Thursday, November 30, 2006

tentang ketakutan

hihihi. ternyata begitu yah rasanya lelah? ketika harus melompat - lompat diatas ujung karang - karang yang tersebar di sebuah pantai. bukan tentang berapa jauh dan banyaknya karang yang dilewati, melainkan lelah karena mengatasi ketakutan diri sendiri sampai - sampai tak bernyali, melihat dasar karang yang gelap dan tersembunyi. yang ada di pikiran, apa jadinya jika terjatuh dan mati? padahal bisa saja itu hanya ilusi yang kuciptakan sendiri. iya, aku melihat uluran tanganmu. pun merasakan ketika kamu genggam jariku, sambil berkata tak apa, dewi. tak apa. tapi tak bisa lihatkah kamu, kakiku hanya gemetar terdiam dikalahkan ketakutan sehingga tak mau sedikitpun beranjak pergi.


oleh-oleh liburan akhir pekan,
menepi dari riuhnya bumi.


**ini yang kamu bilang, sisi lain?

Wednesday, November 29, 2006

tentang rasa dan logika

katakan padaku, kemana kita akan pergi.

aku tau kamu tau aku begitu mencintai pantai. tapi untuk terus berlama lama disini sama saja membuatku mati. sudah kusiapkan segepok hati untukmu menemani, tapi jika kamu tak punya jawaban yang pasti, lebih baek aku menyingkir dan pergi.

aku tau kamu tau perjalanan tak harus dengan tujuan, sesekali singgah ke kedai kopi atau ke toko untuk menukarkan mimpi mungkin memang diperlukan. tapi berjalan tanpa sebuah pencapaian, seperti berlayar hanya mengandalkan angin yang penuh penghianatan.

aku tau kamu tau tentang uluran tangan yang kamu tawarkan. menggenggam jemariku tanpa satupun terlewatkan. tapi, dimana pelukan ketika aku begitu kedinginan.

aku tau kamu tau, semua ini begitu melelahkan.

**untuk yang sedang tergantung..

Monday, November 27, 2006

tentang jalan yang bercabang




sudah, jangan sedih. perjalanan tak akan terhenti sampai disini kok. kita masih akan tetap beriringan, hanya saja mungkin tak lagi bergandengan tangan. karena jarak terlalu lebar terbentang, sedang lengan hanya sepanjang jangkauan. pun keinginan untuk mengusahakan sudah hampir kehabisan, sehingga yang ada hanya sisa - sisa kenangan. kamu tau, momen yang dilewatkan begitu menyenangkan. hanya saja, sayang sekali, mimpi terlewat tanpa jejak dan kehangatan menghilang beriring dengan keyakinan yang semakin tenggelam. tapi apa yang hendak disalahkan? karena smua terjadi tanpa kita tersadarkan.

lalu, apa yang sudah kamu siapkan? sini, kubantu kamu untuk merapikan. sepotong baju hangat untuk musim dingin, dan kertas kertas untuk mencatatkan musim semi yang akan datang. pun remahan roti untuk menuntunmu pulang. jangan lupa membawa peta, tentang negeri segala mimpi, dan kompas, untuk mengingatkanmu akan jalan menuju ilahi.

aku sendiri, belum ada persiapan, karena semua ini terjadi seperti sebuah kilatan. terlalu cepat, dan tak pernah diperkirakan. tak apa. akupun sekarang akan bergegas, mengejar mimpi yang telah menetas.

sampai nanti, teman. pada ujung sebuah perjuangan.
see you when i see you...