa aja, klo sempet yang dipelajari krn bagaimanapun otak itu perlu latihan, blablabla. begitu kalimat yang selalu ibu saya bilang. kalimat yang seringkali berakhir dengan kata2 tadi, klo ga dipake nanti akan karatan.

dan sepertinya sekarang saya benar2 merasakan apa artinya kata-kata itu. hampir 1,5 tahun, atau tepatnya 16 bulan sejak saya mengajukan surat pengunduran diri terakhir kalinya, dan sejak saat itu, bisa dibilang saya memang sangat jarang memakai otak saya :D jangankan untuk mempelajari banyak hal, untuk membaca buku yang sudah numpuk di rak pun tak pernah. berdalih tak punya waktu lah, sibuk ngurus anak lah, ga ada asisten lah, dan lah-lah lain yang sebenarnya bersumber dari kemalasan saya.

masih ada beberapa buku yang belum dibaca, majalah yang hanya disentuh beberapa lembar, dan blog yang tentu saja terabaikan. berapa kali saya mencoba konsisten untuk menulis, tapi berakhir dengan 1 postingan saja untuk sekian bulan.

ketika asyik menikmati kemalasan, tiba-tiba saya mendapat tawaran. atau lebih tepat jika disebut tantangan, untuk kembali mengasah kemampuan (tsahhh!) untuk menulis. iya, menulis. sesuatu yang selama ini menjadi hobby dan pelarian di waktu yang kadang-kadang, mau tak mau menjadi sebuah profesi baru. jangan bayangkan menulis novel, atau cerpen. bukan seperti itu.

saya tak harus menulis panjang lebar seperti postingan, tak juga harus menyentuh seperti sebuah karya sastra. yang perlu dilakukan hanya mengemas kata menjadi menarik, menjadi sebuah bahan perbincangan. seperti basa basi di sebuah pesta, yang pada akhirnya melahirkan percakapan. masalahnya adalah, saya bukan seseorang yang suka bergaul apalagi basa-basi.

pertama kali ditawari, saya kira akan mudah. saya iyakan saja, toh belum tentu ada tawaran selanjutnya, pikir saya saat itu. apalagi, apa sih susahnya membuat alter ego? tapi ternyata tidak segampang yang saya bayangkan, sodara-sodara! dunia tetap berputar meski saya berhenti menulis. dan ketika saya mencoba kembali menulis, dunia tulis menulis sudah jauh meninggalkan saya. *lebay*

dan akhirnya disinilah saya, bukan hanya kembali mempergunakan pisau yang telah lama tidak digunakan, sayapun harus berusaha lebih keras untuk mengasahnya. fewh!

hal berat lainnya adalah menyesuaikan ritme saya dengan kata-kata yang sudah berlarian. keluar dari zona nyaman yang terbiasa dengan "remember password" ke dunia manual, salah satunya saya harus mencoba-coba berbagai macam password untuk masuk ke "dashboard" blog ini. dan berakhir dengan ..I reset my password :))

banyak sepertinya yang harus saya kejar, saya pelajari, saya asah. semoga kali ini, dunia mau berbaik hati memperlambat lajunya agar saya bisa mengikuti. meskipun tetap, saya ingin dimaklumi,

something wrong with my mind, or better i'd say brain. or memory. or age. or whatever.

Sunday, February 06, 2011

sekian cerita dan masih akan ada lagi.

apalah hidup jika tidak mengalami.

sebuah pesan masuk ke telepon genggam saya pagi ini, bahkan bisa dibilang terlalu pagi untuk kabar yang tidak menyenangkan. seorang teman baik mengabarkan bahwa perempuannya -yang juga teman baik saya-, baru saja mendarat di pulau seberang, dan mulai hari ini akan menetap disana, entah sampai kapan.

dan tiba - tiba ada perasaan aneh menyelinap dalam hati, antara sedih kehilangan dan kecemburuan. bagaimana tidak cemburu, jika tempat yang dituju adalah "rumah" yang harus saya tinggalkan.

kenapa dia pergi, tanya saya pada si lelaki.

karena pada saat aku seumur dia, aku pergi dari jogja ke jakarta. jadi sekarang waktunya dia meninggalkan jakarta, katanya.

jawaban yang membuat saya terhenyak dan seketika menghapuskan kecemburuan saya. tak ada alasan lain, selain harus pergi. menemukan sesuatu yang tidak dicari. atau mencari sesuatu yang tidak dimengerti. pergi untuk entah.

belakangan ini, seringkali perasaan rindu akan sebuah perjalanan menghinggapi pikiran saya. saya merindukan pikiran impulsif untuk pergi ke suatu tempat, kenekadan untuk bisa sampai kesana, bau asap kendaraan, lalu lalang. perjalanan yang lebih banyak saya lakukan untuk melarikan diri.

saya tak sadar, bahwa sekarangpun saya sedang melakukan sebuah perjalanan, seperti yang dilakukan teman saya tersebut. menuju sebuah fase baru dalam hidup saya, seperti 14 tahun lalu ketika memutuskan meninggalkan kota kelahiran. perjalanan yang sesungguhnya bukanlah berapa kota yang telah disinggahi, melainkan sampai sejauh mana hati bisa dibawa pergi. tidak melulu untuk menghindari, melainkan menyongsong apa yang akan ditemui.

kota baru, status baru, pekerjaan baru. sudah agak basi untuk mengatakan baru, ketika saya sudah menjalaninya lebih dari setahun. tapi memang begitulah buat saya, semua masih terasa baru. saya masih gamang, bahkan seringkali saya tergagap. sepertinya saya terlalu lama berkutat di zona nyaman. apa yang saya songsong, dan apa yang saya tinggalkan tarik menarik menimbulkan kebimbangan. saya lupa, hidup itu maju, dan masa lalu tertinggal jauh di belakang.

seperti teman saya, -saya atau orang - orang lain-, memang tak bisa selamanya diam, stagnan. semua bergerak, berjalan. jika ditanya apa lagi yang saya cari, saya pun tak yakin bisa menjawabnya. apa yang dari dulu saya impikan, telah saya dapatkan. tapi tak ada yang abadi selain perubahan, bukan? dan perjalanan membuatnya demikian.

dua puluh delapan tahun. sekian cerita dan masih tidak berhenti. hingga nanti.

P.S. "genggam tanganku erat, dan kuatkan. pada diamku kamu tau, aku mencintaimu.."