Tuesday, November 20, 2007

tentang kisah ketinggalan

dan, peperanganpun telah usai. seperti pesan yang pernah kamu kirimkan padaku, i know, u know, we both know, that you always be fine. eventually...

ternyata peristiwa kemaren memang tak lebih dari sebuah lelucon yang mungkin memang tak lucu. seperti tontonan roman picisan, dimana akhir selalu saja dimenangkan oleh si bukan perkasa. mimikku memang tak pantas dijadikan korban memang, menuai belas kasihan. dan ceritapun lagilagi berlalu, satu layar tertutup, dan dibukalah lakon baru.

mungkin serupa perang - perang yang terdahulu. seperti kurusetra yang berakhir pilu. tak usahlah pikirkan itu pandawa dengan intriknya, kelicikan yang tak dikisahkan, dan dimaklumi oleh si dalang tukang cerita. dengan diserang seratus pasukan sudah membuatnya tercatat dalam kisah kehidupan. sejarah memang hanya milik sang pemenang, selebihnya, seperti aku dan kamu, hanya numpang.

itu kurusetra. lain cerita dengan barisan anak anak papa di irak sana. dunia kadang tidak adil, bahkan mungkin memang tak pernah adil. seperti (lagilagi) kurusetra, segelintir pandawa melawan seratusan kurawa. bagaimana bisa deretan rakyat jelata, disorongkan pucuk senjata oleh tentara. (mungkin) demi kedamaian nantinya mereka tukar nyawa, tapi lihat apa jadinya. sekian puluh ribu sudah melayang, tapi kedamaian masih juga berada di awangawang.

itu hanya beberapa, tak perlu jauhjauh, karena kisah serupa itu berceceran dimanamana. seperti kisah kita, aku dan kamu. mungkin hari ini perang kita telah usai. tapi bisa jadi, suatu hari, kita mulai lagi.

lucu, buat apa semua ini. toh, tak ada yang tertinggal, kecuali bekas sakit hati. maaf mungkin terlalu murah, untuk menebus amarah. tapi sudahlah, toh namamu juga sudah kuseka, dari deretan hurufhuruf di pantai kuta. jika tidak aku, mungkin ombak yang telah menelanmu. dan kuringkus cerita, kubungkus rasa yang dulu ada dengan kain kafan, dan kumasukkan kotak kenangan.

mungkin suatu hari, kita bisa lagi berhahahihi, pada tengah malam di tengah kota, meringkuk busuk di kedai kopi. tentu saja bukan untuk menyatukan cerita, melainkan kita hanya berbagi, kisah yang sudah terendapkan sekian lama lalu bersama sama tertawa, pada lelucon tidak lucu yang pernah ada. itu nanti, ketika ingusku tak lagi menyumbat aliran udara ke kepala. seperti hari ini.

apa yang tersisa dari peperangan? kecuali cerita, untuk nanti dikisahkan.

18 comments:

ndoro kakung said...

ya udah, kapan-kapan kita merendam kaki ke kali kuning aja ya. mau?

aprikot said...

lho!
aku ikut ndoro?

*lht komen di atas*

Orang Indonesia said...

Srikandi pandai meluluhlantak hati-hati terkesima. pandawa pun tak luput berha ha hi hi. tetapi si damai telah temukan kembali jiwa ksatrianya, come on, engkau tak lebih buruk dalam memanah, arjuna pun tak kuasa samain tepat anak panahmu. kutunggu engkau di kurusetra porakporanda ini.

venus said...

ngggg....

ga ngerti :D

tapi soal perang, aku setuju. apapun bentuknya, perang memang ga guna. iya apa iya?

sarah said...

*liat diatas* Setuju...
Mb'dewi.. apa kbr?? ^_^

dodi said...

dewi memang mantap!

mana alamatnya sini buat kirim kue hehehe

crushdew said...

non, membaca postinganmu ini seperti waktu menelan panjang tentang pesan-pesan singkat di antara kita... ada apa gerangan dirimu, sepertinya lama nian kita tak berbagi maki...

*kuingkari tak berkoman di postinganmu kali ini coz trentuh.

-Fitri Mohan- said...

yang paling susah setelah peperangan, menurutku, bagi yang terlibat di dalamnya, adalah menceritakannya dengan jernih. karena energi yang sudah habis. karena hati yang sudah perih.

(tapi aku salut. dewi melakukan itu semua dengan kejernihan yang luar biasa.)

rama said...

*devil mode: on*
Postingan yang paling jelek dari sebelum2nya, terlalu maksa... :)

masalah perang, ya itu emang disengaja, karena sang pemimpin perang memang ingin menorehkan nama dalam sejarah.

Kalau tak ingin nama hanya tersapu ombak seperti kau bilang, cobalah berbuat sesuatu yang besar, yang membuat orang terkenang.

sesuatu yang sangat baik, atau sesuatu yang sangat jahat.

Menjadi penulis besar dengan serius, menjadi presiden, menjadi serial killer, whatever, yang jelas ungkapkan identitasmu kepada publik. hihihi *devil mode: off*

Iman Brotoseno said...

Ya kita menjalani ' peperangan ' dalam hidup kita masing masing.
Bukan untuk diceritakan, bukan untuk ditangiskan, Biar menjadi sirna..

edratna said...

Bukankah setiap hari kita berperang? Dan yang paling sulit adalah memerangi diri sendiri?

Adalah hal wajar kadang kita mesti berperang (maksudnya berbeda pendapat) dengan orang lain, tapi sebaik-baiknya jika sudah sama-sama panas....endapkan dulu (kalau saya makan2 dulu, nonton, ke salon untuk pijat/creambath/luluran atau apa aja yang bikin badan segar)... lupakan...dan maju terus untuk hal-hal positif. Suatu ketika, kita bisa tersenyum geli, kenapa saat itu mesti berperang?

Anonymous said...

And so the truth is.. They can't steal the writer from you, :)

anton said...

perang juga meninggalkan utang. jangan lupa itu. :D

bonekabungamatahari said...

war can never make things rite..*sok2an pake englesh padahal kaga ngatri*....piss aja dah gw mah..*grinning*

-tikabanget- said...

yang tersisa dari peperangan?
ndak cuma kisah.
tapi juga pilu.
pembelajaran hidup.


"apapun yang menempa kita, selain bikin kita mati, cuma bakal bikin kita lebih kuat..." ....bagi yang mampu.. (sayah tambahin sendiri)

radi said...

nothing left but pain...tapi mati selalu berganti lahir..hidup kembali semi...semoga.

hanny said...

pasca perang, duka, perih, sakit hati... ternyata bisa dilukiskan dengan kata-kata seindah ini...

zen said...

apa yang tersisa dari peperangan? dendam, ya... dendam. terlebih jika peperangan itu diakhiri dengan cara yang tidak fair. mari kita sambut kedatangan dendam di dunia blog dengan tangan terbuka. dengan muka menghadap muka.