Wednesday, December 20, 2006

tentang kerelaan

aduh, kamu tau tak. aku sedang rindu hujan!!

katanya, aku dijanjikan hujan pada bulan sebelumnya. memang sih terpenuhi, tapi tetap saja yang diberikan kurang. nah, apalagi sekarang, sudah hampir akhir bulan, tapi kotaku masih saja mentereng dengan panas yang tak berkesudahan.

mau kusalahkan siapa coba, kalau janji tak tertepati?

kamu? sedang kamu hanya berjanji atas nama hukum alam yang ketinggalan. bulan segini sampai bulan segini akan turun hujan dikotamu, katamu saat itu. iyah, kalau hanya itu akupun tau. tapi, apa kamu sudah memperhitungkan sekian masa yang terlewat dan kejadian - kejadian yang tercatat? hukum itu hanya berlaku, jika saja hutanku masih sebanyak dulu. jika saja pohonpohon masih tinggi menjulang tak habis tertebang. jika saja tak banyak bangunan menghabiskan lahan. jika tak ada pabrik - pabrik bertebaran. tidak juga majunya teknologi yang mungkin menyinggung keegoisan alam. jika saja, jika saja, jika saja ini adalah sekian tau lalu yang tinggal kenangan.

menyebalkan yah? padahal kamu tau tak, hujan itu benar benar menyenangkan. kamu pernah melihatnya? kamu tak perlu meyentuhnya untuk bisa terpesona. lihat saja. perhatikan setiap tetesan air yang menempel pada kaca jendela. indah bukan? mengalir turun perlahan, rasakan seolah olah kamu adalah dia. perlu kerelaan besar untuk melepaskan diri dari awan, dan jatuh ke tanah seperti sebah kebiasaan.

pernahkah terpikir, bisa saja awan tak ingin turun sebagai hujan khan? hanya tergantung disana dan menyaksikan semuanya seolah halhal disini adalah tontonan. hanya saja hukum memaksanya demikian. tertahan sebagai awan, turun sebagi hujan, sebelum akhirnya kembali lagi tercebur dalam perjalanan. tak usah bertanya, karena memang itu sudah jalannya.

menurutmu, kerelaan seperti itukah bentuk kelemahan? menerima segala sesuatu sebagai suatu keharusan, meski mungkin dengan paksaan. atau justru itu bentuk sebuah ketegaran, berkompromi dan berdamai dari hal hal yang mungkin tidak diinginkan.

11 comments:

Fely said...

kata... (sapa, yah? aku lupa.....)Doa kebijaksanaan (apa kerelaan ya?):
Tuhan berikan kami
kekuatan untuk mengubah hal-hal yang dapat kami ubah,
kerelaan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kami ubah,
serta kebijaksanaan untuk memahami perbedaan diantara keduanya
*sok teu mode on*

pria.purnama said...

aku rela kok jadi seperti ini. tampan dan keren. jadi tenang saja yah :)

ramacreebo said...
This comment has been removed by a blog administrator.
rama said...

aku juga rela dee...
rela menghina semua postinganmu, dan bijaksana untuk menyikapi hinaanmu atas postinganku :P

venus said...

aku awan gelap yang melayang -layang tak tau arah di langit menghitam. sore nanti aku akan turun sebagai hujan *haiyah, kok elek banget sih puisine? wakakaka..

rinnie said...

waaaaahhh... aku kangen "Dia"
aku tidak lagi kangen hujan dee, karena tiap hari dia menyambangi kotaku dengan butir-butir air dari atas sana...

gita said...

belum kuuraikan dgn baik buw

crushdew said...

aku ingin merubah kerelaan iyuh sebagai wujud kesempurnaanku..

hayah, nice to catch u again buw...

fiadi said...

kerelaan sejati susah ya mbakyu, tapi kalau yang semu bertebaran dimana-mana :)

mata said...

AKU TIDAK SUKA HUJAN !!!
aku lebih suka gerimis yang riwis riwis atis. sebab gerimis tidak membutuhkan payung atau mantel.

berbeda dengan hujan yang sangat deras. membasahi tanah hingga terkadang timbul genangan. kotor. jorok. berlumpur. coklat. kehitaman. seperti kepedihan yang terus terulang. seakan menyimpan sebuah rahasia yang terpendam.

jt said...

"kerelaan seperti itukah bentuk kelemahan? menerima segala sesuatu sebagai suatu keharusan, meski mungkin dengan paksaan. atau justru itu bentuk sebuah ketegaran, berkompromi dan berdamai dari hal hal yang mungkin tidak diinginkan."

jangan-jangan yang miss D sebut itu koin yang sama. kayak orang yang teliti itu biasanya lambat dalam bekerja. orang yang rela biasanya tegar?