Friday, February 17, 2006

tentang adjustment

+ kamu tu, tegapin dikit napa? jangan bongkok gituh.
- ini juga udah ditegap2in
+ kebiasaan tuh!


upss. bongkok karena kebiasaan? jadi, saya membiasakan diri untuk menjadi bongkok, gituh? bongkok tidak pernah terdengar bagus, tapi knapa dia bilang saya sengaja membuat bongkok? huh. enak ajah ngata2in.

eh, bentar. apa benar saya emang sengaja? sengaja untuk membongkokkan badan saya? hm. let's flash back. waktu masih kecil, memang saya punya kecenderungan untuk minder dengan tinggi badan saya. gimana tidak, klo saya selalu jauh lebih tinggi dibanding teman2 saya yang lain, bahkan diantara teman2 cowok, saya tetap paling tinggi. ditambah dengan postur tubuh kurus, lurus, tipis, dan misal diterpa angin, langsung terbang. huehehehe. dibilang bongsor seh nggak, orang meskipun tinggi, badan saya tidak besar. dan keminderan ini berlangsung sampe dengan es em pe. suer, saya minder abis. akibatnya, sengaja atau tidak, saya akhirnya berusaha untuk menyesuaikan dengan lingkungan sekitar, dengan cara mengurangi ketegapan badan saya. yup, istilahnya agak mbungkuk. bisa dibayangkan khan, udah tinggi, kurus, tipis, mbungkuk lagi? huehhh.

pas menginjak sma, saya agak senang ngeliat teman2 sekelas. krn ternyata, teman2 sekelas saya lumayan tinggi2, meski tetap, saya paling tinggi (diantara cewenya). klo dulu teman2 saya kebanyakan se-bahu, sekarang yah..sekuping saya lah. tak terpaut jauh khan? minder sedikit berkurang, tapi tak juga pede. saya tak berani pake hak tinggi. maksimal hak yang saya pakai hanya 3cm. sampai suatu saat ada teman saya yang seorang model bilang gini ke saya,

+ knapa kamu ga coba aja jadi model?
+ kamu khan tinggi, udah gitu proporsional, dan wajah kamu khan indonesia banget.


waktu itu, krn pengaruh hormon, tubuh saya ga lagi setipis pas jaman es em pe. dah mulai2 kek wanita dewasa lah. hihihi. dan bisa dibayangin ga, gimana perasaan saya denger kata temen saya itu. saya jadi model?? bayangin berlenggak lenggok di cat-walk, pake baju sexy, trus trus dikelilingi banyak fans cowo? huehehehe. terdengar menarik sekali khan? yup, memang. tapi saya tak pernah tertarik untuk menjadi model. bahkan ketika teman saya itu menawari untuk join agency tempat dia bernaung, sayapun menolak. alasannya? saya tak suka jadi model. membayangkan hidup seperti model yg musti begini, begitu, diet ini, bla bla bla aja sudah membuat saya pusing.

tapi kata2 teman saya itu, sedikit banyak, merubah pandangan hidup saya. jika selama ini saya tak pernah bangga dengan tinggi sekitar 170 sekian sekian, sejak mendengar kata2 teman saya ( itu yang pertama kali saya dengar, setelahnya ada beberapa orang yang berpendapat sama *narsis mode on* ), minder saya benar2 ilang. dan saya mulai merasa pede, mulai mensyukuri postur tubuh tinggi ini. mulai berani memakai sepatu & sandal berhak sampai 7 cm (selebihnya, saya tetap tak berani, takut jatuh, hihi), mulai belajar untuk tidak mbungkuk. untunglah bongkok saya ini ga permanen, hanya muncul kadang2 saja. dan klo kebetulan muncul pas didepan sahabat saya, paling dia ngomel2 seperti diatas, sambil pukul2 punggung saya.

hihihi. lucu yah? seberapa sering tanpa sadar kita melakukan hal2 seperti ini. meng-adjust (atau lebih tepatnya, men-down grade) anugrah yang kita punya, hanya karena kita berada di tengah2 lingkungan yang menganggap hal itu sebagai suatu keanehan. hanya karena kita ingin dianggap normal. hanya karena kita ingin menjadi sama. bukankah harusnya kita bangga, mensyukuri apa yang kita miliki dan mengganti kata aneh itu menjadi kata istimewa. seberapa lama waktu yang kita perlukan untuk menyadari bahwa perbedaan yang melekat pada kita itu merupakan suatu anugrah? saya perlu waktu yang lama sekali. lebih dari 20 tahun. dan tetap, saya masih belajar untuk itu.

**hihihi, ini sebenarnya postingan narsis terselubung. jangan protes!!!

5 comments:

nananias said...

otak kita udah terbiasa menerima kalo yang lain itu aneh dan yang aneh itu tidak pada tempatnya dan seringkali dianggap salah. hih.

nah gitu dong, kalo ama gue juga ngag usah minder segala, gue tau kok lo masih berusaha mensejajarkan diri ama gue mwihihihihihi...

blossom said...

hah begitulah penyesuaian penyesuaian dan penyesuaian, kehidupan itu memang sprti itu adanya, slama esensi diri sndiri masih dipegang, dan tujuan hidup tidak menjadi absurd sayah rasa penyesuaian mengapa tidak..ah wi, klo msejajarkan diri dgn artis kita itu, sprtinya kok kita msih hrus melebarkan langkah bwt mengejarnya yah *lirik nana* hahahahha

b. gundul S. Farm said...

ga perlu adjustment asal kita nyaman dengan siapa kita sebenernya...

vnuzday said...

Perasaan kemarin aku lihat tiang listrik yang kecil tinggi... tapi dimana ya??
Wakakakkaka...

Seharusnya kamu mensyukuri kelebihan kamu itu, banyak lho yang pengen punya tinggi 170 sekian kaya kamu.

lek wong jowo ngarani koyo ting listrik...

*ngilang*

Luigi said...

Just stand out from the crowd and make yourself really outstanding, not only from outter loks but also the inner follows:) - Only if you allow yourself to be unique [as everyone else is].

Nice to have found your blog and surely I'd comeback for more:)