Friday, October 06, 2006

tentang rimba polutan

saya kembali, dari perjalanan ke sebuah kota berlimpah polusi.

apa kabar hari ini, tanya seorang teman di awal pagi kapan hari. kota berkabut, kata saya di balik kaca gedung berlantai tinggi. sejak kapan kota itu berkabut, kamu yakin, tanyanya lagi. iyah, berkabut. bukan teman, itu bukan kabut, tapi pencemaran udara tingkat tinggi.

sebelas juta orang. beribu ribu kendaraan. dan hampir 50 pusat perbelanjaan. belum lagi ratusan gedung - gedung perkantoran, berlomba ketinggian dengan apartemen - apartemen bertebaran. satu sekat jalan, diistimewakan. katanya, untuk mengurangi kemacetan. tapi entah, mungkin malah mebuat kota itu semakin menjadi pesakitan.

dan saya, yang tengah terjebak dengan kemacetan, hanya bisa memandangi riuhnya luar dari balik kaca. tampak seorang bapakbapak tua, menampung air dengan topinya. saya terdiam, masih menunggu, apa yang akan dilakukan. mungkin dia tak menyadari matamata yang memperhatikannya. yang dia pedulikan hanya panas. dan berharap topi penuh air itu akan mendinginkan kepala yang mungkin terbeban oleh ruwetnya pikiran. bersandar pada gubuk kardus berjajar megahnya bangunan.

ayolah, kita sedikit bersenang-senang. ajak teman suatu petang. akan kubawa kamu ke pengujung kebun teh. menepi dari kota yang telah membuatmu sesak, sejenak. maka saya pun mengikutinya. saya telah kelelahan. tak banyak pilihan, mungkin kebun teh akan sedikit menyenangkan. tapi ternyata waktu tak mengijinkan. saya hanya singgah, dan selanjutnya, harus kembali menghadapi kenyataan. ah, susahnya hiburan di kota metropolitan.

saya ini manusia bumi. kelamaan disitu bisa membuat saya mati. saya masih merindu matahari, yang disana tak lagi bisa dinikmati. saya masih mencintai langit biru, bukan mendung abu - abu. saya masih mencintai senja, bukan hari ketika tiba - tiba malam menjelma. dan saya suka memandang bintang, yang tak bisa tergantikan neonneon terang.

karena itu, lagi-lagi saya kembali.

**thanks bek, dats, untuk kesediannya dan kesabarannya dengerin omelanomelan-ga-penting-tapi-sangat-mengganggu-itu.

10 comments:

gita said...

rimba polutan menciptakan manusia2 es tanpa rasa.
dan aku tdk prnh ingin berpindah kesana, biar di sini sajah di pantai sepi ini, kepunyaanku sendiri *weks..koment sok puitis iki*
welcome back wi *hugs*

bebek said...

alahh alaaah...
golek enak? emoh polusi? emoh hal2 sing ra enak? intine emoh masalah? yo mati wae ben ra ono masalah... minimal ndak ada lagi masalah dengan kehidupan..

venus said...

ketaknyamanan dan keruwetan yang kamu benci itu, dew..adalah harga yang harus kita bayar untuk segala kenyamanan yg kamu sadari atau tidak, ikut kamu nikmati. ngerti maksud gw gak?

gw suka liat bintang. tapi gw juga doyan menikmati gemerlap kota. oh, i love big cities!! :)

gimana donk ah ?!

b. gundul S. Farm said...

jakarta emang bukan yang baik untuk hidup, disana hanyalah tempat untuk mati perlahan.

ndog dan pentol said...

maap hati atas salah kata yang keluar tanpa arti
semuanya tidak seperti yang terbaca, hanya sedikit sinis memandang hidup keras di jakarta..
mati hanyalah ungkapan akan kerasnya perantauan..
perantauan pro jelek, pro ketidakmapanan, pro kelaparan..
yo koyo aku iki...
**official apology**

-FM- said...

hehe, aku malah lagi kangen2nya sama kota itu wi. bukan rimba polutannya yang pasti. :D

DeLaKeke said...

rimba polutan...
panas bgt, membuat hati ngga betah...

yoyok said...

tapi walo tertutup pekat asap
bintang-bintang masih bersinar ceria....

pagi hari said...

di beberapa bagian ibukota, masih ada kok senja senja menawan :)

ex-balinese said...

this is city where i live now, no choice, no another way, just try to survive, try how not to be beaten by this city but how to beat this city with all i have...
but i still need star, beach, wind and fresh air .... i need bali .... hope i will spend my rest of life in bali .......