Wednesday, May 21, 2008

tentang kenapa

apa perlunya tanya, jika jawaban sudah tidak ada lagi artinya.


benar katamu. itu tak akan merubah rasa. terima kasih untuk ada disana, mengangkat telepon saya, mendengarkan saya bercerita, meski pembicaraan kita diawali dengan terbata. kita sudah sangat lama tidak bersua, dan lagilagi memang benar katamu, saya bukanlah perempuan yang gampang menjadi gila.

9 comments:

nananias said...

lho? bukannya dari dulu kamu gila?

gampang gila itu jelas ndak masuk kamusmu :P :P

aprikot said...

hahahhahaha nana!!!

slapping banget ya buw?

Seseorang said...

Peluk untuk Dewi.
Erat.

Arie said...

kenapa oh kenapa si dewi jadi menggila hahahahahaha

Yudhis said...

hm.. kota tua, sepotong senja di sunda kelapa, serta jalan-jalan malam di angkringan jln jaksa. tinggal pilih, dan tinggal tentukan mana yang akan kamu sambangi. semua sudah menanti, dan siap merayakan errr...*mikir sik*, yo wes ngono ae sik lah. huahuahuhauahua

eh, golok, samurai, dan butterfly knife jangan lupa! :P

winardi said...

mbok dewi kenapa to mbok ...

zen said...

@winardi: mbak dewi lagi liat2 peta sekarang!

xixixixix.... :P

Twili9htcloud said...

Mau kemana nduk?

beer delivery boy said...

lg sedih ya..?? hope u're fine.