Friday, March 02, 2007

tentang sistem

well, saya belom pernah sih berada di posisi kamu itu. dimana saya harus jadi orang yg nentuin nasib orang laen. but life will find the way, dew.


minggu yang berat buat saya. satu bulan ke depan terpaksa diawali oleh satu peristiwa yang tidak mengenakkan. saya harus mengambil keputusan, antara kebaikan untuk perusahaan atau, kebaikan untuk perasaan saya. memang keputusan itu tidak mutlak ada di tangan saya, tapi dengan mengantarkan seseorang ke proses pemutusan hubungan kerja dari perusahaan itu sama aja saya ikut andil menentukan nasib dia.

ah, tapi bukankah hukum kapitalis tidak lagi mengenal rasa enak dan ga enak. seperti pembicaraan dengan seorang teman, kosmosnya adalah keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan. jika tidak, disitulah memungkinkan adanya chaos. untuk menjaga keseimbangan tetap pada tempatnya, harus mengorbankan banyak hal. lagi2 masalah kepentingan. tidak ada jiwa, tidak ada hati, dan mungkin tidak ada tuhan. karena tuhan adalah uang. jika sudah seperti ini, apa masih bisa dikata takdir? sedangkan semua ini terjadi karena kepentingan kepentingan. invisible hand, huh?! dan secara tidak langsung, sayalah invisible hand itu sendiri.

dan ternyata benar. menjadi sadar itu capek, menjadi sadar itu melelahkan. tapi mungkin memang tidak ada kehidupan yang lebih mengesankan dari semua ini bukan? tidak naif, hidup tidak selalu harus melawan. seperti teman saya bilang, ada saatnya harus menjadi batu, dan ada saatnya menjadi air.

hahahha..salut saya sama kamu karena masih ngejalanin idup di dalem kemonotonan seperti kehidupan di denpasar dengan tetep punya kesadaran semacam itu. berarti kamu gak cocok idup di dalem sistem kapitalis.


dan saya hanya takut mati justru ketika saya masih bisa bernafas.

percakapan2 dengan kamu. terima kasih untuk menjadikan saya kertas untuk kamu tulisi satu waktu. btw, tidakkah kamu pikir url kita mirip? ah, sudahlah. saya pernah mengatakannya sebelumnya bukan?

12 comments:

crushdew said...

lakukan dengan hati, menurutku...
*wink*
mang minta pendapat?

rama said...

hehehe, ternyata ini temanmu yang bernama sama denganku. hihi, sepertinya aku kenal dee, mungkin dia temen SMPku dulu.
yah, tentang sistem, jadilah dirimu sendiri dee, aku tau kamu akan milih untuk jadi seperti apa...
setidaknya pilihan sendiri akan lebih menenangkan, just listen to your heart.

kenz said...

kmu HRD ya dew? saya lebih setuju dengan apa yang temanmu bilang itu : "but life will find the way"

tentang sistem.. tentang ekosistem.. dua hal dimana suatu hukum alam berjalan, dimana puluhan bayi penyu harus berlomba-lomba menuju bibir pantai, berlomba dengan waktu kehidupan dan kematian, dengan burung-burung yang siap memangsanya, dengan predator yang menunggunya.

siapakah invisible handnya? burung? predator? bukan juga diri kita?

*hehe.. tulisan namamu di pantai itu keren lho.. ;))

nananias said...

tergantung bagaimana seseorang memaknai nasib, i will say.

venus said...

hmmm...just follow your heart, baby :)

mata said...

soal tidak ada Tuhan ?
mata mungkin setuju :)

kucit said...

Jangan bimbang! Kesempatan untuk memerankan karakter "pembunuh berdarah dingin" hehehehe....

tenang..tapi nusuk dari belakang..hee..

The show must go on Wik..!
Kekekekeke....

MnX said...

udah lama gak main kesini..jadi gak tau kalo dewi dah jadi HRD ^_^

nasib orang lebih baik diputuskan wi. karena digantung itu lebih menyakitkan...

bebek said...

susah emang wi... dan pekewuh...

balung said...

sik, IMHO, keknya kamu udah pernah deh mengambil keputusan yang bakalan menentukan nasib seseorang. dan meskipun memberikan efek perasaan ga enak, tapi kamu baik2 saja pada akhirnya. jadi ya buatlah keputusan yang menurutmu paling baik.

terus, aku ga setuju bahwa menjadi sadar itu capek.

didats said...

wi,
gimana kalo elu yg keluar?
kan gag perlu pake pusing lagi... :D
hihihi....

*ngumpet di pojokan*

lavender said...

Dewi jadi HRD?? hihihi

akhirnya terlewat juga kan?? paling gak kamu tak lagi melihat selembar kertas HVS kosong yang membuat otakmu tak henti hentinya bertanya or "mencela"