Tuesday, September 12, 2006

tentang catatan untuk teman

semalam, aku memimpikanmu, dengan catatancatatan usang berserakan di satu ruangan. sempit, hanya dengan satu jendela seperti yang kamu ceritakan.

dan kamu tau pasti, aku tak akan bisa berkata - kata untuk menceritakan tentang mimpi, kecuali menuliskannya. begitulah kita, menulis, atau hanya akan hilang tertelan jaman. tidak pula memeluk erat, memberi penghiburan atas kesedihan entah. tidak, aku hanya akan menemaimu dalam diam, menikmati senja, pada sisi hutan yang berseberangan. dengan keliaran pikiran.

iya, pikiran. apalagi yang kita punya selain kesadaran untuk terus berfikir? karena kebebasan itu absurd, dan kita mulai lelah untuk mengumandangkannya. meneriakkan, sedangkan suara bersaing dengan ego untuk tidak mendengarkan. waktu memang semakin jahanam. dan suara kata katamu, semakin terngiang dalam angan. memimpikanmu, seakan membangunkanku dari tidur yang aman.

siyalan, kamu memang siyalan. meracuni duniaku yang penuh kenyamanan. haha, kenyamanan? jangan tertawa. kita samasama tau, kata itu hanya seperti utopia yang mendengung di kepala. karena justru itu mematikan, dan hanya membuat kita tak jauh beda dengan orang - orang di luaran sana, tenggalam dalam penjajahan.

dunia memang edan, dan kita, kamu, yang menggeliat adalah orang - orang dengan banyak pilihan, tapi tak ada disana kata diam. karena ketidakadilan berserakan di jalan. bukan karena kita ingin menjadi pahlawan, tapi kita sudah jengah dengan kekuasaan. sudah terlalu banyak diantara kita yang menjadi korban, serupa piala giliran dari tangan - tangan tiran.

kamu tau, teman? semua ini menyedihkan. apalagi ketika tersadar, kitapun sedang berada pada hutan yang menyesatkan. seperti sebuah labirin, apapun yang kita benturkan, seperti menabrak dinding - dinding diam. kita semakin tenggelam pada kebisuan. dan asa, semakin samar ditelan kediktaktoran.

tapi, kamu juga tau, kita tak mati semudah itu. sesekali mungkin kita tergoyah, tapi itu tak kan membuat kita lelah. karena mimpi belum terselesaikan, mimpi akan kemerdekaan.

hutan ini seperti medan pertempuran,
dan kita, bukan pecundang.


**untuk teman di hutan, yang sedang kebingungan. janga lupa, dunia masih berupa koma.

8 comments:

-gita- said...

selain koma, dunia juga abu-abu.

lavender said...

kalo dunia tanpa koma, itu cuman kata sinetron...heheh

venus said...

betul,dew. cuma koma. kita gak tau kapan akan berhenti. atau harus terhenti. oiya, soal sesetan yg kamu tanyakan, jawabnya simple banget. Mars. if u know what i mean. heehhehe...

b. gundul S. Farm said...

git, aku ga setuju kalo dunia tuh abu-abu. wong warna-warni gini lhooo.... ( kecuali butawarna diing )

yoyok said...

Sedikit,
Kami hanya sedikit, kami sekumpulan saudara, dan dia yang menumpahkan darahnya bersamaku hari ini akan menjadi saudaraku

Muhammad Mufti said...

Yang jelas tu dari dulu sampe sekarang "Dunia Dalam Berita".

ramacreebo said...

setubuh dee (red: bahasa intim dari setuju)..hehe
btw, postingan sekarang jarang karena berusaha mosting sesuatu yang sangat sangat bermutu seperti tulisan ini ya dee?
salut dah!

mil said...

dan aku lebih senang melihatnya seperti ini, sobat. kalau dunia tanpa koma, aduh jadi muak dan mual lihatnya. seperti di kotak listrik bergambar itu, semua jadi artifisal dan poppish.

-sori, komenku oot deh kayaknya hehehe-